![]() |
| Ada suasana hangat yang tidak selalu kita rasakan di bulan lain. Ramadhan seperti mengetuk sisi baik dalam diri manusia yang kadang tertutup kesibukan. |
-----
Kamis, 19 Februari 2026
Ramadhan Kini Hadir Menyapa Jiwa
Oleh: Ahmad Razak
(Dosen Fakultas Psikologi, Universitas
Negeri Makassar)
Ramadhan kini hadir lagi di tengah hidup
kita yang serba cepat. Pekerjaan menumpuk, notifikasi tak henti, pikiran penuh
urusan dunia. Tiba-tiba terdengar adzan
pertama berkumandang di bulan Ramadhan, dan hati seperti diingatkan:
“Ada yang lebih penting dari semua ini.”
Ramadhan datang bukan hanya membawa jadwal
puasa, tapi membawa kesempatan memperbaiki diri.
Banyak orang merasakan Ramadhan seperti
jeda yang menenangkan. Siang hari menahan lapar, tapi justru hati terasa lebih
ringan. Malam hari tarawih, walau kaki pegal, tapi jiwa terasa lapang.
Seolah-olah ramadhan berkata pelan: hidup bukan hanya tentang mengejar, tapi
juga tentang kembali.
Suatu ketika ada seorang ayah yang
biasanya sibuk bekerja hingga larut malam. Anaknya jarang melihatnya di rumah
sebelum tidur. Tapi saat Ramadhan, sang ayah pulang lebih cepat agar bisa
berbuka bersama.
Hari pertama, anaknya bertanya polos,
“Ayah kenapa sekarang sering di rumah?” Ayahnya tersenyum, “Karena Ramadhan.”
Anak itu lalu berkata, “Kalau begitu, semoga Ramadhan lama ya, Yah.”
Ayah itu terdiam. Ia sadar: selama ini ia
terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa kebersamaan keluarga, juga
ibadah. Ramadhan mengembalikan prioritasnya.
Ramadhan memang mengubah ritme hidup kita.
Masjid yang biasanya sepi jadi ramai. Orang yang jarang mengaji jadi sering
membaca Al-Qur’an. Tangan yang pelit jadi ringan bersedekah.
Ada suasana hangat yang tidak selalu kita
rasakan di bulan lain. Ramadhan seperti mengetuk sisi baik dalam diri manusia
yang kadang tertutup kesibukan.
Namun di Ramadhan juga punya tantangan.
Kadang kita lebih sibuk memikirkan menu berbuka daripada makna puasa. Lebih
fokus membuat konten Ramadhan dibanding memperbaiki diri. Lebih heboh belanja
daripada memperbanyak doa. Ramadhan bisa berubah jadi ramai di luar, tapi sepi
di dalam jiwa.
Ada kisah sederhana tentang seorang nenek
di kampung. Ia tidak paham teori agama yang rumit. Setiap Ramadhan, ia hanya
melakukan tiga hal: puasa penuh, shalat tepat waktu, dan memasak sedikit
makanan untuk dibagikan ke tetangga.
Suatu hari cucunya bertanya, “Nenek tidak
capek masak terus?” Nenek menjawab, “Kalau orang lain senang karena makanan
kita, puasa kita jadi lebih manis.”
Kalimat sederhana itu menyimpan hikmah
besar: Ramadhan bukan hanya menahan diri, tapi juga membahagiakan orang lain.
Ramadhan juga sering membuat kita lebih
peka. Saat lapar di siang hari, kita teringat orang yang lapar setiap hari.
Saat haus, kita ingat mereka yang kekurangan air. Puasa diam-diam melatih
empati. Kita belajar bahwa nikmat yang biasa ternyata luar biasa.
Seorang guru pernah bercerita. Muridnya
yang terkenal nakal tiba-tiba berubah di bulan Ramadhan. Ia lebih sopan, rajin
shalat, dan tidak berkelahi. Guru itu bertanya, “Kenapa kamu beda sekali di
bulan ini?” Anak itu menjawab jujur, “Saya takut puasa saya rusak, Bu.”
Guru itu tersenyum. Ia sadar, kesadaran
sederhana bisa menahan perilaku yang tak mampu ditahan oleh hukuman. Ramadhan
mendidik dari dalam.
Begitulah Ramadhan kini hadir di
tengah-tengah zaman kita, zaman digital, zaman cepat, zaman penuh distraksi.
Tapi kebutuhan manusia tetap sama, ingin tenang, ingin dekat dengan Tuhan,
ingin hidup lebih bermakna. Ramadhan datang memenuhi kebutuhan itu.
Ramadhan seperti tamu yang setiap tahun
mengetuk pintu hati kita. Ia tidak memaksa, hanya mengajak. Ia tidak menghukum,
hanya mengingatkan. Ia tidak menuntut kesempurnaan, hanya meminta kesungguhan.
Pertanyaan sederhana yang muncul adalah:
apakah kita hanya menjalani puasa, atau benar-benar belajar darinya? Karena Ramadhan
bukan hanya tentang satu bulan yang suci, tetapi tentang hati yang berubah
setelahnya.
Semoga Ramadhan yang hadir kali ini tidak
hanya lewat di kalender, tetapi menetap dalam karakter. Tidak hanya terasa di
suasana, tetapi hidup dalam jiwa, dan tidak hanya kita jalani, tetapi kita
maknai. Wallahu a’lam. Salamakki’.***

