-----
PEDOMAN KARYA
Jumat, 29 Mei 2026
Kekuasaan:
Pelajaran Bermakna di Pinggir Kolam
Oleh: Usman Lonta
(Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan
Publik Pimpinan Daerah Muhammadiyah Makassar)
Pernahkah Anda memperhatikan
sekawanan bebek yang diberi makan? Mereka akan menyergap makanan dengan riuh. Paruh
mereka bergerak tak sabar. Saling berebut butiran dedak atau sisa nasi.
Terlihat rakus kan? Sekilas, iya. Namun, perhatikan apa yang terjadi beberapa
menit kemudian ketika tembolok di leher mereka sudah membulat tegang.
Satu per satu bebek-bebek itu akan
berjalan menjauh. Mereka pergi ke pinggir kolam. Minum sedikit air, lalu duduk
dengan tenang atau sibuk merapikan bulu-bulunya. Bagi seekor bebek, kondisi
demikian sudah cukup.
Kelahapan bebek diatur oleh batas
biologis yang ketat berupa kapasitas tembolok. Mereka tidak akan menimbun sisa
makanan di dalam tanah untuk dikuasai sendiri. Tidak juga memonopoli. Bebek
tidak ingin menguasai seluruh ruang untuk melahap makanan.
Perilaku ini saya pelajari selama
kurang lebih sebulan terakhir ini sebagai peternak pemula. Bahkan saya lakukan
eksprimen dengan memberikan makanan melebihi takaran, seperti biasanya, namun
ternyata bebek pun menyisakan makanan tersebut.
Sayangnya, dalam panggung politik
dan struktur kekuasaan manusia, “rem alami” ala bebek ini sering kali tidak
berfungsi. Berbeda dengan bebek, manusia dibekali dengan sifat ego dan sifat
rakus. Dua sifat tersebut, jika tidak dikendalikan, bisa menciptakan jenis
kelaparan yang mustahil dikenyangkan.
Jika virus kerakusan akan
kekuasaan, egoisme, dan nafsu serakah semacam ini bersemayam dalam diri seorang
penguasa atau pejabat, maka mereka tidak lagi berpikir tentang fungsi
pelayanan, dan fungsi distribusi agar terwujud keadilan, melainkan berpikir
akumulasi yang dikendalikan oleh sifat dan nafsu serakah tersebut.
Jika bebek berhenti saat kenyang,
manusia yang mabuk kekuasaan akan terus menambah porsi “makanannya”,
memperpanjang masa jabatan, mengubah aturan demi melanggengkan posisi, hingga
menyuburkan nepotisme.
Metamorfosis seperti ini sangat mengerikan.
Mereka yang awalnya berjanji menjadi pelayan rakyat, pelan-pelan berubah
menjadi makhluk yang tak pernah puas. Mengapa? Karena dalam dunia kekuasaan,
tidak ada organ biologis seperti tembolok bebek yang bisa memberikan sinyal eh...
“Cukup, kamu sudah kekenyangan.”
Bayangkan jika seekor bebek memaksa
memasukkan seluruh makanan tersedia ke dalam paruhnya hingga lehernya pecah.
Terdengar bodoh, bukan? Namun, itulah yang dilakukan oleh para pejabat yang
tidak pernah puas.
Mereka menumpuk aset, memonopoli
hukum, dan mengangkangi ruang publik. Mereka lupa bahwa struktur biologis
manusia itu terbatas. Bahwa kita hanya bisa tidur di satu kasur dalam satu
waktu, dan hanya bisa memimpin sampai batas usia tertentu. Kerakusan kekuasaan
adalah bentuk ketakutan neurotik akan kehilangan kendali, yang ironisnya,
justru sering kali berakhir dengan kehancuran diri sendiri.
Dunia hari ini membutuhkan lebih
banyak pemimpin yang mau belajar dari filosofi bebek di pinggir kolam. Pemimpin
yang tahu kapan harus datang, kapan harus bekerja keras sebagai bentuk
pengabdian dan amanah. Seperti bebek yang lahap membersihkan hama di
sawah, dan yang paling penting bahwa
kapan harus berjalan mundur dan memberikan giliran kepada yang lain.
Bebek mengajarkan kita tentang
kearifan batas. Bahwa seonggok kekuasaan dan jabatan, seberapa pun nikmatnya,
harus memiliki titik henti. Ketika tugas selesai dan kebutuhan bersama telah
terpenuhi, turunlah dengan terhormat. Beristirahatlah di pinggir kolam dengan
tenang, tanpa harus memikul beban kerakusan yang mengotori nama baik hingga
akhir hayat. Wallahu a’lam bishshawab.
Sungguminasa, 27 Mei 2026

Setuju
BalasHapus