Lebaran atau Tarawih? Tunggu Dulu... Rokok Belum Habis

Umat Muslim di Indonesia, sejak usai magrib bahkan hingga usai shalat isya, banyak yang menunggu pengumuman hasil sidang isbat yang dilaksanakan pemerintah pada hari ke-29 Ramadhan setelah matahari terbenam. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)

 

-----

PEDOMAN KARYA

Jumat, 20 Maret 2026

 

Lebaran atau Tarawih? Tunggu Dulu... Rokok Belum Habis

 

Hari ke-29 Ramadhan selalu punya cerita. Di antara harap dan cemas, umat Islam di Indonesia menunggu satu kepastian: besok lebaran atau masih berpuasa?

Di sebuah masjid di Bulukumba, suasana itu terasa hangat sekaligus tegang, hingga tawa kecil pecah, bukan karena keputusan sudah diumumkan, melainkan karena ada yang berseru santai, “Tunggu dulu… rokok belum habis.”

Umat Muslim di Indonesia, sejak usai magrib bahkan hingga usai shalat isya, banyak yang menunggu pengumuman hasil sidang isbat yang dilaksanakan pemerintah pada hari ke-29 Ramadhan setelah matahari terbenam.

Ada juga yang tidak menunggu atau tidak terlalu peduli dengan sidang isbat karena mereka mengikuti Muhammadiyah dan juga mengacu ke Arab Saudi yang sudah terlebih dahulu menetapkan tanggal 1 Syawal tanpa menunggu tanggal 29 Ramadhan.

Di salah satu masjid di Kabupaten Bulukumba, saya ikut shalat Isya berjamaah. Selesai shalat Isya, pengurus masjid menyampaikan bahwa kita menunggu pengumuman pemerintah, apakah besok sudah 1 Syawal atau belum.

“Kalau pemerintah mengumumkan besok kita lebaran, maka malam ini kita tidak shalat tarawih. Namun, jika pemerintah mengumumkan lebaran lusa, maka malam ini kita shalat tarawih. Sambil menunggu hasil sidang isbat, malam ini tetap ada ceramah tarawih,” kata pengurus masjid tersebut.

Ustaz yang akan berceramah pun dipersilakan naik ke mimbar. Sambil tersenyum, ia mengatakan bahwa ceramah akan diisi sembari menunggu pengumuman hasil sidang isbat.

“Kalau hasil sidang isbat memutuskan besok lebaran, kita hentikan ceramah. Jadi, tolong beri kode kalau sudah ada pengumuman,” kata ustaz sambil tersenyum.

Setelah berceramah sekitar lima belas menit dan ternyata belum ada hasil sidang isbat, ustaz tersebut pun menyudahi ceramahnya dan duduk bersama para jamaah sambil menunggu hasil sidang isbat.

Suasana canda ringan pun mewarnai obrolan para jamaah, termasuk ibu-ibu yang gelisah menunggu pengumuman.

“Kita mau pulang masak,” kata mereka.

Beberapa jamaah laki-laki kemudian keluar dari masjid. Ternyata mereka adalah para “ahli hisab” alias perokok, he-he-he.

Beberapa jamaah menunggu sambil membuka ponsel, termasuk ada yang membuka YouTube untuk menyaksikan siaran langsung pengumuman hasil sidang isbat.

Setengah jam kemudian, Menteri Agama keluar dari ruang sidang dan menuju ruang konferensi pers untuk menyampaikan hasil sidang isbat. Hasilnya, Idul Fitri 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu, bukan Jumat.

Maka, pengurus pun mengumumkan melalui pelantang bahwa malam ini tetap diadakan shalat tarawih. Saya kemudian pamit pulang dan tidak ikut shalat tarawih karena puasa saya sudah genap 30 hari dan besok sudah berlebaran mengikuti Muhammadiyah.

Saat keluar dari pintu masjid, saya melihat beberapa jamaah ternyata masih merokok. Sambil tersenyum, mereka berteriak, “Tunggu dulu. Jangan shalat dulu, rokok saya belum habis”. Maka suara tawa pun terdengar dari para jamaah.

Beberapa ibu-ibu yang sudah berjalan pulang ke rumah akhirnya berbalik kembali ke masjid sambil tersenyum.

“Kita sudah pulang, tapi ternyata malam ini masih tarawih,” kata mereka sambil tersenyum.

Pada akhirnya, pengumuman itu memang datang. Keputusan pun ditetapkan. Namun yang lebih dulu mencairkan suasana justru bukan suara resmi dari pemerintah, melainkan celetukan sederhana yang mengundang tawa.

Di situlah Ramadhan terasa begitu dekat. Tidak selalu dalam kesunyian yang khusyuk, tetapi juga dalam canda yang jujur dan apa adanya. Dan malam itu, kita belajar, bahwa menunggu pun bisa terasa ringan… asal rokok belum habis. (asnawin aminuddin)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama