Wisatawan Mancanegara Turut Ikuti Prosesi Annyorong Lopi di Bulukumba

Belasan wisatawan mancanegara, antara lain dari Kanada, Jepang, Prancis, Belgia, dan Elsalvador, turut mengikuti prosesi “Annyorong Lopi” atau peluncuran perahu, mendorong perahu pinisi dari tempat pembuatan perahu pinisi ke laut lepas), di bantilang Panrang Luhu, Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Jumat, 16 Oktober 2026. (Foto: Humas Pemkab Bulukumba)  

 

------

Sabtu, 17 Oktober 2026

 

Wisatawan Mancanegara Turut Ikuti Prosesi Annyorong Lopi di Bulukumba

 

BULUKUMBA, (PEDOMAN KARYA). Belasan wisatawan mancanegara, antara lain dari Kanada, Jepang, Prancis, Belgia, dan Elsalvador, turut mengikuti prosesi “Annyorong Lopi” atau peluncuran perahu, mendorong perahu pinisi dari tempat pembuatan perahu pinisi ke laut lepas), di bantilang Panrang Luhu, Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Jumat, 16 Oktober 2026.

Prosesi peluncuran kapal pinisi atau annyorong lopi itu menjadi salah satu daya tarik utama dalam rangkaian Festival Pinisi XVI Tahun 2026 di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Para wisatawan tampak antusias menyaksikan dan mendokumentasikan sekaligus ikut ambil bagian dalam prosesi annyorong lopi, tradisi mendorong kapal pinisi ke laut yang menjadi bagian penting dari perjalanan pembuatan kapal tradisional khas masyarakat Bulukumba.

Prosesi tersebut turut dihadiri Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf, Wakil Bupati Andi Edy, Manaf beserta Forkopimda, dan perwakilan Menteri Pariwisata.

Kehadiran wisatawan asing dalam prosesi ini menjadi gambaran bahwa tradisi pembuatan dan peluncuran pinisi memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan, sekaligus membuka ruang bagi pengenalan budaya maritim Bulukumba kepada dunia internasional.

Kapal pinisi yang diluncurkan tersebut memiliki ukuran panjang 25 meter, lebar 5 meter. Kapal ini dibangun melalui proses pengerjaan selama enam bulan, sejak Mei hingga Oktober 2026.

Pemilik bantilang sekaligus pemilik kapal pinisi, H. Ariawan, mengatakan kapal tersebut selanjutnya akan dibawa ke Labuan Bajo untuk menunjang kebutuhan wisata berlayar atau sailing dan diving.

“Kapal ini mau dibawa ke Labuan Bajo untuk keperluan wisata sailing,” ungkap H. Ariawan di bantilang Panrang Luhu Desa Bira, Jumat 16 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, pengerjaan kapal membutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga akhirnya rampung pada Oktober 2026.

“Proses pengerjaan kapal pinisi ini selama enam bulan, dari mulai bulan Mei hingga final pengerjaan bulan Oktober,” jelasnya.

Penyelesaian kapal dalam rentang waktu tersebut menunjukkan proses panjang yang dilalui para pengrajin, mulai dari pengerjaan hingga kapal siap diluncurkan dan digunakan sesuai peruntukannya.

Sementara itu, Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf menilai tradisi annyorong lopi merupakan bukti kebersamaan dan etos kerja masyarakat Bulukumba yang terus menjaga warisan budaya leluhur.

Menurutnya, pinisi menjadi simbol dari kekompakan, kerja sama, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

“Ini bukti kebersamaan dan etos kerja masyarakat Bulukumba. Pinisi sarat dengan kearifan lokal. Di sini menjadi bukti kekompakan,” ujarnya.

Sebelum peluncuran, budayawan Bulukumba Andi Abdul Karim yang akrab disapa Andhika Mappasomba memberikan story telling yang menceritakan lebih filosofis dari budaya annyorong Lopi yang sudah menjadi tradisi turun temurun pada masyarakat Bontobahari.

Dikatakan jika tradisi ini tidak dilestarikan, maka dikhawatirkan generasi muda dan generasi mendatang tidak lagi mengetahui makna dan filosofi dari tradisi tersebut.

Peluncuran tidak lagi secara manual dengan menarik kapal dengan tali tambang, tapi sudah menggunakan teknologi katrol untuk membantu menggerakkan kapal menuju tepian pantai.

Olehnya itu prosesi annyorong lopi menjadi salah satu momen yang memperlihatkan kuatnya hubungan antara tradisi, masyarakat, dan potensi pariwisata Bulukumba.

Di tengah antusiasme wisatawan mancanegara, peluncuran kapal pinisi juga mempertegas bahwa warisan budaya maritim tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui sektor pariwisata.

Dengan berlayarnya kapal tersebut menuju Labuan Bajo, keterampilan para pengrajin pinisi Bulukumba diharapkan semakin dikenal luas, sekaligus memperkuat posisi pinisi sebagai identitas budaya yang memiliki daya tarik hingga ke tingkat internasional. (dar)

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama