Memuliakan Kehidupan Demokratis

 



PEDOMAN KARYA

Sabtu, 27 Juni 2026

 

Memuliakan Kehidupan Demokratis

 

Oleh: Syafruddin Muhtamar

(Dosen Universitas Muslim Indonesia)

 

Ketika demokrasi pertama kalinya diterapkan di Athena, abad sebelum sebelum masehi, polis menjadi payung teduh perlindungan asa warga bawahan, dari kesewenangan kuasa para bangsawan (aristoi).

Dominasi destruktif kaum aristoi ketika itu, menjadi akar gaung suara kritis. Demokrasi kemudian lahir sebagai anak yang dirindukan dalam kesadaran hidup bersama di peradaban Yunani. Ribuan tahun setelahnya, sistem itu menginspirasi masyarakat modern, menjadi praktik permanen negara-negara konstitusional hari ini.

Dalam file sejarah, demokrasi melewati perjalanan bergelombang dengan ritme penuh suka dan duka. Model tata hubungan negara dan warga negara itu, kini tetap setia mendekam sebagai materi muatan dasar konstitusi negara modern. Bahkan makin disempurnakan dengan memberinya asesoris dasar nilai (hak) asasi manusia.

Kebijaksanaan kuno demokrasi, dispotlight Ariestoteles sebagai kehadiran pemerintahan yang memberi keseimbangan kepentingan antar pihak dalam operasi kekuasaan negara.

Demokrasi adalah titik tengah keseimbangan berbagai kepentingan dalam radius kekuasaan konstitusional negara. Dalam demokrasi, kekuasaan tidak diperkenankan memelihara anak emas dan anak tiri “urusan dan kepentingan” dalam keluarga besar kebangsaan-negara. Ini etik politik negara demokrasi tanpa pertanyaan.

Melampaui batas moral keseimbangan itu karena penyalahgunaan politik demokrasi, akan memberi alamat pada penguasa kearah tirani, despotis dan ekstrimis. Beresiko menyeret sistem demokrasi berada diluar jalur kestabilannya.

Otoritas kuasa formal akan menghadapi ‘desakan alamiah’ dari kuasa ‘non-formal’, sebagai pemegang kunci daulat atas kekuasaan negara. Desakan pemegang kedaulatan, merupakan ‘cara luar’ dari sistem ini mengembalikan jalan ke titik keseimbangan, yang telah dilanggar dari ‘dalam’.

Namun, penyalahgunaan politik demokrasi ini, secara potensial bukan hanya dapat terjadi pada pemegang kekuasaan formal. Tetapi warga-rakyat, sebagai subjek utama sistem, juga punya peluang menggeser titik keseimbangan itu, jika jalan perjuangan aspirasinya melewati jalan amarah.

Jika kekuasaan massal atau people power mendominasi kekuasaan negara dalam dikte kepentingan melalui cara-cara desktruktif. Melawan rasio kemanusiaan-sosial dan mengobrak-abrik pedoman hidup bersama (adat, hukum dan konstitusi), maka juga akan berdampak pada rusaknya jalinan kehidupan yang beradab dalam tatanan demokratis.

Praktik irrasional itu, juga pada esensinya adalah bentuk tirani, despotis dan ektrimis ‘yang lain’. Juga dapat merapuhkan tatanan demokrasi. Betapa diperlukannya mekanisme kebijaksanaan yang sedemikiran rupa, bagi kita yang hidup di alam demokrasi. Karena mudah saja bagi kita yang ‘khilaf kuasa’ untuk membawa sistem itu menjauh dari titik keseimbangannya.

Socrates mengambil jalan paling vital dan kritis dalam hidupnya, demi ‘keagungan’ demokrasi. Ketika kehidupan polis melampaui batas etik dan moril demokrasi. Socrates menolak hidup dalam sistem yang akan meracuni kebijaksanaan manusia. Ketika demokrasi dikendalikan oleh power irrasional dan menjauh dari kebajikan dan kebenaran sublim.

Hakikat adab demokrasi berdiri kokoh di atas karpet merah ‘istana’: dimana rakyat memerintah, menguasai, melayani, membangun, memberdayakan, mencerdaskan, menjamin, mengembangkan, mamajukan, melindungi ‘dirinya sendiri’ dan seluruh dimensi kebaikan bagi kehidupannya, melalui kekuasaan.

Seperti adigium klasik, yang selalu mendengung di telinga: goverment of the people, by the people and for the people. ‘People’ adalah lingkaran sublim jiwa kebangsaan, dalam moral, etika, nilai kemanunisaan dan ketuhanan.

Adab demokratik ini sophisticated sekaligus mengandung etik complicated: ketika rakyat ‘memilih dirinya sendiri’ dengan mewakilkan diri pada ‘subyek lain’ melalui mekanisme pemilihan pemimpin sebagai refleksi ‘kedaulatan rakyat’.

Maka berjaraklah dua kekuasaan seketika itu: satu sisi ‘subjek’ pemegang kedaulatan, sisi lain ‘subjek’ yang terpilih dalam kekuasaan formal, yang membawa predikasi kedaulatan rakyat.

Jika pemilihan pemimpin (Pemilu) merupakan cermin sejati adab demokrasi, maka prosesnya pasti juga beradab. Hasilnya: antara pemegang kedauatan riil dan dan yang terpilih sebagai wakil pemegang kedaulatan, satu tarikan nafas, satu jiwa, satu visi dan misi.

Sehingga, pembelokan kepentingan pemilik kedaulatan oleh wakilnya, tidak akan terjadi terlalu jauh, hingga menyakiti ‘urusan dan kepentingan’ yang diwakili. Hati, pikiran, lidah dan perbuatan ‘wakil rakyat’ adalah pengejawantahan langsung dari ‘urusan dan kepentingan’ warga-rakyat. Pada sisi inilah, titik mula kesimbangan itu dapat mewujud.

Koreksi, kritikan dan masukan aspirasi dalam proses hidup bersama melalui jalan ketatanegaraan dan kebangsaan, tidak akan terlalu jauh berisiko pada relasi ketegangan yang tidak produktif dan desktruktif, hingga mengancam keretakan dan keruntuhan hidup beradab. Karena warga-rakyat sungguh-sungguh merasakan amanah kekuasaan yang telah dipersembahkannya, terpenuhi secara proporsional (adil, manfaat dan maknawi).

Jiwa sublim warga-rakyat akan sangat memahami ‘jangkauan urusan dan kepentingannya’ terhadap negara, tidak akan melampaui batasnya jika urusan dan kepentingan proporsionalnya telah terlayani dan terpenuhi melalui kebijaksanaan kekuasaaan.

Namun jika kita semua melampaui batas keseimbangan itu, maka kita mengorbankan kehidupan politik beradab kita sendiri, sehingga rasa tanggungjawab memelihara keseimbangan kehidupan demokratis, akan mencerminkan kearifan kebangsaan.

Sebuah bukti kesanggupan kita (sebagai elemen demokrasi) menundukkan amarah melalui rasa kasih sayang dalam jalinan hidup bersama.

Ibu Pertiwi merangkul manusia-bangsa-negara di atas tanahnya, airnya dan udaranya, budaya, adat-istiadat, hukum dan spritualitasnya. Mereka sangat terhormat dalam makna, jika diberi harga tinggi dalam kemuliaan. Dan, apakah sistem demokrasi ‘kita’ masih memiliki vitalitas, menjaga kemualiaan itu?


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama