Menghidupkan Sejarah Lewat Cerpen, Adil Akbar Berbagi Proses Kreatif

Adil Akbar berbagi proses kreatif penulisan buku pada acara Talkshow dan Bedah Buku “Secangkir Kopi yang Berkisah”, di Alliance Française Makassar, Jalan Maipa Nomor 2, Kawasan Pantai Losari, Ahad, 19 April 2026. (Foto: Rusdin Tompo)

 

-----

Senin, 20 April 2026

 

Menghidupkan Sejarah Lewat Cerpen, Adil Akbar Berbagi Proses Kreatif

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Sejarah tidak hanya dipahami sebagai ilmu dan informasi yang diajarkan di bangku sekolah maupun ruang kuliah. Lebih dari itu, sejarah juga merupakan kepingan mosaik inspirasi yang menarik untuk dikembangkan menjadi karya fiksi, khususnya cerpen.

Hal tersebut disampaikan Adil Akbar, penulis buku: “Secangkir Kopi yang Berkisah”, dalam kegiatan Talkshow dan Bedah Buku bertema: “Menghidupkan Sejarah dan Memikat Penerbit”, di Alliance Française Makassar, Jalan Maipa Nomor 2, Kawasan Pantai Losari, Ahad, 19 April 2026.

“Saya menulis cerpen berlatar sejarah sebagai cara memikat siswa-siswa saya untuk lebih mendalami sejarah,” ungkap Adil Akbar, yang berprofesi sebagai guru di SMKN 10 Makassar.

Alumni Pendidikan Sejarah UNM (2016) dan Magister Pendidikan IPS Konsentrasi Pendidikan Sejarah PPs UNM (2019) ini mengaku banyak terinspirasi oleh dosen-dosennya, di antaranya Suryadi Mappangara dan Alwy Rachman.

Lelaki kelahiran Sungguminasa, Kabupaten Gowa, 6 April 1993, ini juga menjelaskan alasan di balik judul bukunya, Secangkir Kopi yang Berkisah. Menurutnya, sebagian besar cerpen dalam buku tersebut ditulis di warung kopi, di tengah keramaian pengunjung.

“Cerpen-cerpen berlatar sejarah ini lahir dari proses membaca buku dan melakukan riset,” ujarnya, sembari menunjukkan sejumlah referensi yang digunakannya.

Antologi cerpen Secangkir Kopi yang Berkisah merupakan buku ketiganya. Sebelumnya, ia telah menerbitkan kumpulan cerpen Seorang Lelaki yang Berkisah (2021) dan Hikayat dalam Secangkir Kopi (2025).

Kegiatan talkshow dan bedah buku ini dipandu oleh Oskar dari Tim Diskusi Buku Bareng. Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Randy Prayuda (Médiathèque Alliance Française), Yudhistira Sukatanya (sutradara teater dan budayawan), Dr. Fadli Andi Natsif (akademisi UIN Alauddin Makassar), Arif Sikki (guru dan penulis), serta peserta dari berbagai komunitas literasi dan kalangan mahasiswa.

Dalam sesi bedah buku, Rusdin Tompo, penulis dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan, menjadi pembahas pertama. Ia menilai Adil Akbar memiliki idealisme kuat dalam menulis cerpen.

“Latar belakang penulis akan memengaruhi motivasi dan sudut pandang karyanya,” kata Rusdin.

Menurutnya, cerpen-cerpen Adil tidak hanya menghadirkan latar sejarah, tetapi juga mengandung pesan multikulturalisme yang menunjukkan penghargaan terhadap keberagaman.

Pembahas kedua, Muhajir MA, pegiat literasi dan jurnalis, menilai unsur sejarah menjadi kekuatan utama dalam cerpen-cerpen Adil Akbar. Namun, ia mengingatkan pentingnya kesabaran dalam proses penulisan.

“Penulis tidak perlu tergesa-gesa. Jika karakter tokoh bisa dihidupkan lebih kuat, cerpen akan menjadi jauh lebih menarik,” ujarnya.

Sementara itu, Ferdhiyadi, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNM sekaligus sahabat lama Adil Akbar, menyoroti kecenderungan tokoh dalam cerpen yang didominasi kalangan elit.

“Menarik jika penulis lebih banyak mengangkat sudut pandang orang biasa. Gejolak batin mereka jarang diangkat dalam cerpen berlatar sejarah,” paparnya.

Usai sesi bedah buku, kegiatan dilanjutkan dengan talkshow mengenai penerbitan buku siap cetak yang dibawakan oleh A. Nursayyidatul Lutfiah dari Forum Lingkar Pena (FLP). Pada kesempatan tersebut, juga dibuka kelas menulis bagi para peserta yang hadir. (rt)

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama