Galesong Takalar Punya Situs Bersejarah Pappalluang Tungku Katoknokang

BALLA BARAKKA. Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto berbincang bersama beberapa seniman dan budayawan yang berkunjung di Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG), Takalar, Kamis, 02 Juli 2026. (ist)   

 

------

PEDOMAN KARYA

Senin, 06 Juli 2026

 

Balla Barakkaka ri Galesong, Pustaka, dan Pusaka Syekh Yusuf (2):

 

Galesong Takalar Punya Situs Bersejarah Pappalluang Tungku Katoknokang

 

Oleh: Rusdin Tompo

(Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

 

Terkait pembelajaran aksara Lontarak Mangkarak ini, Karaeng Patoto punya pendekatan tersendiri. Beliau mewajibkan mereka yang berkunjung di BBrQ menuliskan namanya dalam aksara Lontarak Mangkasarak, sebelum meninggalkan lokasi.

Ini misalnya, pernah dialami mahasiswa asal Malaysia yang sedang studi di Universitas Hasanuddin, saat mahasiswa asal negeri jiran itu diajak ke Balla Barakka. Begitupun dengan tentara Filipina, dan Direktur Pariwisata Kemenpar-Ekraf RI, diwajibkan menuliskan namanya dalam aksara Mangkasarak, sebelum meninggalkan tempat.

Delegasi rombongan perwira militer Filipina yang berkunjung, kala itu, dipimpin oleh Kolonel (Inf.) Michael Glenn Manansala. Kunjungan ke BBrG bagian dari diplomasi budaya ASEAN yang difasilitasi oleh Brigade Infanteri 11/Badik Sakti, Kodim Takalar, dan Pemda Kabupaten Takalar, tahun 2024.

Bagi Prof. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, kunjungan tersebut untuk memperkuat ikatan antar-negara tetangga, melalui warisan bersama dan saling menghormati.

 

Situs Tungku Katoknokang

Galesong Selatan punya situs bersejarah dan cagar budaya yang menyimpan banyak cerita. Salah satunya Tungku Katoknokang atau pappalluang. Situs ini disebut-sebut sebagai bukti sejarah maritim dan simbol diplomasi budaya antara Nusantara, khususnya Galesong, dengan dunia internasional, terutama Marege (Aborigin) di benua Australia. Letak situs yang berusia ratusan tahun itu berada di Desa Bontokanang, berjarak sekira 6 km dari BBrG.

“Saya lahir di sekitar daerah itu, mungkin hanya 300-an meter dari situs tungku itu. Anehnya, yang memperkenalkan saya ke tempat itu justru orang Amerika. Saat ada kegiatan Balai Pelestarian Kebudayaan, saya diundang sebagai narasumber,” ungkap Prof. Aminuddin Salle, yang membuat kami tersenyum.

Orang Amerika Serikat yang dimaksud Karaeng Patoto, adalah Wayne A. Bougas Daeng Rate. Foto pria bule jangkung itu bisa dilihat di akun Instagram Balla Barakka. Wayne datang ke BBrG, pada 02 Oktober 2019, untuk berbagi cerita dan bernostalgia 47 tahun bersama keluarga Galesong.

Prof. Aminuddin Salle dan Abdul Jalil lalu bercerita tentang tungku tersebut. Sekarang, katanya, sudah jadi situs nasional. Dahulu, sungai di situ bagus sekali. Kapal-kapal bisa masuk membawa teripang dari Australia ke Katiknokang (lalu berubah namanya menjadi Katoknokang).

Bila ada teripang dari Australia, maka akan direbus atau diolah di situ, setelah matang baru diekspor ke China. Sayangnya, setelah jadi desa, dikasi nama Desa Bontokanang. Tentu saja, pergantian nama ini dipertanyakan.

“Saya bilang, siapa yang ganti namanya? Biar Katiknokang saja, karena itu ada historisnya, yang menggambarkan hubungan Makassar, khususnya Galesong dengan Australia. Ini merupakan hubungan antar-negara, kala itu,” ujar Prof. Aminuddin Salle dengan nada heran.

Beliau juga menceritakan kebiasaan nelayan Galesong tempo doeloe, yang menaikkan bendera di ujung perahu sebagai bentuk kegembiraan memperoleh banyak ikan. Beliau kagum pada tradisi nelayan Galesong menaikkan bendera sebagai pertanda banyak mendapat ikan, sekaligus mengajak orang-orang datang untuk dibagikan ikan. Orang-orang tua sejak dahulu, punya semangat berbagi. Mereka sama sekali tidak pelit, tidak gikgili (kikir).

Itulah mengapa, kata beliau, Prof. Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), kala itu, bilang bahwa Pancasila di Galesong, masih ada.

Prof. Mahfud kemudian memberi kata pengantar pada buku yang ditulis Prof. Aminuddin Salle, berjudul: “Galesong Desa Pancasila dan Konstitusi”. Prof. Aminuddin Salle bahkan beberapa kali diundang ke Jakarta untuk berceramah di hadapan para yang mulia, hakim konstitusi.

“Nabilang Prof, Mahfud, kalau mau lihat miniatur pelaksanaan Pancasila, datanglah ke Galesong,” cerita Karaeng Patoto bangga.

Abdul Jalil menyampaikan, dia tengah mengajukan suatu konsep program terkait artefak Tungku Katoknokang itu. Walau diakui bahwa dia bukan orang asli sana, tetapi dia punya perhatian dan kepedulian.

Disampaikan pula bahwa di situ, terdapat kuburan tua, yang tidak terawat. Kabarnya, makam tersebut adalah sepasang suami-istri, salah satunya merupakan keturunan Syekh.

“Orang itulah yang katanya menyebarkan agama Islam di wilayah situ, dan konon dialah yang memperkenalkan cara memasak teripang bagi warga setempat, di masa itu,” terang Abdul Jalil, yang juga seorang pendidik.

Yudhistira Sukatanya, yang dikenal sebagai sastrawan dan budayawan, menekankan pentingnya peranan warga dalam mencatat dan menceritakan sejarah di tempat tinggal atau desanya.

“Warga perlu dimotivasi agar menulis pengalaman, ingatan, dan pengetahuannya, apalagi yang punya nilai sejarah dan kultural,” kata Bung Yudi, sapaan akrab Yudhistira Sukatanya.

Penulis novel Noni Societeit de Harmonie dan kumpulan cerpen Panglima Balla Parang itu lantas menyebut nama saya, yang getol mempraktikkan jurnalisme warga. Bahkan menularkan semangat pewarta warga itu melalui workshop dan pelatihan penulisan kreatif di berbagai kelompok dan komunitas.

Saya mengiyakan apa yang disampaikan, sutradara teater dan pendiri Sanggar Merah Putih tersebut. Workshop serupa tampaknya perlu pula dilakukan di BBrG dengan melibatkan kalangan milenial dan Gen Z, bisa merupakan warga sekitar, kelompok pemuda, pelajar, atau komunitas literasi dan penggiat seni budaya. (bersambung)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama