“Senandung Sunyi” Bagus di Zaman Pujangga Baru

SENANDUNG SUNYI. Peserta diskusi buku puisi “Senandung Sunyi” karya Muhammad Amir Jaya foto bersama seusai diskusi, di Kafe Baca, Jl. Adhyaksa, Makassar, Sabtu, 02 Mei 2026. (ist)  

 

-----

PEDOMAN KARYA

Ahad, 03 Mei 2026

 

Diskusi Buku Puisi:

 

“Senandung Sunyi” Bagus di Zaman Pujangga Baru

 

Oleh: Mahrus Andis

(Penyair, Kritikus Sastra)

 

Diskusi buku puisi karya Muhammad Amir Jaya berlangsung seru di Kafe Baca, Jl. Adhyaksa, Makassar, Sabtu, 02 Mei 2026.

Pembicara yang ditunjuk oleh panitia adalah Prof Mardi Amin (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unhas), dan Prof Kembong Daeng (Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra UNM). Namun Prof Kembong berhalangan hadir sehingga digantikan oleh dua orang sekaligus yaitu Dr Anil Hukma, dan Dr Syafruddin Muhtamar (keduanya adalah penyair dan dosen di Makassar).

Beberapa sastrawan dan budayawan Sulsel yang hadir antara lain Prof Hamdar Arraiyah, Dr M. Dahlan Abubakar, Dr. Syahriar Tato, dan Yudhistira Sukatanya. Diskusi berlangsung seru ketika tiga pembicara selesai menyampaikan apresiasinya terhadap 100 lebih puisi Amir Jaya yang dihimpun dalam antologi “Senandung Sunyi.”

Keseruan diskusi tersebut terjadi karena ketiga pembicara nampak berupaya menggali kekuatan puisi Amir Jaya sebagai kekayaan puitik. Namun sayang, penggalian nilai puitika itu terasa mengambang dan hanya terkesan sebagai “puji-pujian” terhadap sosok penyair Amir Jaya. 

Ketiganya lebih fokus membahas kiprah Amir Jaya sebagai penyair yang banyak mengembara di dunia imaji dibanding mengedepankan contoh-contoh kekuatan puitik yang mereka bicarakan dan penting dipahami audiens. 

Yudhistira Sukatanya, ketika memberi tanggapan, menyatakan bahwa para peserta diskusi seakan disodori diskursus perenungan yang bersifat metafisik (maksudnya, di luar logika tekstual karena objek diskusi tidak nyata).

Saya sependapat hal itu. Bagi saya, diskusi ini membuat orang bingung lantaran panitia tidak menyediakan teks puisi yang harus dipertimbangkan tingkat kualitasnya, baik isi maupun bahasanya.

Satu hal yang pasti saya akui bahwa M. Amir Jaya memiliki kecerdasan bahasa dalam meramu puisinya. Itu dapat dilihat pada beberapa karyanya yang lain. Namun pada puisinya kali ini, hal tersebut kurang membumi.

Banyak kelengahan pada dimensi analisis semiotiknya. Katakanlah bahwa analisisnya memilih diksi kurang tajam dan tidak menukik ke palung makna yang lebih filosofis. Ini  dapat kita lihat pada judul bukunya “Senandung Sunyi” yang dia tulis di tahun 1980-an.

Menurut saya, frasa judul tersebut mengingatkan kita kepada penyair Amir Hamzah di era Angkatan Pujangga Baru .

Karena itu, judul “Senandung Sunyi” tidak nikmat digunakan di era perpuisian saat ini. Frasa “Senandung Sunyi” sudah tergolong klise dan tidak lagi memiliki getah sastra. Wallahu a’lam.

 

Makassar, 02 Mei 2026


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama