Hujan, Shalat Idul Fitri di Unismuh Makassar Dialihkan ke Balai Sidang Muktamar

Ribuan umat muslim mengikuti shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H di Kampus Unismuh Makassar, Jumat, 20 Maret 2026. 

-----

Jumat, 20 Maret 2026

 

Hujan, Shalat Idul Fitri di Unismuh Makassar Dialihkan ke Balai Sidang Muktamar

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Hujan deras yang mengguyur Kota Makassar sejak Jumat subuh, 20 Maret 2026, membuat pelaksanaan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H yang rencananya diadakan di Pelataran Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, dialihkan ke dalam Masjid Subulussalam Al-Khoory dan di Balai Sidang Muktamar 47.

Namun meskipun hujan, jamaah yang datang tetap banyak bahkan diperkirakan berkisar tiga ribu atau empat ribuan orang. Mereka yang hadir tidak hanya berasal dari Makassar, melainkan juga dari Kabupaten Gowa dan sejumlah daerah sekitar.

Juga hadir Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel Prof Ambo Asse, Rektor Unismuh Makassar Dr Abdul Rakhim Nanda, Wakil Ketua Muhammadiyah Sulsel Dr Muhammad Syaiful Saleh, serta sejumlah tokoh lainnya, termasuk anggota DPR RI Ashabul Kahfi, dan Muslimin Bando.

Khutbah Idul Fitri dibawakan oleh Wakil Ketua Muhammadiyah Sulsel / Wakil Rektor III Unismuh Makassar Dr KH Mawardi Pewangi, sedangkan imam shalat yaitu Wakil Ketua Muhammadiyah Sulsel / Direktur Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Unismuh Makassar, Dr KH Abbas Baco Miro.

KH Mawardi Pewangi dalam khutbahnya mengatakan, takwa harus melahirkan akhlak mulia, bukan berhenti pada ritual semata. Menurutnya, ibadah yang benar harus tercermin dalam hubungan yang baik dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan.

“Ibadah sejatinya adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah yang tercermin dalam hubungan baik dengan sesama manusia dan lingkungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi bertakwa yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu menahan amarah, memaafkan, serta menebarkan kebaikan dalam kehidupan sosial.

Mawardi juga menyoroti tantangan kehidupan modern, terutama media sosial yang kerap menjadi ruang lahirnya konflik, ujaran kebencian, dan penyebaran informasi yang tidak benar.

“Di tengah kehidupan yang serba terbuka, diperlukan benteng iman, ilmu, dan akhlak mulia. Jangan sampai ibadah hanya menjadi rutinitas tanpa memberi dampak pada perilaku,” katanya.

Menurutnya, ukuran kualitas keimanan seseorang sangat ditentukan oleh akhlaknya. Karena itu, momentum Idulfitri harus menjadi titik awal untuk meningkatkan kualitas diri, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia.

Dalam khutbah itu, ia juga mengajak generasi muda muslim untuk tampil sebagai pribadi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, serta mampu menghadapi tantangan zaman dengan sikap yang bijak dan berkeadaban. (zak)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama