-----
PEDOMAN KARYA
Senin, 03 Agustus 2026
Obrolan Daeng
Tompo’ dan Daeng Nappa’:
Polisi Menganiaya Tahanan
dan Berbohong
“Bagaimana mi itu anaknya teman ta’
yang ditahan di Polsek?” tanya Daeng Nappa’ kepada Daeng Tompo’ saat ngopi malam
di teras rumah Daeng Tompo’.
“Itumi juga,” kata Daeng Tompo’.
“Masih ditahan ki?” tanya Daeng
Nappa’.
“Pak Kanit belum menandatangani surat
penangguhanan penahanan tahanan, padahal sudah lebih mi sepuluh hari korban dan
pelaku pencurian berdamai dan cabut laporan. Pelaku juga sudah mengganti semua
uang ganti rugi kepada korban. Tidak adami masalah sebenarnya,” tutur Daeng
Tompo’.
“Terus apa masalahnya sampai Pak
Kanit belum tanda tangan?” tanya Daeng Nappa’.
“Sewaktu keluarga pelaku menemui
Pak Kanit, Pak Kanit bilang dia sudah tanda tangan dan menyuruh keluarga pelaku
menemui penyidik. Setelah keluarga pelaku menemui penyidik, ternyata berkas
surat penangguhan penahanan belum ditandatangani,” ungkap Daeng Tompo’.
“Berarti Pak Polisi ini menganiaya tahanan
secara psikis karena seharusnya tahanan sudah keluar dari tahanan tapi masih
ditahan. Dia juga ternyata sudah berbohong kepada keluarga pelaku,” tukas Daeng
Nappa’.
“Bukan cuma tahanan yang dianiaya,
orang tua tahanan juga secara tidak langsung dianiaya, karena dia harus setiap
hari datang ke Polsek membawa makanan untuk anaknya,” kata Daeng Tompo’.
“Teganya itu hatinya Pak Polisi,” ujar
Daeng Nappa’.
“Itumi yang kubilang kemarin,” kata
Daeng Tompo’.
“Apa yang kita’ bilang?” tanya Daeng
Nappa’.
“Saya bilang sebenarnya kita selalu
mau berbaik sangka kepada polisi, tapi selalu saja ada, katakanlah oknum
polisi, yang merusak citra polisi, merusak citranya sendiri. Dia sudah
menganiaya orang secara psikis, berbohong lagi,” kata Daeng Tompo’.
“Kasihannya itu Pak Polisi,” ujar
Daeng Nappa’.
“Kenapaki’ kasihan ke Pak Polisi.
Justru tahanan dan orangtuanya yang mau dikasihani, bukan polisinya,” kata
Daeng Tompo’.
“Saya kasihan ke Pak Polisi, karena
dia tidak sadar dengan kelakuannya menganiaya orang. Dia pasti akan membayar
mahal kelakuannya itu, baik di dunia maupun di akhirat,” kata Daeng Nappa’.
“Mungkin dia tidak percaya kepada
hari akhir, karena dia tidak takut berdosa, tidak takut kepada Allah,” timpal Daeng
Tompo’.
“Kodong...” kata Daeng Nappa’
menggantung ucapannya. (asnawin)
Senin, 03 Agustus 2026
