-----
Selasa, 02 Juni 2026
Prabowo: Orang Desa Tak Pakai Dolar;
Akademisi: Dampaknya Tetap Sampai ke Desa
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA).
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak perlu
terlalu khawatir dengan kenaikan nilai tukar terhadap rupiah dolar Amerika
Serikat (AS) karena “orang desa tidak pakai dolar”, terus-menerus menjadi
perbincangan di ruang publik.
Pernyataan yang disampaikan saat peresmian
Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, muncul di tengah
kondisi rupiah yang masih berada pada kisaran Rp17.800 per dolar AS.
Bagi sebagian kalangan, pernyataan
tersebut dipandang sebagai upaya pemerintah untuk menjaga optimisme masyarakat
dan mencegah kepanikan akibat fluktuasi nilai tukar. Namun, sejumlah akademisi
menilai bahwa persoalan kurs tidak dapat dipahami hanya dari aspek penggunaan
mata uang dalam transaksi sehari-hari.
Dalam sistem ekonomi modern yang saling
terhubung, dampak perubahan nilai tukar dapat menjangkau hampir seluruh lapisan
masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah pedesaan.
Salah satu yang memberikan perhatian
terhadap isu tersebut adalah Dr. Andi Mulawakkan Firdaus, Peneliti Pendidikan
Matematika, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
Menurutnya, perdebatan mengenai hubungan
antara masyarakat desa dan dolar sesungguhnya membuka ruang diskusi yang lebih
luas tentang pentingnya literasi numerasi dan literasi ekonomi dalam kehidupan
masyarakat.
“Secara harfiah memang benar bahwa
masyarakat desa tidak menggunakan dolar sebagai alat transaksi sehari-hari.
Mereka membeli kebutuhan menggunakan rupiah, menjual hasil pertanian
menggunakan rupiah, dan menjalankan aktivitas ekonomi menggunakan rupiah. Namun
jika pembahasan berhenti pada aspek transaksi, maka kita kehilangan gambaran
yang lebih besar mengenai bagaimana sistem ekonomi bekerja,” ujar Andi
Mulawakkan kepada wartawan, di Makassar, Selasa, 02 Juni 2026.
Dia mengatakan, masyarakat perlu memahami
bahwa pengaruh dolar tidak hanya muncul ketika seseorang memegang atau
menggunakan mata uang tersebut. Pengaruhnya bahkan dapat dirasakan melalui
perubahan harga barang, biaya produksi, biaya distribusi, dan berbagai komponen
ekonomi lainnya yang memiliki keterkaitan dengan pasar internasional.
Andi Mulawakkan menjelaskan bahwa dalam
era globalisasi, perekonomian nasional tidak berdiri sendiri. Banyak sektor
kehidupan masyarakat yang bergantung pada barang, bahan baku, teknologi, maupun
layanan yang memiliki keterkaitan dengan perdagangan internasional.
Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah
melemah terhadap dolar AS, biaya impor cenderung meningkat. Kenaikan biaya
tersebut kemudian dapat memengaruhi harga berbagai barang dan jasa yang
digunakan masyarakat.
“Petani di desa mungkin tidak pernah
menukar rupiah menjadi dolar. Namun pupuk yang digunakan, mesin pertanian yang
dioperasikan, suku cadang alat produksi, hingga bahan bakar yang mendukung
aktivitas ekonomi memiliki hubungan dengan pasar global. Ketika nilai tukar
mengalami tekanan, biaya pada sektor-sektor tersebut berpotensi meningkat,”
kata Andi Mulawakkan.
Pemahaman seperti ini penting agar
masyarakat tidak melihat kurs sebagai persoalan yang hanya relevan bagi
kalangan pengusaha besar atau pelaku perdagangan internasional.
Ia menilai bahwa dalam ekonomi modern,
dampak perubahan kurs dapat bergerak secara berantai dan akhirnya memengaruhi
daya beli masyarakat. Karena itu, pelemahan rupiah tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan masyarakat desa maupun perkotaan.
Pendidikan Ikut Terdampak
Andi Mulawakkan menyoroti sektor
pendidikan yang menurutnya sering luput dari pembahasan ketika isu nilai tukar
menjadi perhatian publik.
Menurutnya, banyak pihak mengaitkan
pelemahan rupiah dengan harga pangan, energi, atau investasi. Padahal dunia
pendidikan juga memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap produk dan
layanan yang berkaitan dengan pasar global.
Saat ini, banyak sekolah dan perguruan
tinggi menggunakan perangkat komputer, jaringan internet, proyektor,
laboratorium digital, serta berbagai platform pembelajaran berbasis teknologi.
Sebagian besar perangkat tersebut menggunakan komponen impor atau layanan yang
dihitung menggunakan mata uang asing.
Selain itu, akses terhadap jurnal ilmiah
internasional, buku referensi akademik, perangkat lunak pendidikan, hingga
berbagai aplikasi pembelajaran juga dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar.
“Anak-anak di desa memang tidak memegang
dolar di tangan mereka, tetapi mereka menggunakan teknologi yang rantai
produksinya dipengaruhi oleh dolar. Mereka belajar melalui perangkat yang
komponennya berasal dari berbagai negara. Mereka mengakses sumber belajar yang
sebagian besar terhubung dengan ekosistem global. Jadi mengatakan bahwa dolar
tidak berdampak kepada masyarakat desa tentu perlu dipahami secara lebih
hati-hati,” ujar Andi Mulawakkang.
Keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas,
lanjutnya, berpotensi menjadi kelompok yang paling merasakan dampak tersebut.
Ketika biaya pendidikan meningkat, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah
memiliki ruang adaptasi yang lebih sempit dibandingkan kelompok ekonomi
menengah ke atas.
Di tengah polemik yang berkembang, Andi
Mulawakkan justru melihat fenomena pelemahan rupiah sebagai peluang untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Sebagai peneliti pendidikan matematika, ia
menilai bahwa peristiwa ekonomi yang sedang terjadi dapat dimanfaatkan sebagai
media pembelajaran kontekstual yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir
kritis peserta didik.
Menurutnya, selama ini matematika masih
sering diajarkan sebagai kumpulan rumus yang terpisah dari kehidupan
sehari-hari. Akibatnya, banyak peserta didik mampu menyelesaikan soal-soal di
kelas, tetapi kesulitan memahami data dan informasi yang mereka temui dalam
kehidupan nyata.
“Padahal fenomena kurs dolar merupakan
contoh yang sangat baik untuk pembelajaran matematika. Di dalamnya ada konsep
persentase, perbandingan, statistik, analisis data, grafik, hingga pengambilan
keputusan berbasis informasi. Semua itu merupakan bagian penting dari
kompetensi numerasi yang dibutuhkan masyarakat abad ke-21," ujarnya.
Ia mencontohkan bahwa guru dapat mengajak
siswa menghitung persentase pelemahan rupiah dalam kurun waktu tertentu,
menganalisis tren pergerakan kurs, atau memperkirakan dampaknya terhadap harga
suatu produk.
Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak
hanya belajar menghitung, tetapi juga belajar memahami bagaimana data digunakan
untuk menjelaskan fenomena sosial dan ekonomi.
Literasi Numerasi
Menurut Andi Mulawakkan, polemik mengenai
pernyataan “orang desa tidak pakai dolar” sesungguhnya menunjukkan pentingnya
penguatan literasi numerasi masyarakat di Indonesia.
Literasi numerasi tidak hanya berkaitan
dengan kemampuan berhitung, tetapi juga kemampuan memahami, menafsirkan, dan
menggunakan informasi berbasis angka dalam kehidupan sehari-hari.
“Masyarakat yang memiliki literasi
numerasi yang baik tidak akan melihat kurs hanya sebagai angka yang muncul di
layar televisi atau media sosial. Mereka akan bertanya apa penyebabnya, apa
dampaknya, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan mereka. Kemampuan
seperti inilah yang perlu dibangun melalui pendidikan,” kata Andi Mulawakkan.
Ia menilai peningkatan literasi numerasi
juga akan membantu masyarakat menjadi lebih kritis dalam menyikapi berbagai
informasi ekonomi yang beredar di ruang publik.
Dengan kemampuan tersebut, masyarakat
dapat memahami persoalan secara lebih objektif tanpa mudah terjebak pada
kepanikan maupun penyederhanaan yang berlebihan.
Andi Mulawakkan menegaskan bahwa
komunikasi publik yang baik tidak hanya bertujuan menenangkan masyarakat,
tetapi juga membantu masyarakat memahami situasi secara lebih utuh.
Edukasi ekonomi perlu menjadi bagian dari
upaya membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi dinamika global yang
semakin kompleks.
“Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar
informasi bahwa mereka tidak perlu khawatir. Yang lebih penting adalah membantu
mereka memahami mengapa suatu peristiwa terjadi, apa dampaknya, dan bagaimana
mereka dapat meresponsnya secara rasional,” tutur Andi Mulawakkan.
Ia berharap momentum perdebatan mengenai
nilai tukar rupiah dapat menjadi titik awal untuk memperkuat literasi numerasi,
literasi finansial, dan literasi ekonomi masyarakat Indonesia.
“Pada akhirnya, yang paling penting bukan
apakah seseorang menggunakan dolar atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah
masyarakat memahami bagaimana perubahan nilai tukar dapat memengaruhi kehidupan
mereka. Ketika pemahaman itu tumbuh, masyarakat akan lebih siap menghadapi
tantangan ekonomi dan mampu mengambil keputusan berdasarkan data serta fakta
yang ada,” kata Andi Mulawakkan. (win)
