Ramadhan Musim Panen Pahala, Bukan Musim Bermalas-malasan

Ramadhan adalah musim kebaikan bagi orang-orang beriman, sebagaimana musim hujan yang menghidupkan tanah yang kering. Siapa yang menanam amal di bulan ini, maka ia akan memanen pahala yang berlipat ganda. (Foto: Andi Baso Gasali)

 

----

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 07 Maret 2026

 

Kultum Ramadhan:

 

Ramadhan Musim Panen Pahala, Bukan Musim Bermalas-malasan

 

Oleh: Furqan Mawardi

(Muballigh Akar Rumput)

 

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subhānahu wa Ta‘aalaa yang kembali mempertemukan kita dengan bulan Ramadan. Bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan peluang pahala yang berlipat-ganda.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan agung yang mengajarkan kepada umatnya bagaimana menjadikan Ramadhan sebagai bulan ibadah, bukan bulan kelalaian.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Jika kita melihat para petani di kampung-kampung ketika musim panen tiba, suasananya selalu berbeda. Mereka bangun lebih pagi, bekerja lebih giat, bahkan kadang lupa waktu istirahat.

Mengapa demikian? Karena mereka tahu, musim panen tidak datang setiap saat. Jika kesempatan itu tidak dimanfaatkan, maka hasilnya pun akan sedikit.

Begitu pula para pedagang ketika musim ramai tiba. Mereka memperpanjang waktu membuka toko, menambah tenaga, karyawan, bahkan rela mengurangi waktu tidur demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Ramadhan sesungguhnya adalah musim panen pahala bagi orang beriman. Namun sayangnya, di bulan yang seharusnya penuh semangat ibadah ini justru ada sebagian orang yang menjadikannya bulan bermalas-malasan. Banyak tidur di siang hari, sedikit ibadah di malam hari, bahkan waktu-waktu berharga di bulan Ramadhan justru habis untuk hal-hal yang tidak mendatangkan pahala dan kebaikan.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita betapa besar keutamaan Ramadhan. Beliau bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberi pesan yang sangat jelas bahwa Allah membuka peluang pahala selebar-lebarnya di bulan Ramadhan. Seolah-olah Allah sedang berkata kepada hamba-Nya: Wahai hamba-Ku, inilah waktumu mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathāif al-Ma‘ārif mengatakan bahwa Ramadhan adalah musim kebaikan bagi orang-orang beriman, sebagaimana musim hujan yang menghidupkan tanah yang kering. Siapa yang menanam amal di bulan ini, maka ia akan memanen pahala yang berlipat ganda.

Karena itu para ulama terdahulu justru lebih sibuk di bulan Ramadhan. Mereka memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, dan memperbanyak ibadah malam. Bagi mereka, Ramadhan bukan bulan istirahat dari ibadah, tetapi bulan meningkatkan ibadah.

Allah juga berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap amal di sisi Allah memiliki nilai, sekecil apa pun ia. Apalagi jika dilakukan di bulan Ramadan yang penuh keberkahan.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Bisa kita bayangkan apabila seorang petani yang justru banyak tidur ketika musim panen tiba. Ketika orang lain sibuk memanen padi, ia malah bermalas-malasan. Apa yang terjadi? Ketika musim panen berlalu, ia hanya akan melihat ladangnya kosong dan menyesal karena tidak memanfaatkan kesempatan.

Begitulah gambaran orang yang melewatkan Ramadhan tanpa kesungguhan ibadah. Ramadhan datang hanya sebulan dalam setahun, dan kita tidak pernah tahu apakah tahun depan kita masih diberi kesempatan bertemu dengannya.

Karena itu Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Celakalah seseorang yang menjumpai bulan Ramadan, lalu Ramadan berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.” (HR. Tirmidzi)

Betapa ruginya orang yang melewati Ramadan tanpa memanen pahala yang Allah sediakan.

Saudaraku,

Mari kita jadikan sisa Ramadhan ini sebagai musim panen amal. Perbanyak membaca Al-Qur’an. Perbanyak sedekah. Perbanyak istighfar dan doa. Dan jangan biarkan waktu-waktu Ramadhan berlalu tanpa makna.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memanen pahala sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan, dan semoga ketika Ramadhan berlalu, kita keluar darinya dalam keadaan diampuni dosa-dosa kita dan ditinggikan derajat kita di sisi Allah.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُومِينَ.

“Ya Allah, terimalah dari kami puasa dan ibadah malam kami. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang amalnya Engkau terima, dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Amin ya Rabbal ‘alamin.

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama