Buka Puasa Bersama, Merajut Cerita, Menyulam Kebersamaan


Wajah-wajah yang mungkin jarang bertemu di hari biasa, mendadak akrab dalam cahaya Ramadhan. Ada senyum yang tulus. Ada tawa yang lepas. Ada canda yang mengalir tanpa beban. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)


------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 27 Februari 2026

 

Buka Puasa Bersama, Merajut Cerita, Menyulam Kebersamaan

 

Buka puasa bersama bukan hanya soal makan dan minum. Ia bukan sekadar menanti azan Magrib lalu menyentuh kurma dan meneguk air pertama.

Di sana ada cerita. Di sana ada suasana. Di sana ada kisah yang tumbuh dari hati yang sama-sama sedang belajar menahan diri.

Di meja-meja sederhana, di serambi masjid, atau di sudut rumah sahabat, suasana kebersamaan terasa begitu hangat.

Wajah-wajah yang mungkin jarang bertemu di hari biasa, mendadak akrab dalam cahaya Ramadhan. Ada senyum yang tulus. Ada tawa yang lepas. Ada canda yang mengalir tanpa beban.

Ngopi selepas berbuka, sambil angkat kaki kanan di atas lutut kiri, menjadi pemandangan yang akrab. Cerita demi cerita mengalir. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang kenangan masa lalu. Tentang rencana masa depan. Semua terasa ringan, karena dibingkai oleh kebersamaan.

Saling bertanya kabar menjadi pembuka yang sederhana namun bermakna.

“Bagaimana puasanya?” “Sehat semua di rumah?” Lalu pertanyaan yang khas Ramadhan pun hadir, “Sudah berapa juz bacaan Qur’an-nya?”

Bukan untuk membandingkan, tetapi untuk saling menyemangati. Agar yang tertinggal terpacu, dan yang sudah melangkah lebih jauh tetap rendah hati.

Ada pula cerita tentang aktivitas harian. Tentang rutinitas yang padat, tentang tantangan yang dihadapi, tentang upaya menjaga istiqamah di tengah kesibukan.

Dalam obrolan itu, kita saling menguatkan. Saling mengingatkan bahwa Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki diri.

Buka puasa bersama pada akhirnya adalah ruang silaturrahim. Ruang untuk membersihkan hati dari prasangka, dari jarak yang mungkin sempat tercipta. Di sela sendok yang beradu dan gelas yang berdering, persaudaraan diteguhkan kembali.

Ramadhan menghadirkan kita bukan hanya sebagai orang-orang yang berpuasa, tetapi sebagai sahabat yang saling menjaga.

Dan di setiap buka puasa bersama, ada harapan yang sama: semoga kebersamaan ini tak hanya hadir di bulan suci, tetapi terus hidup dalam hari-hari setelahnya. (asnawin aminuddin)



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama