![]() |
| Tamsil Linrung bersama anaknya almarhumah |
-----
PEDOMAN KARYA
Monumen Cinta Bernama Nurul Izzah
Oleh: Tamsil Linrung
Tidak ada sekolah yang mengajarkan
bagaimana menjadi seorang ayah yang kehilangan anak. Tidak ada kitab yang mampu
menjelaskan mengapa takdir terkadang meminta seorang ayah mengantarkan putrinya
lebih dahulu menuju pusara.
Semua teori tentang kesabaran mendadak
terasa kecil ketika seorang ayah berdiri di hadapan gundukan tanah merah
anaknya. Mengusap kembang aneka warna, seperti kenangan yang menjadi mozaik
cerita.
Hari ini, saya memahami bahwa ada luka
yang tidak ditujukan untuk benar-benar sembuh. Ia hanya diajarkan agar dipikul,
meski dengan hati yang pilu.
Putri sulung saya, Azizah Nurul Izzah,
telah kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan. Ia menjalani ujian sakit dengan
kesabaran yang nyaris tak pernah jadi keluhan. Allah memanggilnya pulang.
Pada usia yang bagi banyak orang adalah
puncak kematangan (38 tahun; lahir Juli 1988 dan wafat Juli 2026). Namun bagi Allah, setiap
jiwa memiliki batas waktu yang telah ditentukan.
Nurul adalah anak pertama saya. Ia tidak
sekadar anak yang lahir lebih dahulu. Dialah manusia yang mengubah seorang
lelaki biasa menjadi seorang ayah. Sebelum kehadirannya, saya hanyalah seorang
laki-laki yang menjalani hidup.
Tangis pertamanya yang memecah keheningan,
menandai sebuah amanah. Bahwa Allah menitipkan gelar yang jauh lebih mulia
daripada jabatan apa pun. Gelar Ayah.
Tidak semua lelaki memperoleh kesempatan
menjadi seorang ayah. Nurul Izzah menahbiskan mahkota itu pada saya. Sebuah
anugerah dan kehormatan.
Karenanya, tidak mudah seorang ayah
memisahkan sebagian dirinya dari anak pertama. Ia adalah kepingan hati yang
berjalan di luar tubuh. Berapa pun usianya, sejauh apa pun melangkah, ia tetap
menjadi bagian dari jiwa yang tak pernah benar-benar lepas.
Nama Azizah Nurul Izzah terilhami dari
persahabatan saya dengan Dato' Seri Anwar Ibrahim yang kini mengemban amanah
sebagai Perdana Menteri Malaysia. Bertahun-tahun silam saya sering berjumpa
dengan beliau dalam acara-acara Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) maupun
Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM).
Bahkan saya sempat berkantor di Malaysia, menjadi Wasekjen
Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMIAT) saat sahabat saya Dato'
Mustaffa Kamil Ayyub sebagai Sekjennya. Saya bersama Chilidin Yacob yang
sekarang bermukim di Australia menjadi Wasekjen, mewakili HMI dan PII.
Di organisasi kepemudaan ini, Dato' Seri
Anwar Ibrahim sebagai Pembina / Pengarah. Saya mengagumi nama putri beliau.
Namanya begitu indah, Nurul Izzah. Cahaya kemuliaan dan nama istrinya Wan
Azizah. Kedua nama ini saya satukan menjadi Azizah Nurul Izzah.
Maka saya dawamkan nama itu sebagai doa,
agar cahaya kemuliaan senantiasa menyertai perjalanan hidup putri saya.
Allah benar-benar meninggikan nama Nurul
Izzah. Caranya tak pernah saya bayangkan. Nama Nurul Izzah bukan lagi sekadar
nama seorang anak. Sejak tahun 2010, ia telah menjadi nama masjid di lingkungan
Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM).
Lembaga pendidikan yang kami dirikan
sebagai ikhtiar kecil berkontribusi membangun umat dan peradaban bangsa. Nurul
Izzah menjadi jantung aktivitas pembinaan generasi muda di ICM yang datang dari
berbagai daerah.
Sejujurnya, tidak pernah ada rencana
muluk-muluk. Ia muncul karena keindahan. Ketika masjid itu membutuhkan sebuah
nama, tidak ada diskusi panjang, tidak ada perdebatan. Entah mengapa, secara
spontan hanya satu nama yang memenuhi ruang batin saya. Nurul Izzah.
Seolah Allah sendiri yang menuntun,
mengabadikan cinta seorang ayah melalui rumah-Nya. Maka ketika adzan
berkumandang dari masjid itu, ketika anak-anak belajar mengaji di dalamnya,
ketika sujud-sujud panjang dihamparkan, saya berharap setiap doa yang terangkat
ke langit menjadi hadiah yang terus mengalir untuk putri saya. Barangkali
inilah cara Allah menghibur seorang ayah.
Mengubah air mata menjadi amal jariyah. Mengubah
kehilangan menjadi jalan pahala. Mengubah seorang anak menjadi monumen cinta.
Saya tahu, tidak ada kalimat yang mampu
menghapus rasa kehilangan ini. Orang boleh berkata waktu akan menyembuhkan.
Namun bagi saya, waktu tidak bisa benar-benar menghapus duka. Waktu hanya
mengajarkan kita berdamai dengannya. Mengikhlaskannya.
Kini setiap kenangan bersama Nurul
berkelindan dalam doa yang lirih. Mungkin, begitulah cinta bekerja. Ia tidak
berhenti ketika kematian datang. Ia hanya berpindah bentuk.
Ya Allah, terimalah Nurul Izzah dalam
keluasan rahmat-Mu. Jadikan sakit yang ia jalani sebagai penggugur dosa.
Lapangkan kuburnya. Terangi alam barzakhnya. Tempatkan ia bersama para nabi,
shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Izinkan kami kelak bertemu kembali,
di tempat yang tidak lagi mengenal perpisahan.
Bagi seorang ayah, cinta kepada anaknya
tidak pernah berakhir di atas pusara. Ia hanya berubah. Kini dirapalkan menjadi
doa yang tak pernah punya jeda. Innalillahi wainnailaihi raajiun. Segala yang
datang dari Allah akan kembali kepada Allah.
Di antara semua titipan yang pernah Allah
anugerahkan, Nurul Izzah adalah salah satu karunia paling indah. Kini ia telah
pulang. Tetapi cinta kepadanya tidak lekang. Selama masih ada hati yang
mengingatnya. Selama masih ada doa yang menyebut namanya.
Dan selama Masjid Nurul Izzah berdiri,
menjadi tempat orang-orang bersujud kepada Allah, di sanalah cinta seorang ayah
akan terus hidup, mengalir bersama setiap ayat yang dilantunkan bergemuruh
menuju langit.***
*Penulis: Tamsil Linrung adalah Anggota
DPD RI
