Enam Produk Pangan Rumput Laut Karya Dosen Unhas Kantongi Izin Edar BPOM

PRODUK RUMPUT LAUT. Sebanyak enam produk olahan rumput laut dari dosen Unhas resmi memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, yakni mie rumput laut, cendol rumput laut, brownies rumput laut, muffin rumput laut, bakso rumput laut, dan nugget rumput laut.   

 
-----

Kamis, 16 Juli 2026

 

Enam Produk Pangan Rumput Laut Karya Dosen Unhas Kantongi Izin Edar BPOM

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Inovasi pangan berbasis rumput laut yang dikembangkan dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Kasmiati, STP., MP., berhasil menorehkan capaian penting.

Sebanyak enam produk olahan rumput laut dari dosen Unhasresmi memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia .

Enam produk tersebut meliputi mie rumput laut, cendol rumput laut, brownies rumput laut, muffin rumput laut, bakso rumput laut, dan nugget rumput laut.

Seluruhnya dinyatakan memenuhi standar keamanan, mutu, dan kualitas pangan sehingga siap diproduksi dan dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat maupun pelaku usaha.

Sertifikat izin edar BPOM diserahkan dalam kegiatan Akselerasi Kolaborasi Academia, Business, Government (ABG) yang diselenggarakan BPOM RI bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin di Ballroom Hotel Claro Makassar, Sabtu, 11 Juli 2026.

Kasmiati menjelaskan, pengembangan keenam produk tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas rumput laut yang selama ini masih didominasi sebagai bahan baku industri. Padahal, Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan, merupakan salah satu sentra produksi rumput laut terbesar di dunia.

“Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. Kami terdorong mengembangkan berbagai produk pangan berbasis rumput laut yang memiliki nilai tambah lebih tinggi sekaligus memberikan manfaat kesehatan,” ujarnya.

Menurutnya, rumput laut tidak hanya memiliki potensi sebagai komoditas ekspor, tetapi juga merupakan sumber pangan bergizi yang dapat diolah menjadi beragam produk fungsional.

Melalui inovasi tersebut, hasil budidaya masyarakat diharapkan tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi yang mampu membuka peluang usaha baru di kawasan pesisir.

Perjalanan riset untuk menghasilkan keenam produk itu berlangsung selama sekitar lima tahun. Penelitian mencakup karakterisasi bahan baku, optimasi formulasi, pengujian laboratorium, uji organoleptik, standardisasi proses produksi, pengujian umur simpan, hingga evaluasi keamanan pangan.

Tantangan terbesar yang dihadapi tim peneliti adalah mempertahankan kandungan bioaktif rumput laut tanpa mengurangi cita rasa, tekstur, maupun penampilan produk sehingga tetap disukai konsumen.

Riset tersebut juga melibatkan mahasiswa program sarjana melalui tugas akhir serta diimplementasikan dalam berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat di wilayah pesisir.

Sebelum didaftarkan ke BPOM, keenam produk telah diperkenalkan kepada kelompok masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan sebagai alternatif usaha berbasis sumber daya lokal di desa-desa binaan Unhas.

Keunggulan inovasi ini terletak pada formulasi yang mampu menghasilkan pangan dengan kandungan gizi lebih baik tanpa menghilangkan karakteristik sensori yang disukai masyarakat. Produk-produk tersebut juga dirancang agar mudah diproduksi dan dikembangkan oleh masyarakat maupun pelaku usaha.

Bagi Kasmiati, terbitnya izin edar BPOM menjadi bukti bahwa hasil riset perguruan tinggi dapat melahirkan inovasi yang siap dimanfaatkan masyarakat.

“ Di masa depan, kami ingin terus mengembangkan inovasi berbasis rumput laut yang tidak hanya memiliki daya saing di tingkat nasional, tetapi juga mampu menembus pasar internasional dan membawa nama baik Unhas sebagai perguruan tinggi yang menghasilkan inovasi yang berdampak. Bagi kami, keberhasilan sebuah penelitian bukan hanya ketika dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, tetapi ketika hasil penelitian tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” tutur Kasmiati. (kia)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama