------
PEDOMAN KARYA
Jumat, 14 Agustus 2026
Kisah Nabi Muhammad SAW (37):
Muhammad Ditawari Jadi Raja
Penulis: Abdul
Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi
Tawaran Utbah bin
Rabi’ah
“Sesak dadaku melihat Muhammad
dan para pengikutnya!” teriak seorang pembesar Quraisy.
“Setiap hari mereka semakin
kuat!” geram yang lain.
“Semua gangguan dan siksaan
kita seolah tidak berpengaruh apa-apa. Sangat mengherankan!” gerutu yang lain
menggelengkan kepala.
Ketika suasana bertambah
panas, Utbah bin Rabi’ah berdiri. Semua orang memandangnya dan menunggu.
“Kalau jalan kekerasan tidak
membuahkan hasil, sudah saatnya kita mencoba cara lain,” kata Utbah bin
Rabi’ah.
Suaranya pelan dan tenang.
“Kalau kalian setuju, aku akan
bicara dengan Muhammad dan menawarkan beberapa hal menarik kepadanya. Apakah
kalian setuju?” tanya Utbah.
Setelah terdiam sejenak,
akhirnya orang orang Quraisy itu pun setuju.
“Coba laksanakan usulmu! Kami
bersedia memberi apa saja asal Muhammad mau bungkam!” kata mereka.
Utbah bin Rabi’ah pun menemui
Rasulullah.
“Anakku,” katanya lembut,
“Engkau adalah orang terhormat. Namun kini, engkau membawa soal besar sehingga
masyarakat kita tercerai-berai. Sekarang dengarlah, kami menawarkan kepadamu
beberapa hal, mungkin sebagiannya bisa engkau terima. Anakku, kalau yang engkau
inginkan adalah harta, kami siap mengumpulkan dan memberikan harta kami
sehingga engkau akan menjadi seorang paling kaya. Kalau engkau ingin kedudukan,
akan kami angkat engkau sebagai pemimpin kami sehingga kami tidak akan
mengambil keputusan tanpa persetujuanmu. Kalau engkau ingin menjadi raja, akan
kami nobatkan engkau menjadi raja kami. Jika engkau diserang penyakit yang
tidak dapat engkau sembuhkan sendiri, akan kami biayai pengobatannya dengan
harta kami sampai engkau sembuh.”
Rasulullah terdiam sejenak.
Utbah bin Rabi’ah merasa kata-katanya yang berbunga itu seolah menguap tanpa
jejak ke udara.
Surat Fushilat
Rasulullah lalu membaca
ayat-ayat Al Qur'an Surat Fushilat mulai dari ayat pertama:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(1). حم
Haa Miim. (Haa Miim) hanya
Allah saja yang mengetahui arti dan maksudnya.
(2). تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ
الرَّحِيمِ
Diturunkan dari Tuhan Yang
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(3). كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ
قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Kitab yang dijelaskan
ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,
(4). بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ
أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
yang membawa berita gembira
dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya);
maka mereka tidak (mau) mendengarkan.
(5). وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ
مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ
فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ
Mereka berkata: “Hati kami
berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di
telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada dinding, maka
lakukanlah (sesuai kehendak kamu); sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak
kami).”
Rasulullah terus membacakan
ayat-ayat lanjutannya yang menuturkan tentang Rasulullah hanyalah seorang
pemberi peringatan, tentang gunung-gunung yang kokoh, tentang penciptaan langit
dan tujuh lapisannya, tentang azab petir yang menimpa kaum Tsamud, tentang
ngerinya nasib kaum kafir yang menolak wahyu dari Allah.
Ayat-ayat itu begitu memesona
Utbah sampai ia lupa pada apa yang ia tawarkan kepada Rasulullah. Hatinya
semakin hanyut, larut, dan...
“Cukuplah Muhammad. Cukuplah
sekian saja!” seru Utbah.
Ia diam sejenak, lalu kemudian
bertanya lagi, “Apakah engkau dapat menjawab selain yang tadi engkau baca?”
“Tidak,” kata Rasulullah.
Utbah terpana.
“Jadi, inilah Muhammad,”
pikirnya.
Dalam hati ia mengatakan,
“Laki laki ini bukanlah orang yang ingin memiliki gunungan harta, kedudukan,
kerajaan, dan sama sekali bukan orang sakit. Ia hanyalah orang yang ingin
mempertahankan tugasnya dengan baik sekali dan ia tadi mengucapkan kata-kata penuh
mukjizat...”
Begitulah, akhirnya Utbah bin
Rabi'ah kembali dengan tangan hampa. Para pembesar Quraisy pun kecewa karena
Rasulullah menolak tawaran mereka. Kemudian, penganiayaan dan siksaan terhadap
kaum Muslimin pun berlanjut dan semakin ganas. (bersambung)
