Bukan Saya yang Mencambukmu, Kesalahanmu Sendirilah yang Mengayunkan Cambuk Itu

“Bukan saya yang mencambukmu nak. Kau yang mencambuk dirimu sendiri.” - Usman Lonta -  

 

------

PEDOMAN KARYA

Kamis, 15 Oktober 2026

 

Bukan Saya yang Mencambukmu, Kesalahanmu Sendirilah yang Mengayunkan Cambuk Itu

 

Oleh: Usman Lonta

(Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar)

 

“Bukan saya yang mencambukmu, kesalahanmu sendirilah yang mengayunkan cambuk itu.”

Untaian kata tersebut menjadi nasehat yang bersifat abadi dalam mengarungi perjalanan hidup saya sebagai seorang yang terlahir dari seorang guru mengaji kampung di sebuah desa di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Ceritanya begini. Semasa kecil dulu, saya pernah begitu larut bermain dengan teman-teman sampai melupakan satu tugas rutin yaitu mengambil rumput untuk pakan kambing di kebun. Bagi anak kecil, itu kelalaian sepele. Namun sore itu, ayah memberi sanksi tegas berupa cambukan tiga kali.

Saat itu saya tidak terima dan memprotes keras. Bagaimana mungkin keasyikan bermain diganjar hukuman seberat itu?

Dengan tenang, ayah menatap saya dan menyampaikan dua kalimat yang tidak pernah hilang dari ingatan saya.

Pertama: “Bukan saya yang mencambukmu nak. Kau yang mencambuk dirimu sendiri.”

Maksudnya, kesalahanmu sendirilah yang mengayunkan cambuk itu kepada dirimu.

Kedua: “Kesalahanmu fatal karena kau lalai dari tanggung jawab, dan kelalaian itu berimplikasi langsung pada teraniayanya binatang yang tidak berdaya.”

Pelajaran itu menampar saya jauh lebih keras dari pada rasa perih di kulit bekas cambukan. Rupanya orangtua saya tidak sedang melampiaskan amarah, melainkan menanamkan dua pendidikan moral yang sangat fundamental:

Pertama, hukuman dan kegagalan bukan diciptakan oleh orang lain untuk menjatuhkan kita. Setiap konsekuensi pahit lahir langsung dari pilihan dan kelalaian kita sendiri. Menghilangkan mentalitas korban dimulai dari keberanian mengakui sebab-akibat.

Kedua, etika terhadap pengharapan. Ukuran sejati integritas seseorang terlihat dari caranya memperlakukan mereka yang bergantung padanya, baik itu hewan ternak, bawahan di tempat kerja, masyarakat ketika kita menjadi pemimpin, maupun keluarga.

Lalai dari amanah bukan sekadar lupa tugas, melainkan bentuk penganiayaan moral terhadap pihak yang lemah, pihak yang bergantung, yang mempunyai pengharapan.

Meskipun dua pendidikan moral tersebut baru saya memahaminya setelah beranjak dewasa, bahkan lebih dalam lagi setelah saya mengarungi tanggung jawab sebagai dosen, dan Anggota DPRD Sulsel selama tiga periode.

Bekas cambukan fisik ayah saya sudah puluhan tahun lenyap, tetapi “cambuk kesadaran” itu tetap menjadi pengingat abadi dalam setiap keputusan dan kepemimpinan saya hingga hari ini.

Dari sini saya belajar bahwa karakter tidak dibentuk saat segalanya mudah, melainkan saat kita berani bertanggung jawab penuh atas apa yang diamanahkan kepada kita.

Terima kasih ayah yang telah berbaring di alam barzakh sejak 13 Oktober 1984. Teriring do’a allahummaghfirlii waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shagiraa.

 

Sungguminasa, 15 Oktober 2026

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama