-----
Rabu, 04 Maret 2026
Shalat, Takbir, dan Berdoa Saat Terjadi
Gerhana
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Wakil
Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Sulsel, Asnawin Aminuddin, membawakan
khutbah shalat gerhana di Masjid Khadijah Binti Khuwailid Kompleks Bumi/Griya
Pallangga Mas 1, Pallangga, Kabupaten Gowa, Selasa malam, 03 Maret 2026.
Shalat gerhana diikuti seratusan jamaah
laki-laki dan perempuan, termasuk Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Khadijah
Binti Khuwailid, H Nasrullah, Ketua Panitia Amaliah Ramadhan Muhammad Sakib,
serta Dewan Syuro DKM Khadijah Binti Khuwailid Prof Muhammad Yaumi.
Asnawin dalam khutbahnya mengatakan, fenomena
alam berupa gerhana bulan adalah salah satu bukti kebesaran Allah. Gerhana
bukan sebagaimana diyakini sebagian masyarakat dulu, bahwa itu peristiwa
ditelannya bulan, atau penanda bencana bagi petani, peternak, dan lainnya.
Keyakinan seperti itu tidak benar.
“Dalam
Al-Qur’an Surah Yasin ayat 40, Allah berfirman, tidaklah
mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului
siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya,” kata Asnawin yang juga
Sekretaris DKM Khadijah Binti Khuwailid.
Ayat ini menjelaskan bahwa terjadinya
gerhana adalah ketika matahari, bulan, dan bumi berada di satu garis lurus.
Jika bulan menghalangi cahaya matahari ke bumi, maka itu adalah gerhana
matahari. Jika bumi menghalangi cahaya matahari sampai ke bulan maka disebut
dengan gerhana bulan.
Asnawin kemudian mengatakan bahwa
Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan kepada kita bila terjadi gerhana untuk
berdoa kepada Allah, mendirikan shalat sunnah gerhana, bertakbir, dan
bersedekah.
“Rasulullah bersabda, sesungguhnya
matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak
akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika
kalian melihat gerhana, maka banyaklah berdoa kepada Allah, bertakbirlah,
dirikan shalat, dan bersedekahlah,” sebut Asnawin.
Sejarah mencatat bahwa peristiwa gerhana
pernah bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah. Banyak sahabat
sempat beranggapan bahwa gerhana itu terjadi karena wafatnya sang bayi. Namun
Nabi segera meluruskan dengan mengatakan: “Sesungguhnya matahari dan bulan
tidak mengalami gerhana karena wafatnya atau hidupnya seseorang.”
Teguran Nabi ini mengajarkan agar manusia
tidak menisbatkan fenomena alam pada takhayul atau mitos. Gerhana bukan tanda
buruk, bukan pula pertanda kematian seseorang. Gerhana adalah pengingat tentang
betapa besarnya kekuasaan Allah.
“Sebelum terjadinya gerhana, putra
Rasulullah yang bernama Ibrahim, dari
istrinya yang bernama Maria Qibtiyyah, wafat pada usia yang
masih sangat belia. Rasulullah kemudian menggendong Ibrahim dengan berlinang air
mata. Para sahabat bertanya, seakan heran melihat Rasulullah menangis. Beliau
menjawab, ini adalah tangisan kasih sayang,” kisah Asnawin.
Mengutip hadits dari Aisyah radhiyallahu
‘anha, Asnawin mengatakan, ketika terjadi gerhana, Rasulullah melaksanakan
shalat dan diikuti para sahabat. Setelah itu Rasulullah berkhutbah di hadapan
orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah.
“Dalam khutbahnya, Rasulullah bersabda, sesungguhnya
matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.
Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang.
Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah,
kerjakanlah shalat dan bersedekahlah,” kata Asnawin.
Di akhir khutbahnya, Asnawin mengajak
jamaah berdoa bersama yang terjemahannya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan
seluruh alam. Dengan pertolongan-Nya kami memohon bantuan atas segala urusan
dunia dan agama. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada semulia-mulia para
rasul, Nabi kami Muhammad, serta kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon
kepada-Mu keselamatan dalam agama, kesehatan pada jasad, tambahan ilmu,
keberkahan dalam rezeki, tobat sebelum datangnya kematian, rahmat ketika
menghadapi kematian, dan ampunan setelah kematian.
Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah
tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha
Penyayang.
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di
dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka. Mahasuci
Tuhanmu, Tuhan Yang memiliki kemuliaan, dari apa yang mereka sifatkan. Dan
kesejahteraan semoga tercurah kepada para rasul. Dan segala puji bagi Allah,
Tuhan seluruh alam.” (aha)
