![]() |
| “Beraninya engkau mencaci maki Muhammad, padahal aku telah memeluk agamanya? Coba lakukan penghinaanmu kepadaku jika engkau benar-benar jantan!” |
------
PEDOMAN KARYA
Kamis, 09 Juli 2026
Kisah Nabi Muhammad SAW (36):
Hamzah Masuk Islam
dan Menantang Abu Jahal
Penulis: Abdul
Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi
Orang-orang terus menertawakan
Rasulullah setiap kali lewat. “Pembohong besar!”, “Orang gila!”, “Tukang
sihir!”. Abu Jahal terus menyemangati orang-orang yang mengejek sambil kerap
kali melontarkan caci maki juga.
Rasulullah mendadak berhenti
melangkah. Beliau berpaling dengan tenang menghadap Abu Jahal, dengan sorot
matanya tajam. Abu Jahal berhenti dan terdiam. Dengan wajah sayu penuh belas
kasihan, Rasulullah memandang orang-orang kecil yang mengejeknya.
Seketika, sorak-sorai pun
mereda. Semua orang yang berada di sekitar tempat itu terpesona melihat keadaan
Rasulullah. Baru kali ini mereka seolah disadarkan, betapa menyakitkannya
ejekan mereka itu diterima Rasulullah.
Sorot mata Rasulullah seolah
berkata, “Mengapa kalian mengejekku? Bukankah aku sedang berjuang menyelamatkan
kalian dari kekejaman bangsa Quraisy dengan membawa Islam yang mulia?
Seandainya kalian tahu, ejekan Abu Jahal itu tidak begitu menyakitkan dibanding
kata-kata kalian, sebab kepada kalianlah Allah menyuruhku menebar kasih
sayang.”
Tanpa sepatah kata pun,
Rasulullah berlalu. Orang-orang bubar dengan membawa perasaan masing-masing.
Tatapan Rasulullah tadi sangat berkesan di hati seorang budak perempuan. Ketika
budak itu berjalan pulang, ia melihat Hamzah bin Abdul Muthalib datang.
Hamzah adalah paman Nabi, usia
mereka hampir sebaya. Dari kecil, Rasulullah dan Hamzah dibesarkan bersama,
bermain bersama, dan menjadi sahabat karib. Karena itulah Hamzah begitu
menyayangi Rasulullah.
Hamzah berjalan gagah dan
bangga memasuki Mekah. Ia betul-betul laki-laki perkasa dengan perawakan tinggi
dan kekar. Dengan wajah angkuh, Hamzah melangkah sambil menyandang busurnya. Ia
habis berburu.
Orang-orang yang melihatnya
pun berbisik kagum. Namun, budak perempuan tadi merasa ada yang janggal,
mengapa orang segagah ini tidak membela Muhammad, keponakannya sendiri?
Mengapa ia bisa setenang itu?
Tahukah ia bahwa Muhammad keponakannya, dicaci maki orang? Muhammad dihina
pemimpin kabilah lain yang menjadi saingan Bani Hasyim!
Pantaskah ia disebut sebagai
pemuda perkasa yang pantang menyerah pada lawan, sedangkan ia tidak berbuat apa
pun ketika seorang keluarga Bani Hasyim dicaci maki orang?
Dengan dada hampir meluap,
budak perempuan itu menegur Hamzah, “Tuan, tidak tahukah Anda apa yang menimpa
kemenakanmu itu?”
Hamzah berhenti dan budak
perempuan itu menceritakan apa yang dilihatnya. Dalam sekejap saja, wajah
Hamzah memerah. Tanpa berkata apa pun, ia berbalik menuju Ka’bah dengan langkah
bergegas. Ia mencari Abu Jahal.
Kebimbangan Hamzah
Di depan Ka’bah, Abu Jahal
bercerita kepada beberapa temannya, “Puas rasanya melihat Muhammad dicaci
begitu banyak orang”, ujar Abu Jahal, “Kalau kuberi semangat sedikit lagi,
bukan tidak mungkin mereka akan memukulinya.”
Teman-temannya terlihat ikut
bersemangat. Beberapa orang mulai ikut bicara, tetapi mendadak semuanya terdiam
dan memandang ke satu arah. Abu Jahal ikut menoleh dan seketika kerongkongannya
tercekat. Hamzah bin Abdul Muthalib, sang pahlawan Bani Hasyim, menjulang di
belakangnya dengan mata menyala tanpa ampun.
“Beraninya engkau mencaci maki
Muhammad, padahal aku telah memeluk agamanya? Coba lakukan penghinaanmu
kepadaku jika engkau benar-benar jantan!”
Setelah berkata begitu, Hamzah
melayangkan anak panahnya. Bunyinya mendecit, cepat, dan keras sehingga kepala
Abu Jahal pun terluka.
Beberapa teman Abu Jahal
serempak berdiri. Tampaknya, perkelahian tidak terhindarkan lagi. Ketika Abu
Jahal melihat ini, ia mengangkat tangan untuk mencegah teman-temannya. Abu
Jahal yakin, dalam keadaan seperti itu, Hamzah tidak akan ragu-ragu membunuh orang.
Dengan napas tersengal, Abu
Jahal memegangi kepalanya. Ia berkata sambil menahan marah, “Kita tinggalkan
saja dia! Aku memang telah mencaci maki kemenakannya.”
Mereka pun pergi dengan geram
dan murung. Namun, hati Hamzah belum lagi lega. Ia pulang dengan bimbang,
“Mengapa begitu mudah kutinggalkan agama nenek moyangku?”
Setelah melewati malam yang
gelisah, Hamzah akhirnya berdoa, “Ya Tuhan, jika Muhammad benar, teguhkanlah
hatiku. Jika Muhammad salah, jauhkanlah aku darinya!”
Hamzah menemui Rasulullah
dengan sedih dan menceritakan semua kegelisahan hatinya. Rasulullah lalu
membacakan beberapa ayat Al-Qur’an.
Perlahan, hati Hamzah dipenuhi
rasa tenang, haru, dan kagum. Dengan bulat hati, ia pun berkata, “Aku
menyaksikan bahwa engkau itu sungguh benar, maka itu tampakkanlah agamamu, hai
anak saudaraku!”
Bukan main bersyukurnya
Rasulullah. Kini, Islam telah memiliki benteng yang kuat dalam menghadapi
kekerasan Quraisy. Hamzah memeluk Islam pada akhir tahun ke enam kenabian
(nubuwwah).
Orang-orang Quraisy tidak
putus asa, Mereka mempunyai cara lain untuk menekan perjuangan Rasulullah.
Singa Allah dan
Singa Rasul-Nya
Kemudian seluruh kegagahan Hamzah dibaktikannya untuk membela Allah dan agama-Nya, sehingga Rasulullah memberi Hamzah julukan istimewa, Singa Allah dan Singa Rasulullah. Hamzah adalah komandan Sariyah yang pertama. Sariyah adalah pasukan Muslim yang berangkat tanpa disertai Rasulullah. (bersambung)
......
Kisah Nabi Muhammad SAW (35): Abu Jahal Ketakutan Saat Hendak Membunuh Rasulullah
.....
Kisah Nabi Muhammad SAW (1): Jazirah Arab dan Penduduk Asli Suku Badui
