-----
PEDOMAN KARYA
Kamis, 23 Juli 2026
“Harmaun”, Novel Stakato Karya Andi Wanua
Tangke
Oleh: Mahaji Noesa
(Wartawan)
Lama tak jumpa, saat ketemu (medio Juli
2026, red) saya dihadiahi sebuah novel berjudul: Harmaun. “Ini karya novel saya
yang terbaru,” katanya.
Ternyata dalam usia memasuki 64 tahun,
Andi Wanua Tangke masih produktif menelorkan karya tulis buku, maupun untuk
konsumsi pembaca di sejumlah media cetak.
Sejumlah judul buku pun telah diterbitkan
merupakan kumpulan tulisan opini bebasnya yang telah dimuat di berbagai media
cetak.
Dari ruang Warkop berlabel Buka 24 Jam
tempat pertemuan di bilangan perbelanjaan Panakkukang Kota Makassar, saya
mengenang perjumpaan kali pertama dengan mantan Ketua Ikatan Penerbit Indonesia
(IKAPI) Sulawesi Selatan, saat bersama mengelola penerbitan Tabloid Gema di Kota
Makassar.
Bersama Ilyas Syamsuddin dan Andy Pallawa
(alm) owner Penerbit Global Publishing Makassar, kami sering berembug dalam
menetapkan topik aktual untuk laporan utama Tabloid Mingguan Gema yang dipimpin
seniman pematung handalnya Sulsel, NM Sam (alm).
Paling berkesan saat puluhan orang mengaku
mahasiswa datang memprotes ke kantor Tabloid Mingguan Gema di wilayah Karuwisi
ikhwal tulisan reportase Andi Wanua Tangke di Tabloid Gema mengenai rumah-rumah
kost di kota Makassar yang banyak dijadikan tempat kumpul kebo.
Protes bukan tentang isi reportase, tapi
menyangkut foto rumah kost yang dijadikan ilustrasi tulisan reportase Wanua
Tangke tersebut.
Saya juga pernah bersama bekerja dalam
jajaran redaktur di Tabloid Mingguan Demo’s yang hadir di awal Era Reformasi.
Saya suka dengan gaya penulisan
laporan-laporan jurnalistik Pak Wanua (Panggilan akrab keseharian Andi Wanua
Tangke) yang sering memadukan gaya penulisan kalimat panjang ala wartawan
legend Indonesia Rosihan Anwar dengan gaya penulisan patah-patah, memanfaatkan
kekuatan kata-kata pendek. Stakato. Terkadang hanya menggunakan satu kata untuk
menekankan makna dari uraian panjang sebelumnya.
“Gaya khas Wanua,” begitu sebut Andy
Pallawa, penulis buku biografi tokoh di Makassar dalam suatu bincang bersama
semasa hidupnya setelah membedah buku lain karya Andi Wanua Tangke.
Banyak buku telah ditulis dan bahkan
ratusan judul buku bertema kebudayaan, kearifan lokal, sastra dan seni dibidani
penerbitannya sejak Pak Wanua mendirikan perusahaan penerbit Pustaka Refleksi
dan Pustaka Arus Timur.
Tatkala bukunya berjudul: “Misteri Kahar
Muzakkar Masih Hidup” (2005) heboh dibicarakan masyarakat di Sulsel, dan harus
dicetak berulangkali untuk memenuhi permintaan pembaca, saya tak begitu kaget.
Lantaran saya mahfum Pak Wanua yang alumni
Fakultas Sastra Unhas, 1992, termasuk jagonya memainkan frasa narasi ketika
menuliskan cerita atau laporan berbasis fakta.
Buku Novel Harmaun terbitan 2026 karya
Andi Wanua Tangke setebal 200 halaman berlatar suasana sebulan pascaperistiwa Pemberontakan
G30S/PKI. Suasana mencekam ketika negara ini harus bertahan hidup dari
kekacauan melawan kehadiran kekuatan ideologi yang hendak melabrak falsafah
dasar negara Pancasila.
Ada militer yang harus bertindak tegas.
Tapi ada sosok Harmaun di novel Andi Wanua Tangke yang mencatat menulis situasi
nyata dan rasa yang hidup kepada publik saat itu, sekalipun harus masuk tahanan
militer.
Harmaun, novel yang merekam latar sebuah
masa telah lewat dapat memperkaya pikiran dalam upaya terus melangkah maju
memperkuat membangun NKRI.
“Kedua mata Harmaun ditutup. Tak melihat
apa pun, kecuali gelap. Gelap gulita. Namun bukan berarti mata batinnya tak
melihat. Pikirannya tetap bekerja dan waspada.” (hal. 6)
“Hening sejenak. Harmaun memperlihatkan
wajah prihatinnya. Menunduk. Manggut-manggut pelan.” (hal. 62)
“Dini hari. Hujan gerimis. Sunyi. Usai
salat subuh di kamar tahanan, Harmaun duduk berselimutkan sarung bermotif
kotak-kotak usang, menghalau terpaan hawa dingin.” (hal. 122)
Ternyata, gaya stakato, gaya penulisan
khas Andi Wanua Tangke masih menonjol. Kental. Membuat novel Harmaun berlatar
suasana mencekam seputar operasi militer sebulan pascaperistiwa Pemberontakan
G30S/PKI menggelitik untuk dibaca berulang.
Terus berkarya, Pak Wanua!
