-----
PEDOMAN KARYA
Senin, 09 Maret 2026
Taubat: Jalan Kembali kepada Allah
Oleh: Abdul Rakhim Nanda
Ketakwaan itu bukan hanya tampak pada
banyaknya ibadah lahiriah, tetapi juga tampak pada hati yang lembut, hati yang
sadar akan dosa, lalu hati itu kembali kepada Allah dengan taubat dan
istighfar.
Mari kita merenungkan satu tema yang
sangat dekat dengan seluruh kehidupan kita, yaitu taubat. Mengapa taubat
penting? Karena tidak ada satu pun di antara kita yang luput dari salah. Tidak
ada manusia yang bersih dari khilaf.
Kita semua memiliki kekurangan, kelalaian,
bahkan dosa-dosa yang mungkin hanya kita dan Allah saja yang mengetahuinya.
Karena itu, selama pintu taubat masih terbuka, harapan itu masih ada. Dan
selama Allah masih memanggil hamba-Nya untuk kembali, maka tidak pantas seorang
mukmin berputus asa dari rahmat-Nya.
Orang
bertakwa itu banyak beristighfar. Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman dalam QS
Ali ‘Imran ayat 17: “(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang taat,
yang berinfak, dan yang memohon ampun pada waktu sahur.”
Allah menyebut ciri-ciri orang bertakwa:
mereka sabar, jujur, taat, dan gemar berinfak. Tetapi di ujung ayat, Allah
menyebut satu sifat yang sangat halus dan sangat dalam maknanya, yaitu
orang-orang yang beristighfar pada waktu sahur.
Ini mengajarkan kepada kita bahwa orang
bertakwa bukanlah orang yang merasa dirinya suci. Orang bertakwa justru semakin
banyak amalnya, semakin banyak istighfarnya. Semakin dekat kepada Allah,
semakin merasa dirinya penuh kekurangan. Semakin tinggi ilmu dan ibadahnya,
semakin rendah hatinya di hadapan Allah.
Waktu sahur bukan hanya waktu makan
sebelum puasa. Ia juga waktu munajat, waktu mengakui dosa, waktu seorang hamba
yang jujur berkata di hadapan Rabb-nya: “Ya Allah, ampunilah aku.”
Hamba yang saleh tetap takut kepada azab Allah.
Allah berfirman dalam QS Al-Furqan ayat 65: “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya
Rabb kami, jauhkanlah azab Jahannam dari kami. Sesungguhnya azabnya itu adalah
kebinasaan yang kekal’.”
Ayat ini adalah bagian dari sifat
‘Ibadur-Rahman, hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih. Mereka bukan orang
sembarangan. Mereka orang-orang yang baik, ahli ibadah, ahli qiyamullail, dan
orang-orang saleh. Namun justru mereka itulah yang selalu berdoa agar dijauhkan
dari azab Jahannam.
Al-Qurtubi menjelaskan bahwa hamba-hamba
yang saleh itu, walaupun penuh ketaatan, tetap merasa takut, cemas, dan waspada
terhadap azab Allah.
Demikian pula Ibn Katzir ketika
menafsirkan rangkaian ayat tentang ‘Ibadur-Rahman, beliau menghubungkan
qiyamul-lail, doa agar dijauhkan dari Jahannam, dan kehidupan malam orang-orang
saleh yang sedikit tidurnya lalu memohon ampun pada waktu sahur.
Dari sini kita memahami bahwa taubat yang
benar selalu berdiri di atas dua sayap: khauf dan raja’. Takut kepada azab
Allah, dan berharap kepada rahmat Allah.
Kalau seseorang hanya punya “takut tanpa
harap”, ia bisa jatuh pada keputusasaan, tetapi kalau hanya punya “harap tanpa
takut”, ia bisa meremehkan dosa. Maka hati seorang mukmin harus seimbang.
Allah memerintahkan taubatan nasuha,
sebagaimana firman-Nya dalam QS At-Tahrim ayat 8: “Wahai orang-orang yang
beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.”
Perhatikan, yang dipanggil di sini adalah
orang-orang yang beriman. Ini menunjukkan bahwa taubat bukan hanya kebutuhan
orang yang tenggelam dalam dosa besar. Taubat adalah kebutuhan seluruh orang
beriman.
Orang alim butuh taubat. Orang saleh butuh
taubat. Orang yang rajin ibadah pun tetap butuh taubat. Al-Qurtubi menegaskan
bahwa taubat adalah kewajiban bagi setiap mukallaf dalam setiap keadaan.
Lalu apa yang dimaksud dengan taubatan
nasuha? Al-Qurtubi menghimpun penjelasan para ulama bahwa taubatan nasuha
adalah taubat yang jujur, tulus, ikhlas, dan tidak diiringi keinginan untuk
kembali kepada dosa.
Al-Tabari menjelaskan bahwa taubat nasuha
adalah kembali dari dosa menuju ketaatan kepada Allah dengan kembali yang tidak
diulangi lagi. Bahkan beliau menukil riwayat dari ‘Umar bin al-Khattab
radhiyallahu ‘anhu bahwa taubat nasuha adalah seseorang bertaubat dari dosa,
kemudian tidak kembali lagi kepadanya.
Maka secara ringkas, taubat nasuha
mencakup beberapa hal. Meninggalkan dosa, menyesali dosa yang telah dilakukan,
bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi, dan bila berkaitan dengan hak
manusia, maka hak itu harus dikembalikan atau diselesaikan.
Jadi, taubat itu bukan sekadar ucapan di
bibir, bukan sekadar menangis sesaat, tetapi perubahan arah hidup. Dari maksiat
menuju taat, dari lalai menuju zikir, dari gelap menuju cahaya.
Jangan Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah
Allah berfirman dalam QS Az-Zumar ayat 53:
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka
sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya.”
Inilah ayat yang membuka pintu harapan
seluas-luasnya. Bukan untuk orang yang tidak pernah bersalah, tetapi justru
untuk orang yang telah banyak melampaui batas terhadap dirinya sendiri.
Ibn Kathir menjelaskan bahwa ayat ini
merupakan seruan bagi semua pelaku dosa agar kembali dan bertaubat kepada
Allah, karena Allah mengampuni seluruh dosa bagi orang yang sungguh-sungguh
kembali kepada-Nya. Namun beliau juga menegaskan bahwa ayat ini tidak boleh
dipahami sebagai pembolehan terus-menerus dalam dosa tanpa taubat.
Al-Sa‘di menerangkan bahwa larangan
berputus asa dari rahmat Allah berarti jangan sampai banyaknya dosa membuat
seseorang tenggelam dalam keputusasaan, lalu ia terus berada dalam maksiat.
Jalan keselamatannya ialah kembali kepada Allah dengan inabah dan taubatan
nasuha.
Setan punya dua langkah. Pertama, ia
menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Kedua, setelah manusia berdosa, ia
membisikkan: “Kamu sudah terlalu jauh. Tidak ada harapan lagi.”
Maka jangan biarkan setan menang dua kali.
Kalau kita pernah salah, segera kembali. Kalau kita pernah lalai, segera
bangkit. Kalau kita pernah jauh, segera mendekat. Sebab selama nyawa belum
sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.
Dari ayat-ayat ini kita belajar bahwa
taubat adalah jalan pulang seorang hamba kepada Allah. Orang bertakwa
memperbanyak istighfar, terutama di waktu sahur. Hamba-hamba Allah yang saleh
tetap takut kepada azab Jahannam.
Orang-orang beriman diperintahkan untuk
melakukan taubatan nasuha, yaitu taubat yang jujur dan sungguh-sungguh. Dan
sebesar apa pun dosa seorang hamba, ia tidak boleh berputus asa dari rahmat
Allah.
Taubat bukan sekadar ucapan “astaghfirullah”,
tetapi perjumpaan antara istighfar, penyesalan, penghentian dosa, perbaikan
amal, rasa takut kepada azab Allah, dan harapan besar kepada rahmat-Nya.
Ramadhan adalah bulan taubat, bulan
ampunan, bulan kembali kepada Allah. Karena itu, jangan kita lewatkan
malam-malam mulia ini tanpa istighfar, tanpa muhasabah, tanpa air mata taubat.
Mari kita bertanya kepada diri kita
masing-masing: dosa apa yang masih kita simpan, kebiasaan buruk apa yang masih
kita pelihara, hak siapa yang belum kita tunaikan, siapa yang belum kita mintai
maaf, dan ibadah apa yang masih kita lalaikan.
Jangan tunggu nanti. Jangan tunggu tua.
Jangan tunggu sakit. Jangan tunggu ketika ajal sudah dekat. Bertaubatlah
sekarang, malam ini juga. Karena kita tidak tahu apakah kita masih sempat
bertemu Ramadhan berikutnya dan apakah kita masih diberi kesempatan bertemu
sahur esok hari.
Mari kita pulang kepada Allah. Mari kita
perbanyak istighfar. Mari kita mohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa
kita dan memperbaiki hidup kita.***
....
Penulis: Abdul Rakhim Nanda adalah Sekretaris Muhammadiyah Sulsel / Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar

