Argentina Juara Piala Dunia 1986, Maradona Ciptakan “Gol Tangan Tuhan”

GOL TANGAN TUHAN. Pemain Argentina, Diego Maradona, mencetak “Gol Tangan Tuhan” pada menit ke-55 ke gawang Inggris yang dikawal Peter Shilton, pada perempatfinal Piala Dunia 1986, di Meksiko. (int) 

 

-----

PEDOMAN KARYA

Rabu, 08 Juli 2026

 

Sejarah Piala Dunia Sepak Bola FIFA (13):

 

Argentina Juara Piala Dunia 1986, Maradona Ciptakan “Gol Tangan Tuhan”

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

 

Piala Dunia FIFA 1986 merupakan edisi ketiga belas dari Piala Dunia FIFA, yang diselenggarakan di Meksiko, 31 Mei hingga 29 Juni 1986. Meksiko terpilih menjadi tuan rumah penyelenggara edisi ini, menggantikan Kolombia yang mengundurkan diri, setelah melalui pemungutan suara Komite Eksekutif FIFA di Zürich, Swiss pada 20 Mei 1983, dengan mengalahkan Amerika Serikat dan Kanada.

Format yang digunakan pada edisi ini tidak jauh berbeda dengan Piala Dunia FIFA 1982 yang diselenggarakan di Spanyol, di mana ke-24 tim dibagi dalam enam grup yang masing–masing terdiri atas 4 tim. Perbedaannya, pada babak kedua, yang diikuti 16 tim tersisa, dipergunakan sistem gugur, bukan penyisihan grup.

Belajar dari kasus antara Jerman Barat dan Austria yang merugikan Aljazair empat tahun sebelumnya, maka pertandingan terakhir babak penyisihan grup dimainkan secara bersamaan di dua stadion yang berbeda.

Turnamen ini dimenangkan Argentina atas Jerman Barat setelah memenangkan pertandingan final di Azteca, Kota Meksiko dengan skor 3–2. Prancis meraih juara ketiga atas Belgia, setelah menang dengan skor 4–2 melewati perpanjangan waktu dalam pertandingan perebutan tempat ketiga di Stadion Cuauhtemoc, Puebla.

Diego Maradona, pemain Argentina menjadi pemain terbaik dalam turnamen edisi ini, dan Gary Lineker, pemain Inggris menjadi pencetak gol terbanyak dengan 6 gol.

Bola resmi pertandingan untuk edisi ini adalah bola buatan Adidas, yang diberi nama Azteca, yang disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat, sementara maskot resmi adalah Pique. Lagu resmi turnamen edisi ini adalah lagu yang dibawakan penyanyi Stephanie Lawrence, berjudul A Special Kind of Hero.

Kolombia pada awalnya telah dipilih sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA edisi ini dalam rapat Komite Eksekutif FIFA di Stockholm, Swedia pada 9 Juni 1974. Namun, pada 5 November 1982 pihak berwenang Kolombia menyatakan bahwa mereka tidak mampu untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA, sebab mereka merasa tidak mampu memenuhi syarat–syarat yang diajukan FIFA, karena situasi sulit di negara itu akibat konflik internal dan krisis keuangan di Kolombia.

Akhirnya, FIFA kembali membuka penawaran tuan rumah Piala Dunia FIFA edisi ini. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menyampaikan penawaran mereka. Pada 20 Mei 1983, melalui pemungutan suara Komite Eksekutif FIFA di Zürich, Swiss, Meksiko dinyatakan menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA edisi ini, dan mengalahkan penawaran Amerika Serikat (kemudian menjadi tuan rumah edisi 1994) dan Kanada.

Hal ini menjadikan Meksiko untuk menyelenggarakan kali kedua Piala Dunia FIFA setelah pada Piala Dunia FIFA 1970, Meksiko menjadi tuan rumah penyelenggara.

Delapan bulan sebelum dimulainya turnamen edisi ini, pada 19 September 1985 terjadi gempa berkekuatan 8,1 Skala Richter di Kota Meksiko dan menewaskan lebih dari 30.000 orang, sehingga banyak keraguan muncul atas kemampuan Meksiko untuk tetap menyelenggarakan acara dengan baik.

Setelah melalui pemeriksaan, ternyata stadion–stadion yang akan menjadi tempat penyelenggaraan tidak terkena dampak gempa yang cukup parah, dan akhirnya edisi ini tetap dilaksanakan di Meksiko sesuai jadwal.

Karena tahun 1986 dinyatakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai Tahun Perdamaian Internasional, papan iklan di seluruh stadion penyelenggara menampilkan logo FIFA dan Perserikatan Bangsa-Bangsa bersama dengan keterangan: “Sepak bola untuk Perdamaian–Tahun Perdamaian” (bahasa Inggris: Football for Peace–Peace Year).

Untuk rancangan logo turnamen, motto tak resmi dipergunakan, yakni: “El Mundo Unido por Un Balón” (Bahasa Spanyol) yang berarti: “Dunia disatukan oleh sebuah bola.”

 

Dua Kisah Legendaris


Piala Dunia 1986 di Meksiko menyisakan dua kisah legendaris yaitu “gol tangan Tuhan” dan aksi magis Maradona saat menjebol gawang Inggris.

Setelah melalui babak kualifikasi, ada 24 tim yang lolos ke putaran final Piala Dunia 1986 termasuk Meksiko sebagai tim tuan rumah.

Ke-24 tim peserta Piala Dunia 1986 adalah sebagai berikut: Conmebol: Argentina, Brasil, Paraguay, Uruguay. CONCACAF: Kanada, Meksiko (tuan rumah). UEFA: Belgia, Bulgaria, Denmark, Inggris, Perancis, Hongaria, Italia, Irlandia Utara, Polandia, Portugal, Skotlandia, Uni Soviet, Spanyol, Jerman Barat. AFC: Irak, Korea Selatan. CAF: Aljazair, Maroko.

Adapun pembagian grup Piala Dunia 1986 adalah sebagai berikut: Grup A: Argentina, Italia, Bulgaria, Korea Selatan. Grup B: Meksiko, Paraguay, Belgia, Irak. Grup C: Uni Soviet, Perancis, Hongaria, Kanada. Grup D: Brasil, Spanyol, Irlandia Utara, Aljazair. Grup E: Denmark, Jerman Barat, Uruguay, Skotlandia. Grup F: Maroko, Inggris, Polandia, Portugal.

Juara grup, runner-up, dan empat peringkat tiga terbaik berhak lolos ke fase gugur alias babak 16 besar.

Timnas Argentina yang kala itu dilatih Carlos Bilardo tampil perkasa di Grup A. Diego Maradona mampu mengemas dua kemenangan dan sekali imbang untuk menguasai posisi puncak klasemen akhir Grup A.

Selain Maradona, Argentina pada waktu itu juga diperkuat oleh pemain-pemain top lainnya semisal Jorge Valdano, Oscar Ruggeri, serta Daniel Passarella yang masih masuk skuad.

Lolos ke fase gugur sebagai juara Grup A, Argentina lantas bersua Uruguay pada babak 16 besar. Argentina berhasil mengalahkan Uruguay dengan skor 1-0 melalui gol tunggal Pedro Pasculli.

La Albiceleste kemudian bertemu Inggris pada perempat final. Dua momen tak terlupakan tercipta pada pertandingan panas dengan bumbu sejarah Perang Malvinas ini.

Argentina membuka keunggulan melalui gol Diego Maradona pada menit ke-55. Sebuah gol kontroversial karena Maradona terlihat menggunakan tangannya untuk mengelabui kiper Inggris, Peter Shilton. Gol yang kemudian disebut pencetaknya sebagai gol yang “sedikit dengan kepala Maradona dan sedikit dengan tangan Tuhan.”

Empat menit setelah “Gol Tangan Tuhan” tersebut, Maradona melakukan sebuah aksi magis dengan menggiring bola dari tengah lapangan, melewati sejumlah pemain, lalu menjebol gawang Inggris untuk kali kedua.

Jika gol pertama adalah “Gol Tangan Tuhan”, gol kedua Maradona tersebut dianggap sebagai “Gol Abad Ini.”

Kemenangan 2-1 atas Inggris membawa Argentina melaju ke semifinal untuk berjumpa Belgia. Argentina tak terbendung. Belgia mereka sikat 2-0 untuk memastikan satu tempat di partai final.

Laga final Piala Dunia 1986 mempertemukan Argentina dengan Jerman Barat. Pertandingan dilangsungkan di Stadion Azteca dengan disaksikan oleh hampir 115.000 penonton.

Jose Luis Brown membuka keunggulan Argentina pada menit ke-23 dan kedudukan 1-0 bertahan hingga akhir babak I. Setelah turun minum, Jorge Valdano menggandakan keunggulan Argentina 10 menit setelah dimulainya babak II.

Karl-Heinz Rummenigge mencetak gol bagi Jerman Barat pada menit ke-74, gol pertama dan terakhirnya sepanjang turnamen. Jerman Barat menyamakan kedudukan pada menit ke-80 lewat gol yang dicetak Rudi Völler.

Meskipun Diego Maradona dimatikan pergerakannya oleh para pemain Jerman Barat, umpan kepada Jorge Burruchaga yang berhasil menjadi gol pada menit ke-84 membawa Argentina berbalik unggul 3-2 dan bertahan hingga akhir babak II.

Argentina pun keluar sebagai juara dunia yang ke-2 kalinya, setelah yang pertama kali pada Piala Dunia FIFA 1978. Sebanyak 6 kartu kuning dikeluarkan wasit dalam pertandingan ini, adalah suatu rekor hingga Final Piala Dunia FIFA 2010.

Diego Maradona tidak mencetak gol di final. Namun, ia menjadi pemain penting di balik keberhasilan Argentina menjadi juara dengan mengemas lima gol sepanjang turnamen. Maradona juga dinobatkan sebagai pemain terbaik, melengkapi pesta juara Argentina pada Piala Dunia 1986.

 

Sepuluh Fakta Piala Dunia 1986

Pertama, penyelenggaraan Piala Dunia 1986 ini nyaris batal menyusul terjadinya gempa bumi delapan bulan sebelum penyelenggaraan. Akibat gempa tersebut hampir semua infrastruktur luluh lantak dan tercatat hampir 30 ribu warga Meksiko dan sekitarnya dikabarkan meninggal. Namun sungguh beruntung pesta olahraga itu tetap dilaksanakan karena sebagian besar stadion masih berdiri utuh.

Kedua, untuk kali kedua turnamen ini memakai format 24 tim pada babak penyisihan grup. Namun menjadi yang kali pertama diberlakukannya format sistem gugur pada putaran kedua.

Ketiga, Gol Tangan Tuhan Maradona. Gol ini menjadi catatan sejarah kontroversi sekaligus menjadi semacam ikon yang tak akan terlupakan dari Piala Dunia 1986. Bintang Argentina tersebut menceploskan si kulit bundar dengan bantuan tangannya ketika mengalahkan Inggris 2-1 di perempat-final.

Keempat, Jose Batista tercatat sebagai pemain paling cepat dalam sejarah Piala Dunia yang menerima kartu merah. Bek Uruguay ini diusir ke luar lapangan saat pertandingan babak pertama baru berjalan 56 detik. Sejarah itu tercatat ketika Uruguay bertemu Skotlandia di babak penyisihan grup. Pertandingan tersebut berakhir imbang tanpa gol.

Kelima, dengan dideklarasikannya tahun 1986 sebagai Tahun Perdamaian Internasional oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) maka hampir di semua stadion menampilkan logo bersama antara FIFA dan PBB dengan slogannya yang melegenda: “Sepakbola Buat Perdamaian - Tahun Perdamaian”. Lalu untuk desain dari logo tak resmi mengadopsi motto “El Mundo Unido por Un Balón” (Dunia bersatu lewat sebuah bola).

Keenam, Irak, Kanada, dan Denmark membuat debutnya di Piala Dunia. Penampilan Irak di Piala Dunia ini cukup menarik karena mereka lolos dari babak kualifikasi dengan menggelar pertandingan di tempat netral menyusul terjadinya perang Irak-Iran pada masa itu.

Ketujuh, Maroko mengukir sejarah sebagai tim dari Afrika pertama yang bisa menggapai putaran kedua. Di babak penyisihan Grup F, Maroko tampil sebagai juara grup setelah bermain seri dua kali -- masing-masing melawan Polandia dan Inggris -- serta mengalahkan Portugal 3-1 di laga pamungkas.

Kedelapan, kenangan yang tak akan terlupakan bagi Michel Platini. Kenangan itu terjadi ketika Prancis bertemu Brasil di perempat-final di Guadalajara pada 21 Juni.

Hari itu Platini genap berusia 31 tahun. Ia menyumbangkan sebuah gol yang kemudian memaksa Brasil harus menjalani drama adu penalti setelah dalam waktu normal skor berakhir 1-1. Namun saat adu penalti, Platini gagal menjadi eksekutor. Gol ke-41 itu menjadi yang terakhir dibuat Platini di pentas internasional sebelum akhirnya resmi mengumumkan gantung sepatu setahun kemudian.

Kesembilan, striker tim nasional Uni Soviet, Igor Belarov, tercatat sebagai pemain ketiga yang berhasil membuat hattrick di sebuah laga Piala Dunia namun gagal membawa timnya menang. Hattrick itu ia buat ketika Uni Soviet menyerah 4-3 kepada Belgia di putaran kedua.

Kesepuluh, Bulgaria dan Uruguay menjadi dua negara pertama yang lolos ke babak sistem gugur tanpa memenangkan sebuah pertandingan di putaran pertama.

 

.....

Referensi:

Piala Dunia FIFA 1986; https://id.wikipedia.org/wiki/Piala_Dunia_FIFA_1986; dikutip pada Selasa, 07 Juli 2026

Kilas Balik Piala Dunia 1986: "Tangan Tuhan" dan Gol Ajaib Maradona, Argentina Juara; https://www.kompas.com/sports/read/2022/10/10/13000098/kilas-balik-piala-dunia-1986--tangan-tuhan-dan-gol-ajaib-maradona?page=all; dikutip pada Rabu, 08 Juli 2026

Final Piala Dunia FIFA 1986; https://id.wikipedia.org/wiki/Final_Piala_Dunia_FIFA_1986; dikutip pada Rabu, 08 Juli 2026

Piala Dunia FIFA 1986: Juara, Runner-up, Skuad Argentina, Topskor, Jadwal & Hasil Piala Dunia Meksiko 1986; https://www.goal.com/id/berita/kilas-balik-piala-dunia-1986-meksiko/1wh55ak55kk1y1ij3w475df360; dikutip pada Rabu, 08 Juli 2026


.....

Artikel sebelumnya: Piala Dunia 1982, Italia Juara, Paolo Rossi Top Skor dan Terbaik

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama