-----
Kamis, 23 Juli 2026
LPPM Unhas Raih Penghargaan Nasional
Pengelola Administrasi Terbaik
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Lembaga
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin (Unhas)
Makassar meraih penghargaan nasional sebagai Lembaga dengan Pengelolaan
Administrasi Terbaik dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam
rangkaian Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026.
Penghargaan diserahkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, didampingi Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman, pada penyelenggaraan PERISAI 2026 di Ballroom Flores, Hotel Borobudur, Jakarta, Senin–Selasa, 20–21 Juli 2026. Mewakili Unhas, penghargaan diterima oleh dosen Fakultas Pertanian, Dr. Ifayanti.
Ketua LPPM Unhas, Prof Muhammad Nasrum
Massi, mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil dari penguatan sistem
pengelolaan riset yang dibangun secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir.
Selain memperluas akses terhadap berbagai
skema pendanaan penelitian, LPPM juga mengembangkan sistem pendampingan bagi
peneliti agar mampu memenuhi standar yang ditetapkan lembaga pendana.
“Sejak awal kami memetakan berbagai
peluang pendanaan penelitian, termasuk Grant Riset Sawit BPDP. Kami mengundang
BPDP ke Unhas untuk memberikan pemahaman mengenai arah riset yang dibutuhkan,
kemudian menindaklanjutinya melalui sosialisasi, coaching, dan pendampingan
proposal agar peneliti siap bersaing,” jelas Prof. Nasrum.
Pendampingan tersebut tidak hanya berfokus
pada penyusunan proposal, tetapi juga pada penguatan tata kelola penelitian.
LPPM membentuk tim administrasi yang
mendampingi peneliti dalam pengelolaan anggaran, penyusunan laporan kemajuan,
hingga laporan akhir penelitian. Sistem tersebut menjadi bagian penting dalam
menjaga akuntabilitas sekaligus membangun kepercayaan lembaga pendana terhadap
kapasitas institusi.
“Kami selalu memastikan laporan keuangan
maupun laporan penelitian disusun sesuai prosedur. Bagi kami, administrasi
penelitian bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari kualitas pengelolaan
riset. Ketika tata kelolanya baik, peneliti dapat lebih fokus menghasilkan
inovasi yang benar-benar bermanfaat,” tambah Prof. Nasrum.
Grant Riset Sawit BPDP merupakan salah
satu skema pendanaan penelitian yang kompetitif di Indonesia. Proposal yang
diajukan dinilai berdasarkan kualitas ilmiahnya, relevansi terhadap tantangan
sektor kelapa sawit, serta peluang implementasi hasil penelitian.
LPPM Unhas mendorong para penelitinya
untuk mengembangkan riset yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata.
Selama tiga tahun terakhir, Unhas terus
berpartisipasi dalam Program Grant Riset Sawit BPDP. Pada tahun pertama
keikutsertaannya, dua proposal penelitian berhasil memperoleh pendanaan. Tahun
berikutnya, dua proposal kembali lolos dari total 67 proposal yang diajukan.
Untuk 2026, Unhas mengirimkan 40 proposal penelitian dan
saat ini menunggu hasil seleksi yang dijadwalkan diumumkan pada Desember
mendatang.
Berkurangnya jumlah proposal yang diajukan
tidak mencerminkan menurunnya minat peneliti, melainkan bagian dari penyesuaian
terhadap proses seleksi yang semakin kompetitif. BPDP kini lebih menekankan
kualitas proposal, kebaruan inovasi, serta potensi implementasi hasil
penelitian.
PERISAI sendiri merupakan forum nasional
yang diselenggarakan BPDP untuk diseminasi hasil-hasil riset strategis. Forum
ini juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian,
pemerintah, industri, dan berbagai pemangku kepentingan.
Melalui forum ini, hasil penelitian
didorong tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menjawab
kebutuhan industri dan masyarakat.
Mengusung tema “Shaping the Palm Oil
Industry Ecosystems for a Sustainable Future”, PERISAI 2026 menegaskan bahwa
masa depan industri sawit bergantung pada kemampuan mengintegrasikan ilmu
pengetahuan, inovasi, dan teknologi ke dalam praktik perkebunan.
Sejak Program Grant Riset Sawit diluncurkan pada 2015, BPDP telah mendukung 466 kontrak penelitian yang melibatkan 109 lembaga litbang, 1.873 peneliti, dan 383 mahasiswa. Program tersebut menghasilkan 395 publikasi ilmiah serta 84 paten, yang menjadi fondasi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di sektor kelapa sawit. (kia)
