iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Pelajaran dari Ketegasan Gubernur DKI Jakarta


Pedoman Karya 11:43 PM 0


Ali Sadikin pernah memaki, menampar, bahkan melempar asbak rokok ke para staf yang tidak becus. Ia memberikan sanksi pada 14 PNS, dua di antaranya dipecat, karena bolos dan mangkir dari tugas. Di sisi lain, beliau telah mengangkat sekitar 6.000 orang pegawai lepas menjadi PNS untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.



------

PEDOMAN KARYA
Rabu, 08 Mei 2019


Biografi Sahban Liba (14):


Pelajaran dari Ketegasan Gubernur DKI Jakarta

Penulis: Hernita Sahban Liba


Tugas sipil menertibkan guru-guru Sekolah Dasar (SD) di seluruh Kota Jakarta dilaksanakan dengan baik oleh Sahban yang seorang marinir. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mengapresiasi selesainya tugas tersebut dan ia pun menyiapkan tugas berikutnya kepada Sahban.

Tugas baru itu ialah menjadi Kepala Keamanan dalam lingkungan Balaikota Pemerintah DKI Jakarta. Ia menjadi staf pribadi dari Ali Sadikin. Selama menjadi staf Ali Sadikin, Sahban beberapa kali berkunjung ke Istana Presiden.

Setiap pagi Sahban masuk kantor jam 6.30 WIB, dan Pak Ali Sadikin datang ke Kantor tepat jam 7.00 WIB dengan mobil Land Rover. Mobil Land Rover ini telah menjadi ikon beliau. Di belakangnya sering berlari anak-anak kecil sambil berteriak “Bang Ali, Bang Ali”. Hal ini menunjukkan kalau walaupun terkesan menyeramkan, Bang Ali justru dekat dengan rakyat. Dengan mobil ini, beliau berkeliling Jakarta, menyapa pedagang asongan dan menanyakan kartu identitasnya.

-----
Artikel terkait:

Ditugaskan Membantu Gubernur Ali Sadikin

--------

Suatu ketika Ali Sadikin mengajak Sahban jalan dengan mengendarai mobil Land Rover-nya. Di atas mobil, beliau memerintahkan supirnya menuju ke Tanjung Priok.

Di tengah Jalan Martadinata, tepatnya di depan Kantor Walikota Jakarta Utara, beliau memerintahkan supirnya agar berhenti. Ternyata beliau melihat di jalanan depan kantor Walikota ada sebuah lubang yang besar dan kalau tidak hati-hati motor dapat saja terjebak masuk ke dalam lubang tersebut.

Dengan walky talky beliau memerintahkan ajudannya memanggil Kepala PU Pemerintah DKI Jakarta. “Kepala PU segera datang ke Jalan Martadinata untuk menutup lubang yang ada di jalan raya depan kantor Walikota sekarang, dan akan saya cek nanti sore!” Demikian perintah Ali Sadikin kepada Kepala Dinas PU Jakarta.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Tanjung Priok. Di pintu pelabuhan ada seorang anggota Dinas Perhubungan Darat sedang mengatur keluar masuknya kendaraan dari dan ke pelabuhan. Beliau memanggil petugas tersebut yang bernama Pak Pangerapan, sesuai yang ada di label namanya di dada.

Beliau bertanya, “Kamu tugas dimana?”
“Saya tugas disini Pak Gubernur..” jawab Pak Pangerapan.
“Mana surat tugasmu?” tanya Gubernur Ali Sadikin lagi.

Pada saat ia menunjukkan surat tugasnya ternyata dia bertugas di Jakarta Selatan. Akhirnya Pak Gubernur langsung menelpon kepala DLLAJR agar memanggil anak buahnya tersebut dan menghukumnya. Besok paginya kepala DLLAJR memanggil Pak Pangerapan dan dihukum berdiri di bawah tiang bendera di depan Balaikota.

Masih banyak lagi ketegasan-ketegasan Bapak Gubernur Ali Sadikin selama Sahban berada di samping beliau. Beliau pernah menampar anggota TNI AL yang melanggar lalu lintas saat berpapasan dengan mobilnya di Jalan DI Panjaitan. Ia marah karena anggota tersebut seenaknya memakai jalan dan memalukan Korps Angkatan Laut.

Ali Sadikin pernah memaki, menampar, bahkan melempar asbak rokok ke para staf yang tidak becus. Ia memberikan sanksi pada 14 PNS, dua di antaranya dipecat, karena bolos dan mangkir dari tugas. Di sisi lain, beliau telah mengangkat sekitar 6.000 orang pegawai lepas menjadi PNS untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Sahban mendampingi Gubernur Ali Sadikin selama 7 tahun dari tahun 1970 sampai dengan 1977, saat beliau pensiun. Sahban mengucapkan syukur atas bimbingan beliau, terutama masalah disiplin, kejujuran, serta kesopanan dalam berbicara dengan rakyat yang datang menghadap di Kantor Pemerintah DKI Jakarta untuk mengurus keperluan masing-masing.

Sahban benar-benar banyak memetik pelajaran dari ketegasan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Setelah itu, Sahban meminta agar tetap dikaryakan di Pemda DKI Jakarta. Saat itu titelnya adalah Sahban Liba B.A. Sahban tidak ingin kembali ke kesatuan marinir Angkatan Laut karena melihat banyak mantan anak buahnya sudah memiliki pangkat lebih tinggi dari dirinya.

Dengan pertimbangan tersebut, permintaan Sahban dipenuhi dan Sahban terus bekerja di Pemda DKI Jakarta hingga pensiunnya pada tanggal 17 Agustus 1995. (bersambung)

Editor: Asnawin Aminuddin

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply