![]() |
| Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa memberikan sambutan pada Talkshow “AI untuk Anak Bangsa”, di Studio Utama Unhas TV, Gedung BRI Microfinance Lantai 2, Senin, 20 April 2026. (Foto: Humas Unhas) |
------
Selasa, 21 April 2026
Mahasiswa Harus Manfaatkan AI Secara Bijak
untuk Masa Depan
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA).
Perkembangan Artificial Intelligence tidak lagi sekadar wacana teknologi,
melainkan telah menjadi kekuatan yang membentuk ulang cara manusia
berkomunikasi, memproduksi informasi, hingga membangun opini publik.
Di tengah arus ini, batas antara fakta dan
manipulasi kian tipis, memunculkan pertanyaan mendasar tentang etika dan
perlindungan hukum.
Dalam praktiknya, AI memungkinkan
otomatisasi produksi konten, personalisasi pesan, hingga penciptaan realitas
sintetis seperti deepfake. Kemudahan ini membuka peluang besar bagi industri
media dan komunikasi, namun sekaligus menghadirkan risiko baru, mulai dari
disinformasi hingga pelanggaran privasi.
Persoalan tersebut menuntut pendekatan
yang tidak semata teknologis, tetapi juga normatif. Perspektif etika menjadi
penting untuk memastikan bahwa penggunaan AI tetap berpijak pada nilai-nilai
kebenaran, transparansi, dan tanggung jawab.
Di sisi lain, kerangka hukum dituntut
adaptif agar mampu mengimbangi kecepatan inovasi yang terus berkembang.
Kesadaran akan kompleksitas tersebut
mendorong berbagai pihak untuk membuka ruang dialog publik. Salah satunya
melalui talkshow bertajuk “AI untuk Anak Bangsa” yang diselenggarakan oleh
Unhas TV bekerja sama dengan TV Tempo, berlangsung di Studio Utama Unhas TV,
Gedung BRI Microfinance Lantai 2, Senin, 20 April 2026.
Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa,
menjelaskan, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai ruang produksi
pengetahuan sekaligus penjaga nilai. Unhas menempatkan literasi digital sebagai
bagian penting dalam membekali mahasiswa menghadapi disrupsi teknologi.
Dirinya menegaskan pentingnya keseimbangan
antara penguasaan teknologi dan kesadaran etis.
“Mahasiswa sebagai generasi muda harus
mampu memahami dan memanfaatkan teknologi ini secara bijak untuk masa depan,”
jelas Prof JJ, sapaan akrab Prof Jamaluddin Jompa.
Dari sisi industri media, Anton Aprianto
selaku Direktur TV Tempo memandang transformasi berbasis AI sebagai
keniscayaan. Menurutnya, adaptasi terhadap teknologi harus berjalan seiring
dengan peningkatan literasi publik. Untuk itu, dirinya menekankan pentingnya
kesadaran kolektif dalam menyikapi disrupsi ini.
“AI memiliki banyak manfaat, namun juga
menghadirkan tantangan yang harus dipahami bersama. Melalui forum ini, kami
ingin membangun kesadaran publik yang lebih luas,” jelas Anton.
Setelah sambutan, kemudian dilanjutkan
dengan paparan dari para narasumber yakni Prof Yudho Giri Sucahyo (Guru Besar
Fakultas Ilmu Komputer UI), Dr Hasrullah (Dosen Ilmu Komunikasi), dan M.Reza
Suarga (Kreator Konten AI).
Dalam kesempatan tersebut, para narasumber
menyorot pesatnya perkembangan teknologi AI yang sebenarnya telah ada sejak
tahun 1980-an. Namun, baru mengalami perkembangan signifikan dan digunakan
secara luas di era digital saat ini. (kia)
