-----
Kamis, 19 Februari 2026
Kultum Ramadhan 2:
Ramadhan adalah Madrasah Pengendalian Diri
Oleh: Furqan Mawardi
(Muballigh Akar Rumput)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang kembali mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ï·º, teladan terbaik dalam kesabaran dan pengendalian diri.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ramadhan bukan sekadar perubahan waktu kita makan dan minum. Ramadhan merupakan madrasah kehidupan dimana kita mendapatkan pendidikan langsung dari Allah untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih shabar, dan lebih mampu mengendalikan diri.
Jika kita renungkan, sebenarnya inti dari kita berpuasa adalah pengendalian diri. Kita mampu menahan lapar, padahal makanan tersedia. Kita mampu menahan haus, padahal air ada di depan mata. Kita mampu menahan syahwat, padahal istri kita sah.
Mengapa kita bisa melakukan hal tersebut? Karena kita sadar Allah melihat kita.
Di sinilah pendidikan terbesar Ramadhan, yakni Puasa yang melatih kita untuk bersikap jujur, bahkan ketika tidak ada manusia yang mengawasi. Inilah yang disebut Rasulullah ï·º dalam hadits qudsi:
“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jamaah sekalian yang dimuliakan Allah,
Namun pengendalian diri dalam Ramadhan tidak berhenti pada menahan lapar dan haus saja. Namun yang lebih berat adalah kemampuan mengendalikan diri dalam beberapa hal, di antaranya: (a) Lisan dari ghibah dan kata-kata yang menyakitkan, (b) Emosi dari kemarahan dan kesombongan, (c) Mata dari hal yang tidak pantas untuk dilihat, dan (d) Hati dari sifat iri, dengki, dan prasangka buruk lainnya.
Rasulullah ï·º mengingatkan: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Makna dari hadis nabi tersebut adalah bagaimana nilai puasa kita bukan hanya di perut yang kosong, tetapi di jiwa yang terjaga.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di zaman sekarang, tantangan terbesar manusia bukan lagi kekurangan, tetapi ketidakmampuan menahan diri. Segala sesuatu serba instan, emosi mudah meledak. Saat ini media sosial membuat lisan kita bebas tanpa batas.
Karena itu, Ramadhan hadir sebagai madrasah pengendalian diri. Menahan diri dari balas komentar yang menyakitkan. Menahan diri dari kemarahan. Menahan diri dari keinginan yang berlebihan. Belajar sabar, tenang, dan bijak dalam bersikap
Jika selama Ramadhan kita berhasil mengendalikan diri, maka sesungguhnya kita sedang membangun karakter takwa dalam kehidupan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai latihan besar untuk menguasai diri kita sendiri. Karena orang yang kuat bukan yang menang dalam pertengkaran, tetapi yang mampu menahan amarah dan hawa nafsunya.
Semoga setelah Ramadhan, kita menjadi pribadi yang lebih shabar dalam menghadapi masalah, lebih bijak dalam berbicara, dan lebih tenang dalam menjalani kehidupan.
Sebagai penutup mari kita berdoa bersama :
Ya Allah, didiklah hati kami di bulan Ramadhan ini menjai hati yang lebih tenang dalam setiap keadaan. Ajari kami untuk shabar, menahan diri, dan mengendalikan hawa nafsu kami. Jadikan Ramadhan sebagai madrasah yang melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa.Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

