Tiga Akhlak Terbaik Penduduk Dunia dan Akhirat

Nabi Yusuf ketika masih bocah dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Ia kemudian diselamatkan oleh musafir yang kebetulan lewat di sumur itu, lalu dibawa ke kota untuk dijual. Yusuf dijual dengan harga murah karena mereka tidak tertarik kepada Yusuf. (int)

 

-----

PEDOMAN KARYA

Senin, 06 Juli 2026

 

Tiga Akhlak Terbaik Penduduk Dunia dan Akhirat

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

 

Ada seorang sahabat bernama Uqbah bin Amir al-Juhani. Ia adalah seorang sahabat Rasulullah dan pernah menjabat Gubernur Mesir pada tahun 665–667 pada masa Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan.

Uqbah bin Amir seorang penyair dan juga pernah menulis Al-Qur’an yang berbeda dengan versi yang dibuat Khalifah Utsman bin 'Affan (berkuasa 644–656).

Uqbah bin Amir menceritakan bahwa suatu hari ia bertemu Rasulullah Shallallahu Aalaihi Wasallam (SAW).

Uqbah mengatakan, “Aku segera menghampiri dan memegang tangannya dan beliau segera menghampiriku dan memegang tanganku. Beliau mengatakan: Yaa ‘Uqbah, alaa ukhbiruka bi-afḍali akhlaaqi ahli-d-dun yaa wa-l-aakhirah? Wahai Uqbah, maukah kamu aku beritahu akhlak paling utama penduduk dunia dan penduduk akhirat?

Uqbah menjawab: “Bala ya Rasulullah. Tentu ya Rasulullah.”

Rasulullah bersabda: “Taṣilu man qaṭa‘aka, wa-tu‘ṭii man ḥaramaka, wa-ta‘fuu ‘amman ẓalamaka”. (1) Sambungkan hubungan dengan orang yang memutus persaudaraan denganmu, (2) menyantuni orang yang pernah menolak memberimu, dan (3) memaafkan orang yang menzalimimu.”

Inilah tiga akhlak terbaik penduduk dunia dan penduduk akhirat. Akhlak pertama, menyambung silaturrahim dengan orang yang memutuskan silaturrahim, orang yang memutuskan persaudaraan.

Indikator orang yang memutus persaudaraan adalah berpaling muka ketika bertemu, bermuka masam ketika tidak bertemu, bersumpah memutuskan persaudaraan, tidak respons ketika disapa atau dihubungi via media gawai dan lain lain.

Maka saat kita berusaha memperkokoh tali silaturrahim, akan ada banyak manfaat yang bisa diperoleh, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain.

Namun demikian jika kita menjalin silaturrahim dengan keluarga, saudara, teman, rekan kerja, kenalan, tetangga yang sudah terjalin baik, adalah sesuatu yang normatif, tetapi jika kita menjalin silaturrahim dan mengunjungi orang yang memutuskan tali silaturrahim maka itu merupakan akhlak mulia dan kaya nilai.

Perselisihan dan persoalan setajam apa pun pasti akan hilang jika kita melapangkan dada dan ikhtiar dengan ikhlas untuk mengawali bersilaturrahim.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang menyambung silaturrahim itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturrahim ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. [Muttafaqun ‘alaihi]

Akhlak kedua, yaitu menyantuni orang yang pernah menolak memberimu, atau memberi terhadap orang yang kikir.

Bakhil atau kikir adalah di antara bentuk kemaksiatan hati yang besar dan dianggap merusak kehidupan manusia.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) memperingatkan: “Ada tiga hal yang dianggap dapat membinasakan kehidupan manusia, yaitu kekikiran (kebakhilan) yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan ketakjuban orang terhadap dirinya sendiri.”

Maka jika kita bersedekah, menyantuni, memberi hadiah, atau sekadar berbagi maka bukan saja bernilai pahala akan tetapi secara implisit ada nilai inspiratif dan edukasi bagi orang kikir agar mengubah sikapnya dan berusaha menjadi orang yang dermawan.

Oleh karena itu akhlak seperti ini yaitu memberi terhadap orang kikir adalah termasuk akhlak terbaik penghuni dunia dan akhirat.

Akhlak yang ketiga adalah memaafkan orang yang menganiayamu, memaafkan orang yang pernah menzalimimu.

Tentu tidak mudah. Tidak mudah memaafkan orang yang pernah menzalimi kita. Kita disakiti, kita dianiaya, apalagi kalau orang itu pernah ingin membunuh kita, dan di saat kita bisa membalas, kita bukan membalas perbuatan zalim mereka, tapi justru memaafkan mereka.

Memaafkan orang itu perbuatan mulia, bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa salah satu ciri orang bertaqwa adalah memaafkan orang lain.

Allah berfirman dalam QS 3, Ali Imran, ayat 133-134: “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

 

Kisah Nabi Yusuf

Nabi Yusuf ketika masih bocah dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Ia kemudian diselamatkan oleh musafir yang kebetulan lewat di sumur itu, lalu dibawa ke kota untuk dijual. Yusuf dijual dengan harga murah karena mereka tidak tertarik kepada Yusuf.

Orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik. Mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak.”

Setelah dewasa, nabi pernah difitnah berzina dengan majikannya dan kemudian dijebloskan ke dalam penjara, tetapi Allah menyelamatkannya dan mendapat kedudukan yang baik di kerajaan berkat kemampuannya mentakwilkan mimpi raja.

Saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk meminta makanan dari kerajaan karena terjadi musim paceklik. Yusuf mengenali saudara-saudaranya dan singkat cerita ia pun berkumpul kembali bersama ayah dan saudara-saudaranya.

Saudara-saudara Nabi Yusuf kemudian meminta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan di masa lampau dengan membuang Yusuf kecil ke dalam sumur.

Nabi Yusuf memaafkan saudara-saudaranya dan sama sekali tidak menyinggung perbuatan saudara-saudaranya itu kepadanya.

Nabi Yusuf berkata: “Sungguh, Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu (ayahnya) dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Nabi Yusuf malah menyebutkan bahwa setan telah merusak hubungannya dengan saudara-saudaranya dan bukan menyalahkan saudara-saudaranya.

Inilah akhlak mulia Nabi Yusuf. Beliau memaafkan saudara-saudaranya yang di masa lampau membuangnya ke dalam sumur.***


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama