Ramadhan adalah Bulan Membaca

Ramadhan yang kita jalani hari-hari ini bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah bulan istimewa, bulan yang memiliki hubungan yang sangat kuat dengan satu hal yang sering kita lupakan hari ini: membaca. (int)


-----

PEDOMAN KARYA 

Jumat, 20 Februari 2026


Kultum Ramadhan 3:


Ramadhan adalah Bulan Membaca


Oleh: Furqan Mawardi

(Muballigh Akar Rumput)


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kita umur, kesehatan, dan kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ramadhan yang kita jalani hari-hari ini bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah bulan istimewa, bulan yang memiliki hubungan yang sangat kuat dengan satu hal yang sering kita lupakan hari ini: membaca.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”

(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini memberi pesan yang sangat jelas. Keistimewaan Ramadhan bukan hanya karena puasa, tetapi karena Al-Qur’an. Karena itu, para ulama kita terdahulu menjadikan Ramadhan sebagai musim membaca.

Seperti kisah Imam Malik yang menghentikan kajian rutin majelis haditsnya di bulan Ramadhan, lalu fokus membaca Al-Qur’an. Demikian pula Imam Syafi’i yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an puluhan kali selama ramadhan. 

Mengapa mereka begitu dekat dengan Al-Qur’an di bulan Ramadhan? Karena mereka memahami bahwa Ramadhan adalah bulan kembali kepada wahyu.

Jamaah sekalian yang berbahagia,

Menarik untuk kita renungkan. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ bukan perintah shalat, bukan perintah puasa, tetapi satu kata yang sangat kuat yakni Iqra’, Bacalah.

Islam hadir dimulai dengan perintah membaca. Peradaban Islam tumbuh karena membaca. Umat Islam pernah memimpin dunia karena budaya dan cinta literasi yang kuat.

Namun hari ini, kita harus jujur kepada diri kita masing-masing. Kita lebih sering membaca notifikasi daripada membaca Al-Qur’an. Lebih cepat membuka media sosial daripada membuka mushaf al Qur’an. Sering waktu kita berjam-jam habis hanya di depan layar, tetapi beberapa menit saja terasa berat untuk membaca ayat-ayat Allah. 

Di sinilah Ramadhan hadir sebagai pengingat. Ramadhan seolah berkata kepada kita:

Kembalilah membaca. Kembalilah kepada Al-Qur’an. Kembalilah kepada sumber cahaya kehidupan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Namun membaca Al-Qur’an bukan sekadar mengejar target khatam. Yang lebih penting adalah membaca dengan hati. Boleh jadi kita membaca satu juz, tetapi tidak ada perubahan dalam diri. Tetapi boleh jadi seseorang hanya membaca beberapa ayat, lalu ia menangis, merenung, dan berubah.

Karena tujuan Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi untuk:

Dipahami maknanya

Diresapi pesannya

Diamalkan dalam kehidupan

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulai kebiasaan ini. Luangkan waktu setelah shalat, setelah sahur, atau sebelum berbuka. Jadikan tilawah sebagai bagian dari rutinitas harian, bukan sekadar kegiatan sesekali.

Jamaah sekalian yang berbahagia,

Ramadhan juga harus menjadi momentum membangun budaya membaca di keluarga kita. Anak-anak perlu melihat orang tuanya membuka mushaf. Rumah-rumah kita perlu hidup dengan suara Al-Qur’an. Karena rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur’an adalah rumah yang dipenuhi keberkahan dan ketenangan.

Dan satu hal yang tidak kalah penting, Ramadhan juga mengajarkan kita untuk membaca diri sendiri.

Membaca:

Sudah sejauh mana kualitas shalat kita

Sudah sejauh mana kesabaran kita

Sudah sejauh mana hati kita dekat dengan Allah

Sebab Al-Qur’an sejatinya adalah cermin. Semakin sering kita membacanya, semakin kita mengenal diri kita

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum kembali menjadi umat yang membaca. Jangan biarkan hari berlalu tanpa tilawah. Jangan biarkan Ramadhan pergi tanpa kedekatan kita dengan Al-Qur’an. Siapa tahu, satu ayat yang kita baca dengan penuh penghayatan menjadi sebab Allah mengubah hati kita. Siapa tahu, satu halaman yang kita baca menjadi cahaya di alam kubur kita kelak.

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai Al-Qur’an, yang lisannya terbiasa dengan tilawah, yang hatinya hidup dengan tadabbur, dan yang hidupnya dipandu oleh petunjuk Allah.

Sebagai penutup mari kita berdoa:

Ya Allah, jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hati kami, penuntun dalam hidup kami, dan penolong bagi kami di hari akhir nanti.

Bimbing kami agar mencintai Al-Qur’an, membaca, memahami, dan mengamalkannya sepanjang hidup kami.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama