------
PEDOMAN KARYA
Selasa, 17 Februari 2026
Wajah Tionghoa
Makassar dalam Cermin Kebhinekaan
Oleh: Yudhistira Sukatanya
(Penulis, Sutradara Teater)
Langit Makassar yang warnanya perlahan
melunak menuju jingga, tak berhujan. Minggu, 15 Februari 2026, ketika jarum jam
menunjuk pukul 15.30 Wita, di Museum Kota Makassar yang terletak di Jalan Balai
Kota, Makassar, dibuka ruang refleksi bertajuk: “Tionghoa dalam Kebhinekaan”.
Sebuah narasi besar tentang keberadaan dan proses menjadi satu, akulturasi dan
masa depannya.
Kegiatan ini hadir bukan sebagai seremoni
formal belaka, melainkan sebuah perjumpaan lintas gagasan. Berusaha untuk
menegaskan kembali bahwa Kota Makassar yang multietnik, seperti rumah besar
yang atapnya cukup lebar untuk memayungi setiap helai perbedaan.
Dr. Ir. Yonggris, MM, selaku ketua panitia
pelaksana, pada sambutannya mengatakan merasa senang dan bangga karena
perhelatan jelang perayaan Imlek 2026 tahun bershio Kuda Api ini dihadiri
sejumlah pihak dari berbagai kalangan, tokoh masyarakat Tionghoa, akademisi,
seniman, kolektor barang bersejarah dan budayawan pemerhati Budaya Tionghoa.
Dipandu Apt. George Nurtani, MM, dialog
dipaparkan melalui tiga perspektif berbeda, diarahkan bermuara pada satu titik
bincang utama: memahami keberadaan warga etnik Tionghoa dalam pluralitas
kebudayaan berkelanjutan.
Ir. Arwan Tjahjadi, Praktisi, pegiat
budaya Tionghoa memandang kebhinekaan dengan kacamata pragmatis namun disajikan
dengan hangat, sarat data. Baginya, kontribusi nyata etnis Tionghoa di Makassar
sejak awal telah menggerakkan urat nadi perdagangan, pendidikan dan kebudayaan
di Makassar. Itu adalah bukti nyata bahwa perbedaan justru memperkaya
keberagaman.
“Di bidang seni, ada seniman Ho Eng Djie
atau Baba Tjoi, pencipta, penulis lagu-lagu Makassar yang legendaris. Ia
menggubah ratusan lagu bergaya keroncong dan langgam dari tahun 1920-an hingga
1950-an. Artis rekaman ini mendapat pengakuan resmi dari Presiden Soekarno pada
tahun 1953.” ungkap Arwan, sambil memperlihatkan koleksi piringan hitamnya.
Di kesempatan kedua Dr. Mukhlis Paeni, MA,
Ketua Dewan Pakar MoW ( Memori of The World) Indonesia – Unesco, mengajak
peserta diskusi kembali menelusuri ke lorong-lorong sejarah, mengingatkan bahwa
jejak Tionghoa telah lama tercatat dalam perjalanan Nusantara, juga Makassar.
Ketua Dewan Pakar Memori Kolektif Bangsa
itu mengatakan; “Sejak Abad 16 sudah ada catatan keberadaan orang-orang
Tionghoa di Somba Opu. Kepala Loji Inggris di Somba Opu pernah mengirimkan
surat kepada Gubernur Inggris di India pada 16 Juli 1615 tentang kegiatan
orang-orang Inggris yang berdagang beras ketan untuk bahan Ciu / arak dengan
orang Tionghoa.”
Mukhlis menggugat: apa andil warga
Tionghoa Makassar untuk Indonesia. Berapa banyak bangunan masa lalu yang sudah
ditetapkan sebagai cagar budaya, apa Warisan Tak Benda yang tercatat dan
diusulkan ke negara. Padahal disini kita punya bayak ragam kuliner; Pisang Ijo,
Bakpao, Srikaya Bayao, Pallumara, mie dan lainnya.
Apa Memori Kolektif Bangsa yang sudah
tercatat, misalnya Surat Kapitan Cina, Lontara dengan sisipan aksara Tionghoa,
tata cara korontigi dalam proses pernikahan Tionghoa dan banyak lagi.
“Kalau warga Tionghoa diam saja, tidak
melakukan langkah solusi kongkrit saya tidak akan ke Makassar lagi untuk
berdialog budaya seperti ini,” kata Mukhlis, serius.
Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, SH, MH, Ketua
Dewan Kebudayaan Kota Makassar memperkuat dialog dalam perpektif struktur
sosial. Ia mengingatkan bahwa di Galesong, masih tegak berdiri klenteng Pan Ko
Ong (Dewa Bumi).
Klenteng Pan Ko Ong berdiri pada tahun
1923. Tempat ibadah yang didirikan warga Tionghoa ini menjadi simbol
keberagaman dan situs sejarah bagi masyarakat Tionghoa setempat. Pemilik Balla
Barakka ini memastikan bahwa inklusivitas di Galesong telah lama memiliki
pijakan yang kokoh dalam bernegara.
Dialog budaya ini kian membuktikan bahwa
identitas Tionghoa di Makassar bukan sekadar entitas ekonomi semata, melainkan
elemen sosiologis yang membentuk wajah kota. Kehadirannya terlihat nyata pada
cermin kebudayaan kota.
Masalah penting yang masih perlu
ditindaklanjuti adalah bagaimana proses akulturasi kebudayaan ini
berkelanjutan. Tidak hanya asyik di panggung depan kebudayaan yang penuh
konflik dan drama. Perlu juga membenahi panggung belakang kebudayaan Tionghoa
yang memerlukan kekompakan antar komponen.
Tak kalah menggelisahkan adalah bagaimana
kehadiran teknologi Kecerdasan Buatan - Artifisial Inteligence (AI) yang kian
merasuk budaya kontemporer kota. Ungkapan Yongris mengkhawatirkan keasyikan
generasi Z dan generasi Alpha yang fokus pada gadget dan media sosial akan
berdampak pada melunturnya etika dalam berkomunikasi interelasi sosial.
Menanggapi ungkapan Yongris, ketiga
narasumber sepakat bahwa dalam komunikasi interelasi sosial harus serius
menyentuh aspek Etika Digital .
Rangkumannya, kebhinekaan tidak lagi cukup
hanya dibahas dalam ruang dialog, tetapi harus juga “ditanam” dalam data
algoritma yang dikonsumsi masyarakat. Termasuk ketika mengadopsi budaya
digital.
Dengan semangat pelabuhannya yang terbuka,
warga Tionghoa Makassar harus turut menjadi pionir dalam menggunakan teknologi
yang mempererat silaturahmi dalam bingkai kebhinekaan, bukan dengan memecahkan
cermin kebudayaan yang luhur.
“Kemajuan teknologi AI harus diarahkan
sebagai instrumen untuk memperluas ruang perjumpaan seperti yang diusung dalam
Dialog Budaya ini, bukan sebagai dinding pemisah baru. Generasi Alpha perlu
diajarkan etika digital bahwa di balik layar gawai mereka, ada sejarah panjang
kolaborasi lintas etnis yang membangun bangsa ini,” pungkas Mukhlis.
Minggu, 15 Februari 2026
