Moment Balik Institut Kesenian Sulawesi

Syahrir Nur memberikan sambutan pada acara “Silaturrahim dan Reuni Alumni IKS”, di Top Pena Café & Resto lantai 19 Graha Pena Fajar, Makassar, Ahad, 28 Maret 2026. (Foto: Yudhistira Sukatanya)    

 

-----

PEDOMAN KARYA

Rabu, 01 April 2026

 

Moment Balik Institut Kesenian Sulawesi

 

Oleh: Yudhistira Sukatanya

 

Reuni. Ya, acara  hari itu, Ahad pagi, 28 Maret 2026, di Top Pena Café & Resto yang sejuk, tepatnya di lantai 19 Graha Pena Fajar, hadir sekira 40-an alumni Institut Kesenian Sulawesi (IKS). Mereka berkerumun, masing-masing 6 hingga 8 orang menempati kursi di sisi meja bundar bertaplak merah yang ditata rapi.

Acara ditasbihkan bertajuk “Silaturrahim dan Reuni Alumni IKS”. Terselenggara atas inisiasi H. Syahrir Nur, Andi Sorayantina Mattalatta, dan Hamsiah Daeng Kebo. Adalah pertemuan kembali para alumni antar-generasi setelah berpisah cukup lama.

Hadir dalam acara tersebut, Maestro Tari Hj Munasiah Daeng Jinne, drg Ita Isdiana Anwar, M.Kes, Rosmala Dewi, Butet Maggo, Dewi Ritayana dan H.Nawir mewakili Ketua Dewan Kesenian Makassar, DKM, serta sejumlah tokoh seni budaya lainnya.

Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menjalin silaturrahim, bernostalgia mengenang masa lalu, sambil membuka peluang jaringan (networking) sosial baru serta merencanakan gagasan ke masa depan.

Aktivitas acara yang dipandu oleh MC Hj Sofrani Razak, mantan Kepsta RRI, diawali dengan tari penyambutan Pakduppa karya Ibu Andi Nani, dilanjutkan oleh H. Syahrir Nur yang dalam sambutannya mengatakan, sekira 70-80 orang anggota IKS telah mengkonfirmasi kesediaan menghadiri acara temu kangen itu, namun hanya 70 persen saja yang datang.

Meski demikian mantan Sekretaris IKS itu tetap bersemangat, karena dengan kehadiran para tetamu, menjadi penanda bahwa IKS masih bisa dikembangkan dengan arah dan tujuan yang jelas. Utamanya yakni dalam membina moral anak bangsa melalui aktivitas kesenian daerah yang teratur dan terarah di masa datang.

Kemudian dilanjut dengan testimoni dr Andi Faridha Matalatta Sp A. dan dr Andi Sorayantina Matalatta yang mengenang moment yang berfokus pada suka duka dan kenangan manis bersama di masa lalu, sambil berbagi informasi kehidupan saat ini dan mempererat pertemanan, kekeluargaan. Mengedepankan kebersamaan, kesetaraan, tanpa memamerkan jabatan, kekayaan atau status sosial.

Ita Isdiana Anwar dalam testimoninya menyampaikan terima kasih pada IKS yang telah membekalinya dengan mental cukup siap untuk tampil di depan umum. Sebelum bergabung ke IKS, ia selalu merasa sangat risih ketika terpaksa harus melintas di depan orang banyak.

Selain itu ia juga sangat bangga dengan IKS yang telah memberinya bekal pengetahuan dan keterampilan dalam menari hingga mengantarkan timnya dari UNHAS Juara di PEKSIIMINAS beberapa tahun lalu.

“Institut Kesenian Sulawesi (IKS) salah satu organisasi kesenian di Sulsel yang pernah punya nama dan melampaui kepopuleran organisasi kesenian lainnya, sudah lama tak melakukan kegiatan,” ungkap Andi Tonra Mahie, jurnalis senior yang setia menggawangi penerbitan “Matahari Timur“ dan sering berkiprah mempublikasi acara IKS di masa lalu.

Di masa lalu IKS didirikan dengan tujuan (1) Mendidik pemuda-pemudi Sulawesi untuk mengetahui kesenian dan kebudayaan pada umumnya serta Sulawesi Selatan pada khususnya; (2) Mengadakan penelitian ilmiah tentang kesenian dan kebudayaan di Sulawesi, dan (3) Mengadakan pertunjukan kesenian baik di dalam maupun di luar negeri.

“Organisasi kesenian IKS didirikan 7 Juli 1962 di Makassar dan diketuai oleh Hj Andi Nurhani Daeng Masugi. Pernah pula diketuai tokoh wanita Sulsel, Ny. Aminah Andi Mattalatta. Mencatat sejumlah prestasi, seperti misalnya mengisi kegiatan di acara pemerintah Pusat di Jakarta, bahkan melakukan tour kesenian ke luar negeri, di antaranya ke Las Vegas pada 1981 bersama (almh) Andi Ummu yang juga alumni IKS,“ imbuh, Basri B Sila, komposer musik tradisi Makassar.

Dengan dipandu oleh Rosmala Dewi penyanyi lawas di Kota Makassar yang juga alumni anggota IKS menyanyikan: “MARS IKS”

IKS..IKS..

Institut kesenian sulawesi

Bersatu padu

Menjunjung tinggi

Seni budaya indonesia

  

Reff :

Majulah IKS

IKS pasti jaya

Seni abadi

Hidup fana

Itu semboyan kita

 

(ulang bait i )

 

Reff :

Hiduplah IKS

IKS pasti jaya

Seni abadi

Hidup fana

Itu semboyan kita

IKS..IKS…

IKS pasti jayaaa.

 

Dilanjutkan dengan tari massal Pakarena versi Anida oleh seluruh hadirin. Ini menjadi momen lucu dan membuat heboh, karena para penari yang rerata berusia lansia sudah tak dapat melakukan gerak tari dengan sempurna, terlebih pada bagian level bawah yang harus merunduk, berlutut. Nyata benar Sebagian besar diantara para penari masih sulit menandingi kepiawaian Ibu Munasiah Daeng Jinne.

Meski begitu, kejadian tersebut justru menginspirasi untuk menghadirkan tari Massal Pakarena yang diikuti oleh sebanyak-banyaknya alumni, mantan anggota IKS dari masa ke masa. Kalau bisa memecahkan rekor jumlah terbanyak, penari Pakarena versi Anida oleh penari lanjut usia.

”Diupayakan terlaksana di bulan Juli 2026 di Makassar, Seiring Lunching buku “ Bunga Rampai Suka Duka di IKS dari Masa ke Masa” dan pengukuhan pengurus baru hasil rumusan formatur yang ditunjuk.” Harap H Syahrir Nur.     

Semoga Moment Arts Reuni IKS 2026 menjadi titik balik kepesertaan IKS dalam pemajuan kebudayaan Sulawesi Selatan.

 

Tamamaung, 29 Maret 2026


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama