Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Bersabar, Tingkatkan Kesabaran, dan Bersiap-siagalah


Pedoman Karya 6:39 PM 0


Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetap bersiap-siagalah dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (QS Ali Imran/3: 200)

 



-------

PEDOMAN KARYA
Jumat, 07 Februari 2020


Al-Qur’an Menyapa Orang-orang Beriman (18):


Bersabar, Tingkatkan Kesabaran, dan Bersiap-siagalah


Oleh: Abdul Rakhim Nanda
(Wakil Rektor I Unismuh / Wakil Sekretaris Muhammadiyah Sulsel)


Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetap bersiap-siagalah dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (QS Ali Imran/3: 200)

Kali ini Allah SWT membimbing orang-orang beriman menapaki jalan menuju kemenangan, jalan yang bertingkat-tingkat namun harus ditapaki dengan cara yang paripurna (kebulatan tekad, keimanan, daya tahan yang kuat dan terus menerus hingga sampai terminal akhir yakni kemenangan).

Ada empat tingkatan perintah oleh Allah SWT untuk ditapaki dengan cara paripurna itu, yakni sabar, menguatkan kesabaran, senantiasa bersiap siaga dan bertaqwa. Inilah jalan menuju kemenangan.

Tingkat pertama adalah perintah untuk ‘bersabar’. Dalam uraian tentang sabar dan shalat pada surah Al-Baqarah ayat 153 (pada edisike-3), di dalamnya diberikan gambaran tentang karakter orang sabar yang dijumpai pada beberapa ayat.

Gambaran karakter mereka, yakni; kuat (QS Al Afal/8: 26), memiliki semangat yang berkobar (QS Al Anfal/8: 65), tahan uji (QS Muhammad/47: 31), lapang dada (QS An Nahl/16: 127), istiqamah dalam mencari keridhaan Allah (QS An Nahl/16 : 96), tenang, tidak bersusah-hati, memiliki kejernihan dan kegembiraan hati (QS Al Insan/76: 11).

Merenungi cara Allah menanamkan sejumlah karakter prima dalam diri manusia yang diikat dalam satu kata “sabar” ini, menggiring manusia kepada kesadaran betapa Allah benar-benar Maha Kasih dan Maha Sayang kepada hamba-hamba-Nya, Maha Adil kepada hamba-Nya.

Sebelum Allah SWT ‘melepaskan’ hamba-Nya ke medan “perjuangan hidup’ terlebih dahulu ditanamkan-Nya kekuatan “sabar’ sebagai bekal untuk menghadapi perjungan itu.

Setelah orang-orang beriman ini turun ke gelanggang medan laga, memahami makna kehidupan, menyadari arti penting perjuangan, maka terasalah betapa kesabaran ini menjadi unsur yang sangat menentukan untuk mendapatkan hasil dari perjuangan yakni kemenangan.

Tingkat kedua adalah perintah ‘menguatkan kesabaran’. Setelah hamba-hamba Allah SWT melihat, menjalani, dan memahami kehidupan, pahamlah mereka bahwa perjuangan ini haruslah suci.

Bagi orang-orang yang beriman, perjuangan utamanya bermuara pada menegakkan iman kepada Allah sebagai tujuan yang mulia. Semakin suci dan mulia tujuan perjuangan, maka semakin banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi, karena dalam kenyataan hidup ini, ada juga orang-orang yang bergerak berhadap-hadapan melawan kesucian dan kemuliaan itu.

Ada yang terang-terangan menolak mengimani Allah SWT yang disebut kafir, ada yang ucapannya mengakui tapi hatinya menolak yang disebut munafiq. Kedua-duanya ini adalah tantangan perjuangan dari luar.

Orang-orang kafir dan munafiq ini menyusun kekuatan yang kadarnya dapat setara dengan kasabaran yang digunakan oleh orang-orang beriman dalam perjuangannya. Maka, jika hanya dengan sabar saja, perjuangan ini belumlah dapat sampai kepada kemenangan.

Untuk itulah, Allah SWT meminta hamba-Nya untuk menguatkan kesabaran, artinya kekuatan mereka (yang boleh jadi mereka juga menyebutnya dengan sabar) harus dihadapi dengan kesabaran yang lebih besar lagi. Inilah makna ‘wa shabiru’ dalam ayat ini.

Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menuliskan satu uraian dari kata wa shabiru ini: “Ketika kesabaran dilawan dengan kesabaran, siapa yang lebih kuat kesabarannya dan lebih lama dapat bertahan dalam kesulitan, dialah yang akan memperoleh kemenangan”.

Sayyid Quthb dalam Fie Zhilalil Qur’an menyebutnya “mushaabarah” bentuk mufaa’alah (intensitas) dari kata shabar, yakni menguatkan kesabaran. Kesabaran harus diintensifkan dan harus dikuat-kuatkan, sehingga kaum mukminin tidak kehilangan kesabaran sepanjang perjuangannya.

Tingkat ketiga adalah perintah ‘bersiap-siaga’.Quraish Shihab dalam Al-Misbah menuliskan bahwa: kata wa raabitu dalam ayat ini bermakna bersabar dalam pembelaan Negara.

Sayyid Quthb dalam Fie Zhilalil Qur’an menyebut  dengan kata muraabathah yakni bersiap-siaga di tempat-tempat jihad dan di pos-pos penjagaan menghadapi serangan musuh.

Buya Hamka dalam Al-Azhar memberi makna kata wa raabitu dengan “mengokohkan kewaspadaan, memperkuat penjagaan, sehingga termasuk juga di dalamnya mengawasi batas-batas Darul Islam jangan sampai dimasuki oleh musuh dari Darul Kufur.

Di zaman kemajuan bangsa-bangsa saat ini, tentu saja yang dimaksud batas Negara tidak hanya menyangkut batas-batas teritorial, geografis, dan administratif, tetapi juga menyangkut batas-batas ideologis dan kedaulatan.

Karena itu, bagi orang-orang yang beriman, apapun profesi mereka, baik sipil ataupun aparat keamanan, bila masih punya iman, maka dia diperintahkan oleh Allah SWT untuk senantiasa waspada dalam menjaga ‘batas-batas’ negeri yang mencakup keseluruhan batas yang telah diutarakan tersebut.

Tingkat keempat adalah perintah ‘bertaqwa’. Perintah ber-taqwa dalam ayat ini menyertai tiga tingkatan perintah sebelumnya, yakni perintah bersabar (isbiruu), meningkatkan kesabaran (wa shabiruu), dan bersiap-siaga (wa rabithuu)’, bahkan taqwa ini menjadi kunci yang sebenarnya.

Taqwa ini menjadi penjaga yang senantiasa bangkit dalam nurani orang-orang yang beriman, yang menjaganya agar tidak lengah, tidak lemah, tidak menyeleweng (khiyanah), dan tidak menyimpang jalannya. Demikian disarikan dari uraian Sayyid Quthb dalam Fie Zhilalil Qur’an.

Quraih Shihab menekankan bahwa Allah SWT memerintahkan sabar dalam segala hal, menghadapi yang tidak disenangi maupun yang disenangi. Dengan kesabaran dan ketaqwaan akan turun bantuan Ilahi guna ‘menjadi kekuatan’ menghadapi segala macam tantangan itu.

Dinukil dari firman Allah SWT: ”Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jjika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan”. (QS Ali Imran/3: 120)

Bahkan Allah SWT memperkuat janji-Nya dengan firman-Nya: “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda”. (QS Ali Imran/3 :125)

Sikap sabar dan taqwa itulah yang dijanjikan oleh Allah SWT, tidak akan disia-siakan-Nya,  “… barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS Yusuf/12: 90)

Inilah nasehat yang merupakan syarat utama bagi kebahagiaan dan kejayaan setiap pribadi dan masyarakat. Wallahu a’lamu bissawab. (bersambung)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply