iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » Dukungan Orangtua Tentukan Keberhasilan Anak di Sekolah


Pedoman Karya 8:33 PM 0



KONTRAK BELAJAR. Kepala Sekolah SDN Borong Makassar, Dra Hj Hendriati Sabir MPd, mengadakan pertemuan dengan puluhan orangtua murid baru (kelas satu) guna membahas tata tertib sekolah, di sekolahnya, Sabtu, 14 Juli 2018. (ist)







-------
Rabu, 18 Juli 2018


Dukungan Orangtua Tentukan Keberhasilan Anak di Sekolah


- Orangtua dan Guru SDN Borong Lakukan “Kontrak Belajar”


 MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Para orangtua diingatkan agar tidak sepenuhnya menyerahkan pendidikan anak-anak mereka kepada para guru di sekolah, karena perhatian, kepedulian, dan dukungan orangtua akan ikut menentukan dan sangat penting bagi keberhasilan anak dalam mengarungi masa belajar mereka, khususnya di Sekolah Dasar (SD) yang lamanya mencapai enam tahun.
Peringatan dan pendapat tersebut diungkapkan Kepala Sekolah SDN Borong Makassar, Dra Hj Hendriati Sabir MPd, dalam pertemuan dengan puluhan orangtua murid baru (kelas satu), di sekolahnya, Sabtu, 14 Juli 2018.
Bu Indri, sapaan akrab Hendriati, mengatakan, dirinya selaku kepala sekolah bersama para guru bantu mencoba membuat pendekatan baru dalam penerimaan murid dengan tidak menyodorkan begitu saja tata tertib sekolah.
“Kami mensosialisasikan dan mendiskusikannya secara partisipatip agar ada umpan balik, sehingga orangtua memberikan dukungan dalam proses belajar anaknya, termasuk untuk kegiatan ekstra kurikuler, pengembangan minat bakat, juga gerakan literasi yang tengah dikembangkan. Ini konsekuensi setelah kami mendeklarasikan sekolah ini sebagai Sekolah Ramah Anak pada tanggal 7 Juni 2018,” jelas Bu Indri.
Sosialisasi dan diskusi dengan para orangtua murid baru mengenai tata tertib sekolah tersebut, katanya, sekaligus merupakan “kontrak belajar” antara orangtua dengan guru dan kepala sekolah.
“Pertemuan hari ini bukan hanya untuk membangun kesepahaman, melainkan juga kesepakatan antara orangtua dengan pihak sekolah,” tegas Bu Hendriati Sabir di hadapan 64 orangtua yang anaknya baru saja diterima di kelas satu melalui proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online tahun ajaran 2018/2019.
Bu Indri kemudian membacakan poin demi poin tata tertib, setelah itu dibahas untuk mendapat respons dari para orangtua murid. Mulai dari jam masuk sekolah, ketentuan tentang seragam, dan aspek-aspek yang terkait dengan hak dan kewajiban murid. Menariknya, dalam tata tertib itu tidak ada sanksi yang spesifik. Hanya disebutkan mekanisme penjatuhan sanksi, dimulai dari teguran lisan hingga tertulis, yang semuanya didasarkan pada kepentingan terbaik anak.
“Kami berharap setiap ada masalah, segera dikomunikasikan dengan guru atau dengan saya. Kita cari solusinya bersama. Sepanjang kita berjalan pada koridor, pada jalur yang benar dan normative, maka saya tetap akan jalankan kebijakan sekolah,” kata Bu Indri, seraya menambahkan bahwa SDN Borong tengah mengembangkan konsep SIPAKATAU, yakni Sistem Penanganan Kasus Terpadu.
Saat Bu Indri member pennjelasan, tiba-tiba ada orangtua murid yang menyela dengan meminta agar tata tertib tersebut tidak perlu dibacakan tetapi langsung dibagikan kopiannya.
“Tata tertib itu tinggal difotokopikan lalu dibagikan, jauh lebih mudah,” kata Dg Mamilei, salah seorang orangtua murid yang mengaku lebih dari 30 tahun jadi guru.

Pernyataan itu kemudian ditanggapi oleh Rusdin Tompo, yang diundang hadir memberikan materi seputar Sekolah Ramah Anak dan perlindungan anak.
Rusdin Tompo yang dikenal sebagai aktivis perlindungan anak, mengatakan bahwa tata tertib itu kadang bisa punya tafsir berbeda. Bahkan tidak semua orangtua membaca tata tertib yang dibagikan. Kelak jika dijatuhi sanksi karena melakukan pelanggaran, barulah mereka bereaksi.
“Aspek partisipasi merupakan keniscayaan dalam penerapan Sekolah Ramah Anak. Jangankan partisipasi orangtua, bahkan partisipasi anak sangat diperhatikan. Begitu pun partisipasi kalangan pengusaha atau pihak-pihak lain yang memang diperlukan dalam memajukan sekolah dan dunia pendidikan,” beber Rusdin Tompo.
Ketua Komite Kompleks SDN Borong, Drs H Marzuki, menyarankan sebaiknya orangtua yang anaknya berada dalam satu rombongan belajar (Rombel) membuat grup WhatsApp (WA) supaya mudah berkomunikasi. Ditambahkan, orangtua perlu membentuk paguyuban supaya dapat secara bersama-sama memikirkan bentuk kontribusinya bagi sekolah.
SDN Borong tahun ajaran 2018 ini menerima murid baru sebanyak 64 orang atau dua kelas. Anak-anak itu mulai Senin 16 Juli 2018, menjalani masa orientasi sekolah selama tiga hari. Mereka diperkenalkan pada lingkungan sekolah, seperti ruang kelas, majalah dinding, teras pustaka, termasuk bagaimana mereka ikut merawat tanaman dan pemanfaatan toilet.
“Murid-murid kelas satu ini akan dibantu kakak-kakak kelasnya yang pernah ikut ToT Hak Partisipasi Anak. Ini model pendidikan teman sebaya yang coba kami terapkan,” jelas Bu Indri. (kul/r)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply