Polisi Menganiaya Tahanan dan Berbohong

“Sewaktu keluarga pelaku menemui Pak Kanit, Pak Kanit bilang dia sudah tanda tangan dan menyuruh keluarga pelaku menemui penyidik. Setelah keluarga pelaku menemui penyidik, ternyata berkas surat penangguhan penahanan belum ditandatangani,” ungkap Daeng Tompo’. 

 

-----

PEDOMAN KARYA

Senin, 03 Agustus 2026

 

Obrolan Daeng Tompo’ dan Daeng Nappa’:

 

Polisi Menganiaya Tahanan dan Berbohong

 

“Bagaimana mi itu anaknya teman ta’ yang ditahan di Polsek?” tanya Daeng Nappa’ kepada Daeng Tompo’ saat ngopi malam di teras rumah Daeng Tompo’.

“Itumi juga,” kata Daeng Tompo’.

“Masih ditahan ki?” tanya Daeng Nappa’.

“Pak Kanit belum menandatangani surat penangguhanan penahanan tahanan, padahal sudah lebih mi sepuluh hari korban dan pelaku pencurian berdamai dan cabut laporan. Pelaku juga sudah mengganti semua uang ganti rugi kepada korban. Tidak adami masalah sebenarnya,” tutur Daeng Tompo’.

“Terus apa masalahnya sampai Pak Kanit belum tanda tangan?” tanya Daeng Nappa’.

“Sewaktu keluarga pelaku menemui Pak Kanit, Pak Kanit bilang dia sudah tanda tangan dan menyuruh keluarga pelaku menemui penyidik. Setelah keluarga pelaku menemui penyidik, ternyata berkas surat penangguhan penahanan belum ditandatangani,” ungkap Daeng Tompo’.

“Berarti Pak Polisi ini menganiaya tahanan secara psikis karena seharusnya tahanan sudah keluar dari tahanan tapi masih ditahan. Dia juga ternyata sudah berbohong kepada keluarga pelaku,” tukas Daeng Nappa’.

“Bukan cuma tahanan yang dianiaya, orang tua tahanan juga secara tidak langsung dianiaya, karena dia harus setiap hari datang ke Polsek membawa makanan untuk anaknya,” kata Daeng Tompo’.

“Teganya itu hatinya Pak Polisi,” ujar Daeng Nappa’.

“Itumi yang kubilang kemarin,” kata Daeng Tompo’.

“Apa yang kita’ bilang?” tanya Daeng Nappa’.

“Saya bilang sebenarnya kita selalu mau berbaik sangka kepada polisi, tapi selalu saja ada, katakanlah oknum polisi, yang merusak citra polisi, merusak citranya sendiri. Dia sudah menganiaya orang secara psikis, berbohong lagi,” kata Daeng Tompo’.

“Kasihannya itu Pak Polisi,” ujar Daeng Nappa’.

“Kenapaki’ kasihan ke Pak Polisi. Justru tahanan dan orangtuanya yang mau dikasihani, bukan polisinya,” kata Daeng Tompo’.

“Saya kasihan ke Pak Polisi, karena dia tidak sadar dengan kelakuannya menganiaya orang. Dia pasti akan membayar mahal kelakuannya itu, baik di dunia maupun di akhirat,” kata Daeng Nappa’.

“Mungkin dia tidak percaya kepada hari akhir, karena dia tidak takut berdosa, tidak takut kepada Allah,” timpal Daeng Tompo’.

“Kodong...” kata Daeng Nappa’ menggantung ucapannya. (asnawin)

 

Senin, 03 Agustus 2026

 

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama