PEDOMAN KARYA
Rabu, 04 Maret 2026
Kultum Ramadhan:
Gerhana Terjadi, Mari Berbenah Diri
Oleh: Furqan Mawardi
(Muballigh Akar Rumput)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji
bagi Allah yang menggenggam langit tanpa tiang, yang mengatur bulan tanpa
pernah terlambat sedetik pun. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi
Muhammad ﷺ, yang setiap kali melihat tanda-tanda kebesaran Allah, beliau
semakin tunduk, semakin takut, dan semakin dekat kepada Rabb-nya.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Malam ini langit tidak seperti biasanya,
bulan yang biasa terang, perlahan meredup kemudian cahayanya tertutup. Langit
malam ini terasa berbeda, Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya dengan terjadinya
fenomena gerhana bulan. Terjadinya gerhana bukan sekadar peristiwa alam, namun ia
adalah peristiwa keimanan.
Bulan itu besar dan bersinar terang. Ia
menjadi penunjuk arah di malam hari, namun malam ini kita melihat sesuatu yang
penting yakni cahaya sebesar itu pun bisa tertutup. Maka bagaimana dengan hati
kita? Kadang hati kita juga mengalami “gerhana”. Awalnya rajin, lalu mulai
jarang, awalnya lembut, lalu mudah marah. Awalnya dekat, lalu perlahan menjauh.
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ
وَالْقَمَرُ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
adalah malam, siang, matahari dan bulan.” (QS. Fussilat: 37)
Gerhana adalah tanda, dan tanda tidak
pernah muncul tanpa makna. Gerhana hadir tidak untuk menjadi tontonan, tapi
memperbanyak bersujud dan muhasabah.
Rasulullah ﷺ ketika melihat gerhana tidak
sibuk membahas fenomenanya. Tidak pula menjadikannya tontonan. Beliau langsung
berdiri, beliau shalat panjang, rukuknya lama, dan juga disertai dengan
tangisan. Padahal beliau manusia paling mulia, dijamin masuk surga tanpa hisab.
Lalu bagaimana dengan kita yang bukan
nabi, hanya manusia biasa yang penuh dosa? yang dimana surganya juga belum
jelas? Gerhana mengajarkan satu hal. Jika langit saja bisa berubah dalam
hitungan menit, hidup kita pun bisa berubah kapan saja.
Jamaah sekalian,
Gerhana tidak hadir selamanya. Ia datang
dan menggelap sementara dan ia terang kembali. Begitu pulalah ujian kehidupan
kita. Kesedihan, kecemasan, masalah yang terasa berat. Semua ada waktunya dan
tidak akan terjadi terus. Yang penting bukan seberapa gelapnya, tetapi kepada
siapa kita mendekat saat gelap itu datang.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah
hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Langit boleh menggelap, tetapi hati jangan
ikut padam. Saatnya mendekat. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk, terlalu
percaya diri, terlalu merasa semuanya terkendali. Gerhana seperti pesan dari
langit bahwa “Tidak ada yang benar-benar stabil kecuali Allah.”
Maka saat langit menggelap, jangan hanya
mata yang melihat ke atas, tapi hati juga ikut bersujud. Jangan hanya kagum
pada fenomena, tapi tunduk pada Yang Mengaturnya.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Bulan yang redup malam ini akan kembali
bercahaya. Semoga hati kita juga demikian. Jika selama ini ada dosa yang
menggelapkan, mari kita bersihkan dengan istighfar. Jika selama ini ada jarak
antara kita dan Allah, malam ini kita dekatkan kembali. Karena bisa jadi, yang
Allah inginkan dari gelapnya langit ini adalah terang di dalam dada kita
masing-masing.
Ya Allah di tengah gerhana malam ini, jangan
Engkau jadikan hati kami lebih gelap dari langit malam ini. Terangi hati kami
dengan iman. Dekatkan kami kepada-Mu di setiap keadaan. Dan jadikan setiap
tanda kebesaran-Mu sebagai jalan kami untuk semakin tunduk dan berserah. Aamiin
ya Rabbal ‘alamin.