PEDOMAN KARYA
Kamis, 12 Maret 2026
Buka Puasa dan
Sahur Bersama di Masjid
Bulan Ramadhan tahun ini terasa
berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Terasa begitu meriah dan hangat.
Sejak menjelang Ramadhan, suasana di
Masjid Khadijah Binti Khuwailid Kompleks Perumahan Bumi/Griya Pallangga Mas 1,
Pallangga, Kabupaten Gowa, sudah tampak berubah.
Halaman masjid dihiasi dengan
lampu-lampu hias yang dipasang di beberapa sudut halaman, melilit pohon-pohon
dan tanaman bunga di sekitar masjid. Lampu-lampu juga dipasang di sepanjang
jalan di depan masjid. Pada malam hari suasana tampak begitu indah, terang, dan
meriah. Masjid seakan menyambut datangnya bulan suci dengan wajah yang ceria.
Buka puasa bersama pada hari
pertama Ramadhan dilakukan di teras halaman depan masjid. Aneka hidangan
disajikan dengan penuh kebersamaan. Ada kue-kue, minuman segar, dan juga nasi
kotak.
Orang tua, remaja, dan anak-anak
larut dalam suasana kebersamaan. Canda tawa terdengar di sana-sini. Ramadhan
benar-benar menghadirkan rasa persaudaraan yang hangat di tengah jamaah.
Pada malam hari suasana semakin
hidup dengan adanya pasar malam kecil di sekitar masjid. Beberapa penjual
makanan dan minuman ringan berjualan dengan gerobak atau meja sederhana.
Kehadiran mereka membuat anak-anak semakin senang datang ke masjid. Mereka bermain,
membeli jajanan, dan ikut merasakan semaraknya suasana Ramadhan.
Shalat tarawih pun selalu ramai
setiap malam. Shaf-shaf jamaah terisi penuh oleh orang tua, remaja, bahkan
anak-anak. Menariknya lagi, suasana ramai itu tidak hanya terlihat pada waktu
tarawih. Pada waktu shalat subuh pun masjid selalu dipenuhi jamaah. Setelah
shalat subuh berjamaah, biasanya dilanjutkan dengan kultum atau ceramah singkat
yang waktunya lebih pendek dibandingkan ceramah tarawih.
Selesai shalat, jamaah tidak
langsung pulang. Sebagian duduk berkelompok-kelompok sambil berbincang santai.
Ada pula yang mengambil mushaf Al-Qur’an lalu membaca dan mengaji di
sudut-sudut masjid. Karena itu, masjid hampir tidak pernah benar-benar sepi. Selalu
ada saja aktivitas yang membuat suasana tetap hidup.
Memasuki sepuluh malam terakhir
Ramadhan, suasana semakin terasa khusyuk dan penuh semangat ibadah. Jamaah
mengadakan i’tikaf di masjid. Pada malam-malam itu, beberapa jamaah memilih
tinggal di masjid untuk memperbanyak ibadah, memperbanyak dzikir, membaca
Al-Qur’an, dan melaksanakan shalat malam.
Menjelang sepertiga malam terakhir,
jamaah bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud secara berjamaah. Sebagian
besar lainnya, bapak-bapak dan ibu-ibu, serta remaja dan anak-anak, berdatangan
dari rumah masing-masing menuju ke masjid untuk ikut shalat tahajjud berjamaah.
Suasana masjid yang semula tenang
perlahan-lahan kembali hidup. Cahaya lampu menerangi ruang shalat, sementara
jamaah berdiri dengan khusyuk menghadap Allah SWT. Dalam keheningan malam
Ramadhan, shalat tahajjud terasa begitu menenangkan dan menggetarkan hati.
Setelah selesai shalat tahajjud dan
berdoa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan makan sahur bersama di masjid.
Hidangan sahur disiapkan secara sederhana, tetapi terasa sangat nikmat karena
dimakan bersama-sama. Jamaah duduk bersila di lantai masjid atau di teras, saling
menyapa, dan saling bercanda ringan.
Suasana sahur bersama itu
menghadirkan kebersamaan yang sulit dilupakan. Tidak ada sekat antara yang tua
dan yang muda. Semua duduk bersama sebagai jamaah yang dipersatukan oleh iman
dan oleh kecintaan kepada masjid.
Ramadhan seperti inilah yang selalu
dirindukan. Masjid tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga menjadi
tempat bertemu, belajar, berbagi, dan membangun kebersamaan.
Semoga suasana indah seperti ini
tidak hanya terjadi pada bulan Ramadhan saja. Mudah-mudahan semangat
memakmurkan masjid tetap hidup sepanjang tahun, sehingga masjid selalu menjadi
pusat kebersamaan dan pusat kehidupan umat. (asnawin aminuddin)