Kamis, 13 Agustus 2026
SLBN 1 Makassar
Gelar Lomba 17-an Bagi Anak Tunanetra,
Tunagrahita, Tunadaksa
GOWA, (PEDOMAN
KARYA).
Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Kota Makassar menggelar berbagai lomba 17-an
bagi anak tunanetra, tunagrahita, dan tunadaksa dalam rangka Peringatan HUT ke-81
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus 2026.
Lomba-lomba yang dihadirkan bukan
sekadar ajang adu cepat, melainkan media terapi dan pengembangan potensi diri,
yaitu Lomba Orientasi Mobilitas (Anak Tunanetra) dengan sasaran melatih
kepekaan indra, melangkah menembus kegelapan, serta membangun interaksi dan
kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitarnya.
Lomba Pengembangan Diri (Anak
Tunagrahita) dengan sasaran mMengasah keberanian, melatih kemandirian dalam
mengambil keputusan, serta menuntaskan tugas-tugas harian secara mandiri.
Lomba Kursi Roda Adaptif (Anak
Tunadaksa) dengan sasaran mengembangkan koordinasi motorik, ketangkasan gerak,
dan semangat pantang menyerah di atas roda perjuangan.
Plt. Kepala SLBN 1 Kota Makassar,
Dr. Muhammad Nur, mengatakan, setiap detail lomba—mulai dari aturan, peralatan,
hingga sistem penilaian telah disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan
spesifik para peserta didik.
“Perayaan tahun ini memiliki pesan
mendalam. Kami ingin memastikan setiap aktivitas bersifat edukatif dan
membangun karakter. Kemenangan bukanlah tujuan utama, melainkan kesempatan
untuk berpartisipasi, tampil, dan menemukan rasa percaya diri,” ujar Muhammad
Nur yang mantan Guru Penggerak.
Langkah inovatif ini mendapat
apresiasi penuh dari Ketua Komite SLBN 1 Makassar, Drs. Sederhana Ali. Ia
menilai perayaan kemerdekaan kali ini berhasil mengikis stigma bahwa perlombaan
peringatan kemerdekaan hanya sebatas hiburan instrumental.
Bagi siswa dengan autisme, down
syndrome, tunarungu, hingga disabilitas fisik lainnya, panggung ini adalah
ruang pengakuan bahwa mereka memiliki hak yang sama untuk berkembang dan
bersinar.
“Ini adalah gerakan kemanusiaan. Di
saat orang lain menganggap lomba Agustus sebagai hiburan semata, SLBN 1
Makassar menjadikannya sebagai sarana penguatan keterampilan hidup (life
skills). Di sinilah makna kemerdekaan sejati itu hidup: ketika setiap anak
diberi kesempatan yang sama untuk berdaya,” kata Sederhana Ali. (ita)
