Tugas Cendekiawan di Tengah Matinya Nalar Kritis

Cendekiawan sejati tidak boleh “pilek” ketika ketidakadilan sedang menyengat di depan hidungnya. Sebab, ilmu pengetahuan tanpa komitmen sosial hanyalah sebuah kemewahan egois yang tidak berguna bagi kemanusiaan. - Usman Lonta -

 

------

PEDOMAN KARYA

Senin, 01 Juni 2026

 

Tugas Cendekiawan di Tengah Matinya Nalar Kritis

 

Oleh: Usman Lonta

(Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar)

 

Dalam sebuah dialog publik Amien Rais pernah ditanya oleh salah seorang audiens tentang keberaniannya mengkritik Presiden Soeharto, dan bahkan menyerukan suksesi kepemimpinan nasional yang ketika itu hampir semua cendekiawan tidak berani melakukannya.

Dengan nada yang agak diplomatis Amien Rais menjawab, bahwa dirinya tidak berani, hanya ketika itu semua cendekiawan lagi tiarap dan dirinya agak mendongakkan kepala sehingga nampak kelihatan. Pada moment tersebut Amien Rais dengan nada satire, bercerita tentang tiga jenis binatang.

Dikisahkan bahwa kawanan kerbau dipanggil menghadap ke istana untuk menilai kondisi kediaman raja. Dengan kejujuran yang naif, kerbau menjawab apa adanya: “Istana baginda busuk!” Raja murka, sang kerbau pun dihabisi.

Keesokan harinya, giliran kawanan sapi yang diundang. Belajar dari nasib tragis kerbau, sapi memilih berbohong dan menjilat, sapi bertutur bahwa: “Istana tuan sangat harum dan megah”. Sial bagi sapi, raja tahu bahwa ia sedang dikelabui. Sang sapi menerima nasib yang sama mengenaskannya dengan kerbau.

Pada hari ketiga, giliran kancil yang dipanggil. Makhluk yang masyhur dengan kecerdikannya ini tampil dengan tenang dan berkata, “Baginda yang mulia, mohon maaf, hari ini saya sedang pilek berat. Indera penciuman saya sedang tidak berfungsi”. Raja tersenyum, menganggap sang kancil tak berguna untuk dihukum, lalu membiarkannya pulang ke habitatnya dengan selamat.

Cerita kuno ini bagi saya bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Cerita ini adalah metafora paling telanjang, dan barangkali paling menyakitkan untuk menggambarkan kondisi cendikiawan  kita ketika itu menghadapi kekuasaan.

Hari ini pun siklus itu berulang di hadapan kekuasaan. Ketika kebijakan publik semakin ugal-ugalan dan bau busuk perselingkuhan antara kekuasaan dan pemilik modal kian menyengat hidung masyarakat, para cendikiawan kita justru secara berjamaah memilih peran menjadi “Kancil Pilek”. Mereka memilih zona nyaman, berpura-pura kehilangan indera penciuman moral, demi bisa pulang ke habitat kenyamanan mereka tanpa tersentuh murka sang Raja.

Jika kita membedah tugas cendekiawan hari ini, kita akan dengan mudah menemukan personifikasi dari ketiga hewan dalam cerita tersebut.

Pertama, kelompok Kerbau. Mereka adalah segelintir cendekiawan idealis yang memilih jalur frontal. Mereka jujur meneriakkan kebenaran apa adanya mengenai dampak destruktif proyek strategis nasional, kerusakan lingkungan akibat industri ekstraktif, atau cacat formal undang-undang yang dipaksakan. Hasilnya? Persis seperti nasib kerbau, mereka disingkirkan, dikriminalisasi, bahkan dicopot dari jabatan struktural, atau pun jabatan fungsionalnya

Kedua, kelompok Sapi. Kelompok Ini adalah kawanan cendekiawan / akademisi transaksional yang melacurkan nalar demi sedekah jabatan. Mereka bertransformasi menjadi tim asistensi, tukang nujum (lembaga survei) atau penasehat yang sibuk membuat “stempel akademis” untuk mempercantik kebijakan penguasa yang busuk agar terlihat harum secara ilmiah. Mereka menukar integritas intelektual dengan kursi komisaris atau dana survei yang melimpah.

Ketiga, dan yang paling mayoritas: kelompok Kancil Pilek. Mereka adalah para cendekiawan birokrat kampus, guru besar, dan peneliti senior yang sebenarnya cerdas. Mereka tahu ada ketimpangan sosial, mereka paham hukum sedang ditekuk, dan mereka sadar ekonomi sedang dijajah segelintir orang.

Namun, alih-alih bersuara, mereka memilih berlindung di balik tameng netralitas sains yang palsu. Mereka mendadak “anosmia” (kehilangan penciuman, red) terhadap realitas publik dengan dalih fokus pada administrasi, akreditasi, dan ketertiban kampus.

Dalam kondisi demikian, pemikiran sosiolog revolusioner Ali Shariati patut menjadi renungan. Shariati secara tajam membedakan antara kaum Alim (intelektual berpendidikan) dengan Roushanfekr (cendekiawan tercerahkan).

Menurut Ali Shariati, bahwa kelompok Alim adalah orang-orang yang memperlakukan ilmu sekadar sebagai profesi, komoditas, atau alat naik pangkat. Mereka bisa jadi bergelar doktor atau profesor, tetapi ilmu mereka mandul secara sosial.

Mereka inilah yang terjebak dalam apa yang disebut Shariati sebagai Istihmar Modern (pembodohan modern). Penguasa tidak lagi membodohi masyarakat dengan takhayul, melainkan menggunakan cendikiawan untuk mengalihkan kesadaran publik dari isu-isu krusial melalui kesibukan-kesibukan teknokratis yang apolitis. Kelompok Kancil Pilek adalah potret sempurna dari kaum Alim yang terjangkit istihmar modern.

Sebaliknya, Shariati merindukan lahirnya Roushanfekr, cendekiawan sejati yang memiliki kesadaran kemanusiaan tinggi. Bagi Ali Shariati tugas seorang roushanfekr bukanlah berdiam diri di laboratorium atau menara gading yang kedap suara. Tugas mereka seperti nabi tanpa wahyu yaitu merasakan penderitaan rakyat, membangkitkan kesadaran massa yang tertidur, dan menerjemahkan rintihan sosial menjadi kritik yang rasional dan menggerakkan.

Cendekiawan sejati tidak boleh “pilek” ketika ketidakadilan sedang menyengat di depan hidungnya. Sebab, ilmu pengetahuan tanpa komitmen sosial hanyalah sebuah kemewahan egois yang tidak berguna bagi kemanusiaan.

Kancil dalam cerita tersebut memang selamat dari amarah raja hari itu. kancil bisa melenggang kangkung kembali ke habitatnya dengan tenang. Namun, sejarah selalu punya cara untuk menagih utang moral.

Ketika istana yang busuk itu akhirnya runtuh akibat korupsi, keserakahan, dan ketidakadilan yang dibiarkan, hutan tempat tinggal kancil pun akan ikut terbakar.

Cendekiawan yang hari ini memilih diam demi keselamatan posisi sebenarnya sedang menggali kuburnya sendiri untuk masa depan. Sebab, sejarah tidak pernah ramah pada cendekiawan yang memilih berpura-pura anosmia di saat lingkungannya dipenuhi oleh bau busuk. Sudah saatnya cendekiawan kita menyembuhkan “pileknya.”

Jika menjadi kerbau membuat kita hancur karena tanpa strategi, dan menjadi sapi membuat kita hina karena menjual harga diri, maka gunakanlah kecerdikan kancil, bukan untuk berpura-pura sakit, melainkan untuk merumuskan taktik perlawanan intelektual yang anggun, substantif, dan tak tergoyahkan. Cendekiawan harus kembali menjadi kompas moral. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Sungguminasa, 01 Juni 2026

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama