iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » Irman YL Ungkap Masalah-masalah Pendidikan di Sulsel


Pedoman Karya 7:24 PM 0


TALK SHOW. Irman Yasin Limpo tampil pada sesi acara Bincang-Bincang tentang Pendidikan yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Alumni IKIP – UNM, di Pelataran Lantai I Menara Pinisi Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM), Jl AP Pettarani, Makassar, Sabtu, 11 Maet 2017. (Foto: Humas Dinas Pendidikan Provsinsi Sulsel)




----------
Senin, 13 Maret 2017


Irman YL Ungkap Masalah-masalah Pendidikan di Sulsel


            MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Kadis Pendidikan Provinsi Sulsel, Irman Yasin Limpo, mengungkapkan masalah-masalah pendidikan di Sulawesi Selatan, khususnya pendidikan tingkat SMA dan sederajat lingkup Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dia mengatakan sekolah ke-58 yang ia kunjungi di Sulsel yaitu di Kabupaten Bantaeng. Dari kunjungan-kunjungan ke sejumlah sekolah tersebut, ia menemukan berbagai masalah yang dihadapi dunia pendidikan di Sulsel.
“Rasio guru dan murid sudah tidak seimbang. Ada kelas yang jumlah siswanya 50 orang. Ada juga guru yang meng-handle (menangani) dua tiga mata pelajaran. Saya bilang, ini bukan lagi guru tapi Superman,” papar Irman.
Hal itu dipaparkan saat tampil pada sesi acara Bincang-Bincang tentang Pendidikan yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Alumni IKIP – UNM, di Pelataran Lantai I Menara Pinisi Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM), Jl AP Pettarani, Makassar, Sabtu, 11 Maet 2017.
Bincang-bincang tentang Pendidikan yang dipandu Direktur Program Pascasarjana UNM, Prof Jasruddin, dihadiri Nurdin Halid (Plt Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel), Akbar Faisal, Samsu Niang, Azikin Solthan, Akmal Pasluddin (Anggota DPR RI), Rektor UNM Prof Husain Syam, serta belasan ribu alumni IKIP-UNM.
Irman mengungkapkan, peningkatan kualitas tidak merata pada seluruh guru di Sulsel, karena ada guru yang sering ikut pelatihan, tetapi ada pula yang hampir tidak pernah ikut pelatihan dan semacamnya.
“Ada guru yang sampai 15 kali ikut pelatihan dalam satu tahun, tetapi ada juga guru yang tidak pernah ikut pelatihan atau hanya satu kali ikut pelatihan dan itupun hanya Diklat Pra-jabatan,” ungkap Irman yang langsung disambut tawa oleh para hadirin.
Tentang kualitas guru, Kadis Pendidikan Provinsi Sulsel mengatakan nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) di Sulsel pada tahun 2015 rata-rata 55, tetapi setelah dilakukan pelatihan kepada belasan ribu guru, nilai UKG meningkat menjadi rata-rata 72,55 pada tahun 2016, atau di atas rata-rata nilai UKG nasional yang rata-rata 68.
Dari segi sarana dan prasarana, katanya, masih ada sekolah yang tidak punya pagar, bahkan di Tana Toraja, ada sekolah yang siswanya belajar di ruangan kelas yang dindingnya sudah roboh.
“Anak-anak belajar berdampingan dengan babi. Saya bilang, ikutkan saja nanti babi itu UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer), pasti nilainya baik karena setiap hari ikut belajar bersama siswa,” kata Irman sambil tersenyum dan lagi-lagi mengundang tawa dari para hadirin.
Masalah lain yang ditemukan yaitu ada sekolah yang sering mendapat bantuan, tapi ada pula sekolah yang jarang mendapat bantuan.
“Ada sekolah yang seperti hujan lebat bantuannya, tapi ada juga sekolah yang seperti mendapat tetesan hujan bantuannya,” kata Irman.

Bahasa Kearifan Lokal
  
Adik kandung Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulsel) juga mengungkapkan bahwa dirinya masih kerap menemukan guru yang menggunakan bahasa atau kata-kata yang sebenarnya kurang pantas digunakan pada proses belajar mengajar di sekolah.
“Masih ada guru yang menggunakan kata kau sambil menunjuk kepada para siswanya. Kenapa tidak pakai kata ananda dan kemudian menunjuk dengan jempol sambil empat jari yang lain dilipat,” ujar Irman.
Guru di daerah juga umumnya lebih memilih kata iya dibandingkan iye’, padahal para siswa di lingkungan keluarganya masing-masing terbiasa menggunakan kata iye’ merupakan kata yang sangat sopan yang muncul dari kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan.
“Penggunaan kata iye’ seperti tabu di kelas, sehingga terjadi standar ganda. Di sekolah, para siswa dibiasakan menggunakan kata iya, padahal di rumah masing-masing, mereka terbiasa menggunakan kata iye’,” kata pria yang juga kerap disapa dengan menggunakan nama kecilnya, None’.

Perumahan Guru

            Pada kesempatan tersebut, Irman Yasin Limpo selaku Kadis Pendidikan Provinsi Sulsel, juga mengungkapkan rencananya membangun perumahan guru dengan harga terjangkau, bahkan dapat dibayar dengan tanpa uang muka.
            Rencana lain yang diungkapkan yaitu akan mengusulkan perubahan istilah dari istilah “Guru Honorer” menjadi “Asisten Guru”. Perubahan itu ingin dilakukan karena para guru honorer (jumlahnya berkisar 4.000 di Sulawesi Selatan) mengalami kendala administrasi untuk peningkata kesejahteraan mereka. (win)


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply