Rekreasi dan Mandi-mandi pada Pesta Adat Aklammang

SUNGAI LANTANG. Sejumlah warga mandi-mandi di Sungai Lantang, Desa Lantang, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar. Mereka tak hanya datang untuk mandi sekadar berekreasi, karena air Sungai Lantang juga dianggap dapat memberi berkah. Tidak mengherankan bila banyak yang datang hanya untuk mencuci muka, mengharapkan keberkahan. (Foto: Rusdin Tompo)    

 

----

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 09 Mei 2026

 

Pesta Adat Aklammang di Desa Lantang Takalar (3-habis):

 

Rekreasi dan Mandi-mandi pada Pesta Adat Aklammang

 

Oleh: Rusdin Tompo

(Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

 

Saya bangun saat terdengar bunyi masjid. Lamat-lamat tarhim terdengar dari kejauhan, disusul kumandang azan Subuh dari masjid yang berada di sisi utara dan selatan desa. Masjid Nurul Huda di Dusun Kalumbangara, dan Masjid H. Muhammad Basir di Dusun Borongunti.

Sungguh, suasana tenang begini jarang lagi didapat. Udara alami yang masuk lewat jendela, yang sengaja dibiarkan terbuka, menambah adem perasaan. Itu mungkin yang membuat tidur saya nyenyak semalaman.

Daeng Kenna sudah sibuk di dapur. Begitupun dengan Daeng Ngerang, baru selesai dengan pembakaran lammangnya. Lammang itu yang jadi salah satu menu sarapan pagi kami, di samping burasa, dan bolu pallu cekla.

Terhidang juga bajabu, yang mirip serundeng. Bajabu terbuat dari kelapa yang dikukur, lalu disangrai dan dicampur bumbu, berupa gula merah, bawang putih, serai, ketumbar, merica, dan asam jawa.

Kami kembali ngobrol sehabis sarapan bersama.

Pesta adat aklammang tidak diketahui sejak kapan mulai diadakan. Tradisi yang jadi perekat silaturrahim dan penguat solidaritas sosial ini, dilakukan masyarakat Desa Lantang secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Menurut Daeng Kenna, neneknya bercerita bahwa tradisi ini sudah dilakukan sejak lama. Ditarik ke atas, cerita ini diturunkan dari nenek buyutnya, tanpa angka-angka tahun yang pasti. Mungkin sudah lebih ratusan tahun.

Sebagai masyarakat Desa Lantang, mereka tidak tahu sejarah tradisi aklammang. Hanya mitos yang beredar secara lisan dari percakapan warga.

Syahdan, terdapat buaya jelmaan leluhur, yang diakui sebagai patanna Lantang atau patanna pakrasangang (pemilik kampung). Buaya itu merupakan penjaga sungai yang diyakini membantu kesuburan lahan.

Mitos lain terkait Raja Kare Lantang yang menyamar, ingin merasakan kehidupan rakyat jelata. Kisah itu, kemudian menjadi dasar perayaan rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh sebagai bentuk empati dan kebersamaan antara raja dan rakyatnya.

Kare atau Kareng merupakan gelar bangsawan Makassar, di masa lampau, seringkali dianggap pendahulu istilah Karaeng. Kare memimpin wilayah lokal sebelum terbentuknya sistem pemerintahan Kerajaan Gowa-Tallo yang lebih terpusat.

“Menurut sejarahnya, dahulu kampung ini sering didatangi raja. Warga tidak mungkin kasi makanan hanya beralaskan daun pisang. Maka disuguhi makanan dengan aklammang,” begitu versi yang dituturkan Daeng Ngerang.

Untuk melihat lebih dekat seperti apa Sungai Lantang yang jadi lokasi ritual appassorong lammang, Jumat itu, pukul 09.00, saya dan istri ke sana. Kami mengendarai sepeda motor. Agar tidak nyasar, kami bertanya begitu bertemu pertigaan jalan. Jauh juga rupanya. Mungkin sekira 3 km dari tempat nginap kami.

Tak ada penanda arah ke lokasi acara. Misalnya berupa umbul-umbul atau spanduk. Saya tak menggunakan Google maps, hanya feeling saja. Patokannya, belok kiri setelah jembatan. Kami melewati jalanan rusak, berbatu dan becek.

Istri saya di boncengan sempat bertanya, “Cocok ji ini?” Saya mengiyakan, dan terus menjalankan kendaraan hati-hati. Dari jauh sudah tampak tenda-tenda berwarna biru milik pedagang.

Setelah tiba, saya memarkir sepeda motor di dekat panggung acara yang beralaskan karpet merah. Kursi-kursi diatur rapi menghadap panggung.

Musik berdentam dari pengeras suara yang dipasang di depan panggung. Lagu dangdut yang disetel terasa memekakkan telinga.

Sebuah spanduk vinyl besar terpampang, sebagai backdrop acara. Tertulis “Pesta Rakyat Adat Lammang 2026”. Penyelenggaranya adalah Karang Taruna Jeknetallasa Desa Lantang dan Karang Taruna Cokoloe Desa Kale Lantang. Lokasi ini merupakan area permandian dengan spot air terjun yang menarik.

Pada sisi kami berada, terdapat beton tinggi sebagai pembatas ke sungai. Namun dibuatkan anak tangga untuk menuju ke sungai. Pepohonan rimbun menaungi mereka yang berada di bawahnya. Tampak sejumlah warga mandi menikmati sejuknya air dan indahnya alam.

Sementara di seberang, tidak ada pembatas beton dengan sungai. Alamnya terbuka luas. Di sanalah nanti posisi pinati saat memimpin ritual appassorong.

Di dekat permandian air terjun, yang jadi lokasi acara, terdapat saukang, yakni tempat yang dikeramatkan. Saukang ini merupakan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan.


Panggung Pesta Rakyat Adat Lammang 2026. (Foto: Rusdin Tompo)

Sungai Lantang Dapat Memberi Berkah

 

Ternyata, warga tak hanya datang untuk mandi sekadar berekreasi. Karena air Sungai Lantang juga dianggap dapat memberi berkah. Tidak mengherankan bila banyak yang datang hanya untuk mencuci muka, mengharapkan keberkahan.

Daeng Ngai, 40 tahun, malah mengambil air sungai yang ditaruh di dalam bekas botol air kemasan untuk dibawa pulang.

“Kalau ada yang sakit-sakitan, bisa dikasi air ini,” katanya sambil beranjak pergi, tanpa memberi tahu, apakah airnya diminum, atau diapakan.

Saya kemudian mengalihkan perhatian kepada para pedagang. Saya menghampiri Rahmatia Daeng Ngai, warga Palleko, pemililk Warung Jajanan Rahmah.

Wanita berusia 45 tahun, yang biasanya berjualan di Pasar Palleko itu, mengaku bisa meraup pendapatan lebih Rp1 juta bila ada pesta adat aklammang.

Pedagang lainnya, Daeng Baji, asal Bila Cakdi, sudah lebih belasan tahun berjualan di lokasi acara adat aklammang ini. Pengakuan yang sama juga datang dari Daeng Ngotta, yang menjual telur asin.

Ketika ditanya, dimakan dengan apa telur asin yang dijual? Dia menjawab enteng, “Makan dengan lammang, kalau ada mi lammang na sebentar.”

Beraneka jualan ditawarkan pedagang di sekitar area acara, yang di belakangnya terbentang persawahan.

Bakso, batagor, gorengan, minuman kemasan, balon, dan mainan anak-anak semua tersedia. Odong-odong tak mau ketinggalan, datang meramaikan acara.

Kami memilih pulang sebelum acara dimulai, khawatir nanti terjebak di tengah keramaian. Apalagi waktunya sudah menjelang jumatan. Padahal, tadinya saya ingin melihat langsung rangkaian prosesi adat aklammang di Sungai Lantang ini, sebagaimana diceritakan Muhammad Ilham Syamsuddin, adik Nanda, semalam.

Ilham merupakan mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar. Ia anggota Karang Taruna Desa Lantang.

Ilham menggambarkan prosesi adat aklammang. Sebelum appassorong lammang oleh pinati, didahului angngaru Lantang, lalu suguhan Tari Salonreng, yang penarinya berbaju hijau. Tarian ini diiringi gendang (ganrang).

Saat itulah pinati annyorong lammang pelan-pelan penuh khidmat, yang ditaruh di atas rakit berbentuk rumah-rumahan. Di atas rakit itu, selain lammang, ada pula songkolo, telur, ayam bakar, daun sirih, buah pinang, kapur sirih, dan lilin merah.

Ketika kami sudah kembali, tamu-tamu mulai berdatangan ke rumah Daeng Kenna dan Daeng Ngerang.

Di antara tetamu itu adalah Hj Andi Tenri Citra Sari Daeng Karaeng dan suaminya, H Haeruddin Mallingkai Daeng Sekre, dari Gowa, dan Andi Maryam Marzuki Karaeng Bainea, dari Polongbangkeng, Takalar.

Tamu-tamu terus berdatangan setelah shalat Jumat. Selain keluarga dan tetangga desa, juga rekan-rekan guru Daeng Kenna dari Paud Nur Ichsan, Kepala SMA Negeri 8 Takalar, yang merupakan pimpinan Daeng Ngerang, dan beberapa guru juga hadir.

Pemandangan yang sama juga saya lihat di rumah-rumah warga lainnya. Keramaian tampak dari mobil-mobil dan sepeda motor yang berjejer di halaman atau terparkir di pinggir jalan. Ada yang malah memasang tenda, layaknya pesta, sambil berkaraoke lagu-lagu daerah Makassar.

Perayaan pesta adat aklammang tahun ini, dihadiri Bupati Takalar, Firdaus Daeng Manye. Iring-iringan kendaraan dinas bupati terlihat melewati depan rumah Daeng Kenna, pagi tadi.

Di tahun-tahun sebelumnya, acara pesta rakyat ini pernah dihadiri Syahrul Yasin Limpo, semasa menjadi Menteri Pertanian, dan pernah pula dihadiri Andi Sudirman Sulaiman, Gubernur Sulawesi Selatan, di tahun 2023.***


.....

Tulisan Bagian ke-2: Filosofi Abbulo Sibatang dalam Pesta Adat Aklammang di Takalar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama