![]() |
| Pele merayakan kemenangan Brasil atas Italia pada final Piala Dunia 1970 di Meksiko, 21 Juni 1970. (int) |
-----
PEDOMAN KARYA
Kamis, 18 Juni 2026
Sejarah Piala Dunia Sepak Bola FIFA (9):
Piala Dunia 1970 Pertama Kali Pergantian
Pemain dan Kartu Kuning
Oleh: Asnawin Aminuddin
Piala Dunia FIFA 1970 merupakan edisi
kesembilan dari Piala Dunia FIFA, yang diselenggarakan di Meksiko, 31 Mei
hingga 21 Juni 1970. Meksiko dipilih FIFA pada bulan Oktober 1964 dalam sidang
di Tokyo, Jepang.
Edisi ini adalah edisi pertama Piala Dunia
dilaksanakan di negara Amerika Utara, membuat turnamen dilaksankan di luar
Amerika Selatan dan Eropa.
Turnamen ini dimenangkan Brasil, setelah
memenangkan pertandingan final atas Italia dengan skor 4–1, sehingga Brasil
menjadi tim pertama yang memenangkan Piala Dunia untuk kali ketiga dan berhak
memiliki Piala Jules Rimet untuk selamanya.
Jerman Barat meraih juara ketiga setelah
menang dengan skor 1–0 atas Uruguay. Baik pertandingan final maupun
pertandingan perebutan tempat ketiga dilaksanakan di Stadion Azteca, Kota
Meksiko.
Untuk kali pertama, pergantian permain
dibolehkan dalam ajang Piala Dunia. Pada turnamen ini, setiap tim diperbolehkan
melakukan dua kali pergantian pemain.
Uni Soviet menjadi tim pertama yang
melakukan pergantian saat menghadapi Meksiko pada pertandingan pembuka. Viktor
Serebryanikov menjadi pemain pertama yang ditarik keluar, dan digantikan oleh
Anatoly Puzach pada menit ke-45.
Untuk kali pertama pula, Piala Dunia
menggunakan kartu kuning dan merah untuk peringatan dan pengusiran.
Pada pertandingan pembuka, lima kartu
kuning keluar dari saku wasit Kurt Tschenscher dari Jerman Barat, dan total 33
kartu kuning keluar selama turnamen (rata-rata 1,03 per pertandingan),
sementara tidak ada kartu merah yang keluar selama turnamen.
Final Piala Dunia 1970 juga disiarkan
secara tunda oleh TVRI atas inisiasi Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, lewat
sumbangan dari pemerintah serta para pemilik televisi di Jakarta dan
sekitarnya. Penayangan hanya terbatas di wilayah ibukota mengingat masih
terbatasnya jumlah televisi saat itu.
Tim “Samba” Brasil memenangkan seluruh
pertandingan mereka sejak babak kualifikasi hingga partai final. Rekor 100%
Brasil merupakan yang pertama dan satu-satunya yang pernah tercipta di
perhelatan Piala Dunia.
Kegilaan Brasil enggak berhenti di situ.
Jairzinho mengukir rekor unik sebagai satu-satunya pemain dalam sejarah yang
selalu mencetak gol di setiap pertandingan putaran final Piala Dunia (total 7
gol).
Kualifikasi
Total sejumlah 75 tim mengikuti babak
kualifikasi. Tim besar yang gagal lolos antara lain Prancis, Portugal,
Hungaria, Argentina, dan Spanyol.
Maroko menjadi tim Afrika pertama yang
lolos ke putaran final Piala Dunia setelah Perang Dunia II. Pertandingan
kualifikasi Zona CONCACAF antara El Salvador dan Honduras memicu sebuah perang,
yakni Perang Sepak Bola.
Maskot
Maskot resmi Piala Dunia edisi kali ini
dinamai Juanito, yang digambarkan sebagai seorang pria yang menggunakan seragam
timnas Meksiko dan sebuah sombrero yang bertuliskan “Mexico 70.”
Babak Grup
Setelah upacara pembukaan, tuan rumah
Meksiko menghadapi Uni Soviet. Ini kali terakhir tuan rumah bertanding terlebih
dahulu karena pada edisi selanjutnya juara bertahanlah yang akan bertanding
pertama kali sampai Piala Dunia 2006.
Dua laga di Grup 1 dan banyak laga lainnya
digelar pada tengah hari waktu Meksiko untuk menyesuaikan jam tayang di Eropa.
Pertandingan pertama berakhir imbang tanpa gol, sehingga menimbulkan spekulasi
di kalangan media bahwa turnamen kali ini akan berlangsung dalam tempo lambat
karena cuaca yang panas.
Pemain Uni Soviet, Anatoliy Puzach menjadi
pemain pertama yang diganti dalam sejarah Piala Dunia setelah FIFA
memperkenalkan aturan baru ini. Kedua tim akan lolos ke babak berikutnya
mengalahkan Belgia dan tim debutan El Salvador.
Grup 2 menjadi grup dengan gol paling
sedikit (6 gol) di mana juara Copa América, Uruguay dan juara Piala Eropa,
Italia akhirnya lolos setelah menyingkirkan Swedia dan debutan Israel.
Swedia punya kesempatan lolos apabila
mampu mengalahkan Uruguay dengan dua gol, tetapi akhirnya mereka hanya menang
1–0. Beberapa jam sebelum laga, FIFA memutuskan mengganti wasit setelah
menyebarnya rumor penyuapan terhadap wasit di Meksiko. Italia menjadi juara
grup walaupun ditahan oleh Israel dengan skor 0-0.
Karena kurangnya sistem pot dalam undian, Grup
3 menjadi grup neraka karena juara bertahan Inggris berhadapan dengan dua kali
juara Brasil. Persiapan Inggris terganggu setelah penangkapan kapten mereka,
Bobby Moore di Kolombia atas dugaan pencurian gelang di toko perhiasan. Kasus
ini akhirnya dibatalkan.
Sikap manajer Inggris, Alf Ramsey dan para
awak media Inggris dianggap oleh banyak masyarakat setempat sebagai sikap tidak
ramah dan xenofobia terhadap Meksiko yang menjadi tuan rumah kompetisi
tersebut, sehingga tim Inggris tidak mendapatkan sambutan yang ramah selama di
Meksiko.
Brasil dan Inggris sama-sama mengalahkan
lawannya di laga awal yaitu Cekoslowakia dan Rumania. Di laga kedua, Brasil
bertemu Inggris pada laga yang sangat dinantikan. Penjaga gawang Inggris,
Gordon Banks melakukan penyelamatan gemilang terhadap sundulan Pelé dari jarak
dekat, kelak penyelamatan ini dianggap Pelé sebagai penyelamatan terbaik dalam
kariernya.
Brasil unggul setelah Jairzinho mencetak
gol di babak kedua sekaligus mengunci kemenangan Brasil. Kedua tim nantinya
akan lolos dari babak grup 3.
Grup 4 dimulai saat Bulgaria unggul
terlebih dahulu atas Peru 2-0 sebelum Peru membalikkan keadaan menjadi 3-2 di
babak kedua. Maroko, perwakilan Afrika pertama sejak 1934, juga mengawali laga
dengan baik saat unggul 1-0 atas Jerman Barat walaupun akhirnya takluk 2-1.
Jerman Barat juga tertinggal dari Bulgaria
di laga kedua, tetapi hattrick Gerd Müller membantu Jerman Barat menang 5-2.
Müller kembali mencetak hattrick saat melawan Peru untuk membuat Jerman Barat
menjadi pemuncak grup 4.
Perempat Final
Meksiko dan Uni Soviet sama-sama lolos
dengan jumlah poin dan agregat gol yang sama sehingga FIFA memutuskan untuk
melakukan undian dalam menentukan juara grup.
Pada undian tanggal 12 Juni, Uni Soviet
menjadi juara grup dan akan menghadapi Uruguay di Stadion Azteca sedangkan tuan
rumah Meksiko akan menghadapi Italia di Toluca yang lebih kecil.
Ofisial Meksiko gagal melakukan lobi
terhadap FIFA agar memindahkan venue pertandingan untuk menghindari kemacetan
lalu lintas yang akan terjadi.
Meksiko unggul terlebih dahulu lewat gol
José Luis González, tetapi Javier Guzmán mencetak gol bunuh diri sebelum turun
minum. Italia kemudian mendominasi babak kedua dan akhirnya menang 4-1.
Uni Soviet juga akhirnya gugur setelah
sundulan Víctor Espárrago tiga menit sebelum babak extra-time usai mengunci
kemenangan Uruguay. sebelum terjadi gol, para pemain Soviet berhenti bermain
karena menganggap bola sudah keluar.
Pertandingan antara sesama tim Amerika
Selatan, Brasil melawan Peru berakhir dengan kemenangan Brasil 4-2.
Pertandingan ini dianggap sebagai salah satu laga yang paling menarik sepanjang
sejarah Piala Dunia. Brasil melakukan 27 kali tembakan dan Peru melakukan 22
tembakan.
Pertandingan selanjutnya merupakan
pertandingan ulang Final Piala Dunia 1966 antara Jerman Barat melawan Inggris
di León. Juara bertahan Inggris unggul 2-0 terlebih dahulu, tetapi Franz
Beckenbauer memperkecil kedudukan setelah tembakannya menjebol gawang Inggris
yang dikawal Peter Bonetti yang menggantikan Gordon Banks yang sakit akibat
keracunan makanan sehari sebelumnya.
Delapan menit sebelum usai, sundulan Uwe
Seeler akhirnya membuat Jerman Barat menyamakan kedudukan. Geoff Hurst sempat
mencetak gol di babak extra-time tetapi dianulir karena offside. Gol dari Gerd
Müller akhirnya menjadi penentu kemenangan Jerman Barat atas Inggris.
Semifinal
Semifinal Piala Dunia 1970 mempertemukan
dua laga sengit yang meloloskan Brasil dan Italia ke partai puncak.
Pertandingan tersebut adalah Brasil vs Uruguay yang berakhir dengan skor 3-1
untuk kemenangan Brasil, serta Italia vs Jerman Barat yang dimenangkan Italia
dengan skor 4-3.
Pertandingan semifinal antara Brasil versus
Uruguay diawali dengan gol pertama oleh Uruguay lewat gol Luis Cubilla pada
menit ke-19. Namun, Brasil membalas dengan tiga gol dari Clodoaldo (44'),
Jairzinho (76'), dan Rivelino (89') untuk memastikan kemenangan 3-1.
Pertandingan semifinal lainnya antara Italia
vs Jerman Barat dijuluki sebagai “Pertandingan Abad Ini” (Game of the Century)
karena menyajikan drama tujuh gol.
Jika Brasil adalah definisi keindahan,
maka laga semifinal antara Italia vs Jerman Barat di Stadion Azteca adalah
definisi murni dari drama dan pengorbanan fisik. Laga ini secara resmi
dianugerahi plakat sebagai “Game of the Century” alias “Pertandingan Abad Ini.”
Awalnya, pertandingan dua tim juara ini
berjalan normal. Skor imbang 1-1 bertahan hingga waktu normal berakhir. Namun,
apa yang terjadi di babak perpanjangan waktu (2x15 menit) benar-benar di luar
nalar. Kedua tim saling berbalas gol layaknya petinju yang melepaskan pukulan
pamungkas.
Jerman Barat membuka aksi berbalas gol
lewat sang Bintang Gerd Mueller pada menit ke-94. Namun, Italia langsung
merespons dan berbalik unggul 3-2 lewat gol Tarcisio Burgnich dan Luigi Riva
pada menit 98 dan 104.
Gerd Mueller dan tim Panser menolak angkat
bendera putih. Striker andalan Bayern Munich ini kembali membuat kedudukan
seimbang (3-3) lewat golnya pada menit ke-110. Puncak drama duel terseru abad
ini akhirnya ditutup oleh Gianni Rivera satu menit berselang. Penyerang AC
Milan itu berhasil meruntuhkan kokohnya tembok Jerman dan membawa Azzurri lolos
ke final dengan skor 4-3.
Selain
aksi berbalas gol di waktu tambahan yang monumental, momen paling heroik dalam
laga ini dipersembahkan oleh kapten Jerman Barat, Franz Beckenbauer.
Der Kaiser -julukan Beckenbauer- mengalami
cedera dislokasi bahu (dislocated shoulder) akibat dilanggar keras. Karena
jatah pergantian pemain Jerman sudah habis, Beckenbauer menolak keluar lapangan
dan terus bermain selama sisa laga dengan lengan kanan yang diikat perban
menempel erat ke dadanya.
Perebutan Tempat Ketiga
Jerman Barat meraih peringkat ketiga pada
Piala Dunia 1970 setelah mengalahkan Uruguay dengan skor tipis 1-0.
Pertandingan penentuan tersebut diselenggarakan di Stadion Azteca, Mexico City
pada 20 Juni 1970, dengan gol tunggal kemenangan dicetak oleh Wolfgang Overath.
Final
Di babak final, Brasil menghadapi Italia
yang kelelahan usai bertempur habis-habisan melawan Jerman di laga terbaik abad
ini. Di hadapan 107.000 penonton di Stadion Azteca, Italia tak berkutik
meladeni permainan sepak bola tingkat “dewa” Brasil. Selecao menutup laga
puncak dengan kemenangan telak 4-1.
Gol penutup yang dicetak oleh kapten
Carlos Alberto Torres dianggap sebagai salah satu gol kerja sama tim terbaik
sepanjang masa, di mana bola dialirkan dari kaki ke kaki lewat kerja sama 9
pemain berbeda sebelum dihantam tendangan keras Alberto ke pojok gawang.
Sesuai aturan aturan awal FIFA, negara yang berhasil memenangkan Piala Dunia sebanyak tiga kali berhak menyimpan trofi asli Jules Rimet secara permanen. Brasil memenangkan gelar ketiga mereka (setelah 1958 dan 1962), membuat trofi emas berbentuk dewi kemenangan itu resmi menetap di Rio de Janeiro.
.......
Referensi:
Piala
Dunia FIFA 1970; https://id.wikipedia.org/wiki/Piala_Dunia_FIFA_1970,
dikutip pada Rabu, 17 Juni 2026
Sejarah
Piala Dunia 1970: Mengapa Edisi di Meksiko Jadi yang Terbaik Sepanjang Masa?; https://www.medcom.id/olahraga/liga-dunia/gNQrvyYb-mengapa-piala-dunia-1970-meksiko-disebut-edisi-terbaik-sepanjang-masa-ini-alasannya,
dikutip pada Rabu, 17 Juni 2026
.......
Tulisan sebelumnya:
Sejarah Piala Dunia Sepak Bola FIFA (8): Inggris Juara Piala Dunia 1966 Lewat “Gol Hantu”
