PEDOMAN KARYA
Senin, 03 Agustus 2026
Do’a yang Terkabul
(Kisah Uwais
Al-Qarni)
Dari Usair bin Jabir, ia berkata,
‘Umar bin Al Khattab ketika didatangi oleh serombongan pasukan dari Yaman, ia
bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”
Sampai ‘Umar mendatangi ‘Uwais dan bertanya, “Benar engkau adalah Uwais bin
‘Amir?” Uwais menjawab, “Iya, benar.” Umar bertanya lagi, “Benar engkau dari
Murod, dari Qarn?” Uwais menjawab, “Iya.”
Umar bertanya lagi, “Benar engkau
dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham.”
Uwais menjawab, “Iya.”
Umar bertanya lagi, “Benar engkau
punya seorang ibu?”
Uwais menjawab, “Iya.”
Umar berkata, “Aku sendiri pernah
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang
seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia
berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian
sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat
berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan
diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah
supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”
Umar pun berkata, “Mintalah pada
Allah untuk mengampuniku.” Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan
pada Allah.
Umar pun bertanya pada Uwais,
“Engkau hendak ke mana?” Uwais menjawab, “Ke Kufah”.
Umar pun mengatakan pada Uwais,
“Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung jawab di negeri Kufah
supaya membantumu?”
Uwais menjawab, “Aku lebih suka
menjadi orang yang lemah (miskin).”
Tahun berikutnya, ada seseorang
dari kalangan terhormat dari mereka pergi berhaji dan ia bertemu ‘Umar. Umar
pun bertanya tentang Uwais. Orang yang terhormat tersebut menjawab, “Aku
tinggalkan Uwais dalam keadaan rumahnya miskin dan barang-barangnya sedikit.”
Umar pun mengatakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Nanti akan
datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari
Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit
kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan
sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan
diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah
supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”
Orang yang terhormat itu pun
mendatangi Uwais, ia pun meminta pada Uwais, “Mintalah ampunan pada Allah
untukku.”
Uwais menjawab, “Bukankah engkau
baru saja pulang dari safar yang baik (yaitu haji), mintalah ampunan pada Allah
untukku.”
Orang itu mengatakan pada Uwais,
“Bukankah engkau telah bertemu ‘Umar.”
Uwais menjawab, “Iya benar.” Uwais
pun memintakan ampunan pada Allah untuknya.
“Orang lain pun tahu akan
keistimewaan Uwais. Lantaran itu, ia mengasingkan diri menjauh dari manusia.”
(HR. Muslim)
Uwais al-Qarani (bahasa Arab: أويس القرني)
lahir 594 M dan (meninggal 657) M/ 37 H adalah seorang tabi'in yang hidup pada
zaman Nabi Muhammad tetapi tidak sempat bertemu Nabi. Berasal dari penduduk
Qarn, Bareq, Asir, wilayah Arab Saudi (sekarang) dekat perbatasan di Yaman. Ia
sangat rindu kepada Nabi Muhammad, tetapi lebih memilih untuk berbakti kepada
ibunya yang lumpuh
Uwais Al-Qarni sangat dihormati
karena sejarah kesalehannya, khususnya kesalehan dalam berbakti yang
legendaris, yang mendorong komunitas Muslim di era selanjutnya mengungkapkan
penghormatan mereka dalam berbagai cara karena Muhammad telah memberikan kabar
gembira tentang perilaku moral dan etikanya sebagai mu'min.[1] Dianugerahi
gelar "Khayr al-Tabi'in" atau Tabi'in terbaik oleh Muhammad sendiri
dalam rangkaian riwayat hadis yang dicatat oleh Shahih Muslim dan Kitab al-Wafi
bi'l-Wafayat dari Safadi.[2] Kerendahan hatinya karena tidak mencari ketenaran
dan kesalehannya dalam sejarah mendorong penyair Arab untuk menganugerahkannya
sebagai "Majhul an fi al Ardh,
Ma'rufin fi as-Samaa" yang
diterjemahkan sebagai "tidak dikenal di bumi (di antara manusia), tetapi
terkenal dan diakui di dunia langit (demi Allah dan Malaikat-Nya)".[1]
Di antara sekian banyak tokoh
teladan dalam sejarah Islam, ada satu nama yang mungkin tidak setenar Abu
Bakar, Umar, atau Ali, namun harum di langit karena keikhlasan dan bakti kepada
orang tuanya yang luar biasa. Dialah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang tak
pernah bertemu langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi
disebut secara khusus oleh beliau karena baktinya yang luar biasa kepada
ibunya.
Uwais hidup di Yaman. Ia bukan
orang kaya, bukan pejabat, bukan ulama besar yang dikenal banyak orang. Ia
hanyalah lelaki sederhana yang seluruh hidupnya diabdikan untuk merawat ibunya
yang sakit. Ketika keinginannya untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam begitu besar, sang ibu yang sudah tua renta dan sakit menahannya untuk
tidak pergi jauh. Uwais pun memilih tinggal dan berbakti. Ia tahu, keridaan
Allah ada pada keridaan seorang ibu.
penduduk Kufah mengutus beberapa utusan kepada
[Umar bin Khaththab], dan di antara mereka ada seseorang yang biasa mencela
Uwais. Maka Umar berkata: "Apakah di sini ada yang berasal dari Qaran.
Lalu orang itu menghadap Umar. Kemudian Umar berkata: 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Sesungguhnya akan datang
kepadamu seorang laki-laki dari Yaman yang biasa dipanggil dengan Uwais. Dia
tinggal di Yaman bersama Ibunya. Dahulu pada kulitnya ada penyakit belang
(berwarna putih). Lalu dia berdo'a kepada Allah, dan Allahpun menghilangkan
penyakit itu, kecuali tinggal sebesar uang dinar atau dirham saja. Barang siapa
di antara kalian yang menemuinya, maka mintalah kepadanya untuk memohonkan
ampun kepada Allah untuk kalian."
'Umar bin Al Khaththab] dia
berkata: Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Sebaik-baik tabi'in, adalah seorang laki-laki yang dibiasa
dipanggil Uwais, dia memiliki ibu, dan dulu dia memiliki penyakit belang ditubuhnya.
Carilah ia, dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk kalian.'
Uwais al-Qarni;
https://id.wikipedia.org/wiki/Uwais_al-Qarni
Kisah Uwais Al Qarni dan Baktinya
pada Orang Tua;
https://rumaysho.com/10538-kisah-uwais-al-qarni-dan-baktinya-pada-orang-tua.html
Bab Keutamaan Uwais Al Qarni
radhiallahu 'anhu; https://hadits.tazkia.ac.id/hadits/bab/2:1143
Menjadi Uwais Al-Qarni di Zaman
Modern; https://muslim.or.id/110411-menjadi-uwais-al-qarni-di-zaman-modern.html