PEDOMAN KARYA
Kamis, 09 Juli 2026
Sejarah Piala Dunia Sepak Bola FIFA (13):
Piala Dunia 1990, 16 Kartu Merah,
Argentina Melempem di Final
Oleh: Asnawin Aminuddin
Piala Dunia 1990 di Italia secara luas
dianggap sebagai salah satu Piala Dunia terburuk sepanjang sejarah. Piala Dunia
kali ini hanya menghasilkan rata-rata 2,21 gol per pertandingan dan rekor 16
kartu merah, termasuk kartu merah pertama di final, bahkan di final, wasit
mengeluarkan dua kartu merah untuk pemain Argentina.
Semangat permainan bertahan ala tuan rumah
yang dikenal dengan sebutan cattenaccio seolah memengaruhi penampilan hampir
ke-24 tim finalis.
Sebenarnya ada optimisme sebelum dimulainya
Piala Dunia 1990, bahkan diprediksi akan menjadi bakal menjadi Piala Dunia terbaik
dengan hadirnya enam juara dunia yakni Italia, Argentina, Brasil, Jerman Barat
(waktu itu Jerman masih terbagi dua negara, Jerman Barat dan Jerman Timur), Uruguay,
dan Inggris.
Piala Dunia dimenangkan oleh Jerman Barat
untuk ketiga kalinya. Mereka mengalahkan juara bertahan Argentina 1-0 di Stadio
Olimpico di Roma. Ini merupakan pertandingan ulang dari final empat tahun
sebelumnya yang dimenangkan Argentina. Italia finis ketiga dan Inggris keempat,
setelah keduanya kalah di semifinal dalam adu penalti.
Turnamen ini menjadi turnamen terakhir
yang menampilkan tim dari Jerman Barat, dan negara tersebut bersatu kembali
dengan Jerman Timur beberapa bulan kemudian pada bulan Oktober.
Kosta Rika, Irlandia dan Uni Emirat Arab
menjalani debut mereka di Piala Dunia kali ini. Timnas Kamerun membuat kejutan
besar saat mereka menjadi tim Afrika pertama yang mencapai babak perempat final
Piala Dunia. Bola pertandingan resmi yang dipakai adalah Adidas Etrusco Unico.
Piala Dunia 1990 secara luas dianggap
sebagai salah satu Piala Dunia terburuk sepanjang sejarah.
Piala Dunia kali ini hanya menghasilkan
rata-rata 2,21 gol per pertandingan – rekor terendah yang masih bertahan – dan
rekor 16 kartu merah, termasuk kartu merah pertama di final.
Turnamen ini juga mempunyai pengaruh
jangka panjang yang signifikan terhadap aturan permainan secara keseluruhan. Di
Inggris, keberhasilan tim dalam turnamen ini menyebabkan kebangkitan kembali
kompetisi Liga Inggris, yang sempat menurun akibat kekerasan di lapangan serta
hooliganisme oleh penonton sepanjang tahun 1980-an.
Pada turnamen ini juga terdapat pengenalan
untuk membentangkan Bendera Fair Play sebelum pertandingan (kemudian
bertuliskan: “Fair Play Please”) untuk mendorong semangat fair play.
Taktik yang terlalu defensif di banyak tim
menyebabkan diperkenalkannya aturan back-pass pada tahun 1992 dan tiga poin
untuk sebuah kemenangan. Dua aturan ini kemudian mendorong permainan menyerang
serta meningkatkan minat penonton terhadap olahraga tersebut.
Lagu resmi turnamen World Cup 1990 ini
berjudul To Be Number One yang dibawakan penyanyi asal Italia Edoardo Bennato
dan Gianna Nannini. Di Indonesia, Piala Dunia 1990 disiarkan secara langsung
oleh TVRI.
Pertandingan
Pada penyisihan grup, satu-satunya hasil
mengesankan justru dibuat Kamerun. Dimotori oleh Roger Milla, Kamerun
mengalahkan juara bertahan Argentina 1-0 di pertandingan pembukaan dan Rumania
2-1 meski kalah 0-4 dari Uni Soviet.
Di babak kedua, Milla melesakkan dua gol
untuk menyingkirkan Kolombia 2-1. Langkah Kamerun baru terhenti di perempat
final (2-3) oleh Inggris.
Pada putaran pertama, Jerman Barat menjadi
pemimpin grup D setelah menundukkan Yugoslavia 4-1, Uni Emirat Arab 5-1, serta
imbang 1-1 dengan Kolombia. Pada putaran kedua, Belanda ditundukkan 2-1 sebelum
mengalahkan Cekoslovakia 1-0 di perempat final.
Memasuki putaran kedua, pertandingan mulai
membosankan. Dari delapan partai, tiga di antaranya harus dilalui dengan
perpanjangan waktu, Kamerun versus Kolombia 2-1, Spanyol melawan Yugoslavia 1-2,
dan Inggris menghadapi Belgia 1-0.
Satu pertandingan harus berakhir dengan
penalti, Irlandia melawan Rumania 5-4 (0-0). Adu penalti juga kemudian terjadi
di dua pertandingan Semifinal.
Partai semifinal Inggris-Jerman Barat di
Stadion Delle Alpi, Turin, dibuka dengan gol Andreas Brehme pada menit ke-60.
Gary Lineker menyamakan kedudukan sepuluh menit menjelang pertandingan usai.
Perpanjangan waktu tak mengubah hasil.
Saat adu tendangan penalti Stuart Pearce
dan Chris Waddle gagal mengeksekusi penalti. Jerman Barat sekali lagi lolos
dari Semifinal berkat adu penalti, seperti Piala Dunia 1982 di Spanyol saat
mengalahkan Prancis. Jerman Barat menang adu penalti dengan Inggris 4-3.
Semifinal lainnya mempertemukan tuan rumah
Italia dan Argentina di Stadion San Polo, Naples, kota yang penduduknya justru
mendukung Argentina dan bukan Italia. Italia lebih dulu unggul lewat Salvatore
"Toto" Schillaci.
Diego Maradona yang kala itu menjadi
bintang pujaan Napoli tampil menawan dan memberikan umpan matang bagi Claudio
Cannigia untuk menyamakan kedudukan.
Dalam adu penalti, kiper Argentina, Sergio
Goycochea, menjadi pahlawan dengan menggagalkan penalti Roberto Donadoni dan
Aldo Serena. Fakta yang menjadi tragedi bagi seluruh pendukung Italia.
Partai final, 8 Juli 1990 di Stadion
Olimpico, Roma, mungkin menjadi partai final yang tidak menarik. Sebanyak
73.603 penonton yang hadir hanya menyaksikan satu gol, itu pun kembali
ditentukan dari titik penalti.
Jerman Barat ditangani Franz "Der
Kaizer" Beckenbauer, kapten tim Panser saat merebut gelar juara Piala
Dunia 1974, tampil lebih baik. Tim Panser diperkuat banyak bintang, seperti
Lothar Matthaus, Andreas Brehme, Rudi Voeller, Juergen Klinsmann, Juergen
Kohler, Karl Heinz Riedle, Guido Buchwald, Uwe Bein, dan si veteran World Cup
1982 dan 1986, Pierre Littbarski.
Argentina, yang hanya mengandalkan
Maradona, tak bisa berbuat banyak saat wasit Edgardo Codesal Mendez asal
Meksiko menunjuk titik putih. Brehme, yang menjadi eksekutor, dengan dingin
menaklukkan Goycochea hanya lima menit menjelang pertandingan usai.
Tim Panser pun menyamai rekor Italia dan
Brasil sebagai juara dunia yang ketiga kalinya.
Babak 16 besar
Dua pertandingan —Brasil vs Argentina dan
Italia vs Uruguay— mempertemukan negara-negara mantan juara satu sama lain dan
Jerman Barat bertemu Belanda dalam pertandingan ulang Final Piala Dunia 1974.
Pertandingan yang mempertemukan tim Amerika Selatan ini dimenangkan oleh
Argentina melalui gol Claudio Caniggia saat laga tersisa 10 menit setelah Diego
Maradona melewati pertahanan Brazil sebelum memberikan umpan ke Cannigia.
Belakangan terungkap bahwa gelandang Brazil, Branco telah ditawari air yang
diberi obat penenang oleh Maradona dan Ricardo Giusti selama jeda, untuk
memperlambatnya di babak kedua. Pada awalnya publik tidak memercayai hal ini,
tetapi Branco terbukti benar setelah bertahun-tahun kemudian, ketika Maradona
mengakui kejadian tersebut di sebuah acara TV di Argentina. Tuan rumah Italia
mengalahkan Uruguay 2-0, berkat gol Schillaci dan Aldo Serena.
Pertandingan antara Jerman Barat dan
Belanda diadakan di Milan, di mana kedua tim menurunkan pemain dari dua klub
Milan. Jerman menurunkan trio Inter Milan (Andreas Brehme, Lothar Matthäus dan
Jürgen Klinsmann) dan Belanda mengandalkan trio AC Milan (Marco van Basten,
Ruud Gullit dan Frank Rijkaard). Setelah 22 menit, Rudi Völler dan Rijkaard
dikeluarkan dari lapangan setelah sejumlah insiden antara kedua pemain,
termasuk saat Rijkaard meludahi Völler. Saat para pemain keluar lapangan
bersama-sama, Rijkaard meludahi Völler untuk kedua kalinya. Di awal babak
kedua, Klinsmann membuat Jerman Barat unggul dan Andreas Brehme menambahkan gol
kedua saat waktu tersisa delapan menit. Penalti Ronald Koeman untuk Belanda
pada menit ke-89 memperkecil skor menjadi 2-1, tetapi Jerman Barat akhirnya
menang dan dapat membalas dendam atas tersingkirnya mereka dari Belanda di
Kejuaraan Eropa dua tahun sebelumnya.
Sementara itu, di laga Kamerun versus
Kolombia, Roger Milla dimasukkan sebagai pemain pengganti di babak kedua saat
kedudukan masih 0-0. Milla akhirnya memecah kebuntuan di pertengahan
perpanjangan waktu. Tiga menit kemudian, ia kembali mencetak gol kedua setelah
kiper Kolombia, René Higuita membuat blunder yang dimanfaatkan oleh Milla yang
mencetak gol ke gawang yang sudah kosong. Meskipun Kolombia mencetak gol
balasan menjadi 2-1, Kamerun berhasil menjadi tim Afrika pertama yang mencapai
perempat final Piala Dunia. Kosta Rika dikalahkan 4-1 oleh Cekoslowakia, di
mana Tomáš Skuhravý mencetak hat-trick kedua dan terakhir turnamen tersebut.
Pertandingan Republik Irlandia dengan
Rumania tetap tanpa gol setelah perpanjangan waktu dan tim Irlandia menang 5–4
melalui adu penalti. David O'Leary mengonversi penalti yang memastikan tempat
Irlandia di perempat final. Irlandia kemudian menjadi tim pertama sejak Swedia
pada tahun 1938 yang mencapai babak perempat final turnamen final Piala Dunia
tanpa memenangkan satu pertandingan pun. Yugoslavia mengalahkan Spanyol 2-1
setelah perpanjangan waktu, lewat dua gol Dragan Stojković. Inggris menjadi tim
terakhir yang lolos setelah mengalahkan Belgia, ketika tendangan voli dari
gelandang David Platt memecah kebuntuan saat pertandingan tinggal beberapa saat
lagi menuju adu penalti.
Perempat final
Pertandingan pertama dari babak 8 besar
mempertemukan Argentina dan tim Yugoslavia, yang bermain dengan 10 pemain
ketika pertandingan baru berjalan setengah jam. Hingga perpanjangan waktu, skor
tetap imbang tanpa gol. Sang juara bertahan mencapai semifinal setelah
memenangkan adu penalti 3-2, meskipun penalti Maradona berhasil diselamatkan. Kegagalan
algojo kedua Argentina (oleh Pedro Troglio) tampaknya telah membuat mereka di
posisi kritis sampai kiper Sergio Goycochea – bermain karena kiper utama Nery
Pumpido mengalami patah kaki selama babak penyisihan grup – menyelamatkan
timnya dengan menghentikan dua tendangan penalti terakhir Yugoslavia.
Perjalanan Irlandia di Piala Dunia
berakhir oleh satu gol dari Schillaci di paruh pertama saat mereka bertemu tuan
rumah Italia. Tim Irlandia menjadi tim yang melaju paling jauh di Piala Dunia
tanpa memenangkan satu pertandingan pun. Jerman Barat mengalahkan Cekoslowakia
melalui penalti Lothar Matthäus pada menit ke-25.
Perempat final antara Inggris dan Kamerun
merupakan satu-satunya perempat final yang menghasilkan lebih dari satu gol.
Meski Kamerun tampil heroik di awal turnamen, David Platt membawa Inggris
unggul pada menit ke-25. Pada paruh babak pertama, Milla dimasukkan. Di babak
kedua, permainan berubah drastis selama lima menit: Kamerun mendapat hadiah
penalti dan Emmanuel Kunde mencetak gol penyeimbang; lalu pada menit ke-65
Eugene Ekeke membawa Kamerun unggul. Ketika pertandingan tinggal delapan menit
lagi, Inggris mendapatkan hadiah penalti dan Gary Lineker sukses menyamakan
kedudukan. Di pertengahan perpanjangan waktu, Inggris mendapat hadiah penalti
lagi dan Lineker kembali mencetak gol. Inggris lolos ke semifinal untuk pertama
kalinya sejak 1966.
Rekor
Inilah Piala Dunia yang paling minim gol,
tetapi dengan kartu merah paling banyak. Hanya 115 gol tercipta dalam 52
pertandingan atau rata-rata 2,21 per pertandingan. Sedangkan wasit mengeluarkan
16 kartu merah dan 164 kartu kuning atau rata-rata 3,46 per pertandingan.
Sebuah rekor lain.
Lain-Lain
Argentina sendiri juga punya catatan unik.
Tim Tango lolos sampai ke final meski hanya dua kali menang dan total hanya
melesakkan lima gol. Catatan lain, tak satu pun dari gol itu dibuat Maradona.
Salvatore Schillaci menjadi top scorer
turnamen dengan enam gol dan sekaligus pemain terbaik.
Jumlah peserta: 110 (24 di putaran final)
Jumlah pertandingan: 52
Jumlah gol: 115
Rata-rata gol: 2,21
Total penonton: 2.517.348
Rata-rata penonton: 48.411
FIFA Fair play award: Inggris
Pencetak gol
Sebanyak 115 gol dicetak pada 52
pertandingan, dengan rata-rata 2,21 gol per pertandingan.
6 gol
Italia Salvatore Schillaci
5 gol
Cekoslowakia Tomáš Skuhravý
4 gol
Kamerun Roger Milla
Inggris Gary Lineker
Spanyol Míchel
Jerman Barat Lothar Matthäus
......
Referensi:
Piala
Dunia FIFA 1990; https://id.wikipedia.org/wiki/Piala_Dunia_FIFA_1990;
dikutip pada Rabu, 08 Juli 2026
Maradona
Hampir Gagal Main di Final Piala Dunia 1990; https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20200426192728-142-497441/maradona-hampir-gagal-main-di-final-piala-dunia-1990;
dikutip pada Kamis, 09 Juli 2026
Final
Piala Dunia 1990: Satu Titik Putih, Dua Kartu Merah, dan Sebuah Gelar; https://pialadunia.tvrinews.com/read/pd_9u14vs7bxr/final-piala-dunia-1990-satu-titik-putih-dua-kartu-merah-dan-sebuah-gelar;
dikutip pada Kamis, 09 Juli 2026
Piala
Dunia Paling Bobrok, Membosankan dan Beringas; https://www.bola.net/liga_primer_indonesia/piala-dunia-paling-bobrok-membosankan-dan-beringas.html;
dikutip pada Kamis, 09 Juli 2026