iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » » » Bahasa Indonesia Jurnalistik (3)


Pedoman Karya 4:31 AM 0


CIRI BAHASA JURNALISTIK. Kata-kata yang singkat, padat, sederhana, dan lugas itu adalah ciri bahasa jurnalistik. Selain singkat, padat, sederhana, dan lugas, masih ada lagi beberapa ciri bahasa jurnalistik, antara lain menarik, jelas, demokratis, dan logis.





---------
PEDOMAN KARYA
Kamis, 16 April 2020


Bahasa Indonesia Jurnalistik (3):


Singkat, Padat, Jelas, Sederhana, Lugas, dan Menarik


Oleh : Asnawin Aminuddin
(Wartawan / Pengajar)


Kata merupakan modal dasar dalam menulis. Semakin banyak kosakata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula gagasan yang sanggup diungkapkan.

Dalam penggunaan kata, ada dua persoalan yaitu ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Ketepatan mempersoalkan apakah pilihan kata yang dipakai sudah tepat, sehingga tidak menimbulkan interprestasi yang berlainan antara penulis dan pembaca.

Juga menyangkut kesesuaian pilihan kata, yang mempersoalkan pemakaian kata yang tidak merusak wacana. (TS Asmadi; 2006)

Dalam menulis kalimat, kita perlu memperhatikan pedoman tertentu agar pesan atau isi sampai ke saasaran (pembaca/pendengar) dengan tepat seperti yang kita inginkan. Ingat, kalimat yang panjang akan menimbulkan kebosanan dan menyulitkan pembaca untuk memahami isinya.

Karena itulah, wartawan disarankan menulis paling banyak 25 kata dalam satu kalimat, dan lebih baik jika kurang dari 20 kata dalam satu kalimat. Itulah sebabnya, wartawan kerap memenggal kalimat yang ditulisnya dengan menggunakan satu atau beberapa tanda baca koma (,).

Wartawan di ruang redaksi juga selalu diingatkan agar sedapat-mungkin menghindari penggunaan dua kata yang sama dalam satu kalimat.

Pemakaian bahasa jurnalistik lebih menekankan pada daya komunikatifnya, sehingga wartawan disarankan memakai kata-kata yang singkat, padat, sederhana, dan lugas.

Selain itu, wartawan juga perlu mengetahui bahwa bahasa jurnalistik itu berada di antara bahasa ilmu dan bahasa sastra. Bahasa ilmu biasanya penuh fakta, kering, dan tidak bergaya, sedangkan bahasa sastra biasanya imajinatif dan penuh gaya.

Di sisi lain, bahasa jurnalistik ditulis dengan mempertimbangkan ruang (bagi media cetak) dan waktu (bagi media elektronik). Karena itulah, unsur kehematan dan efektivitas sangat penting.

Agar bahasa jurnalistik benar-benar komunikatif, dalam arti informasi atau pesan yang disampaikan kepada pembaca atau pendengar tersampaikan dan dapat dipahami, serta mendapat umpan balik (minimal dalam bentuk manggut-manggut), maka wartawan harus benar-benar menggunakan kata-kata yang singkat, padat, sederhana, dan lugas.

Ciri Bahasa Jurnalistik

Kata-kata yang singkat, padat, sederhana, dan lugas itu adalah ciri bahasa jurnalistik. Selain singkat, padat, sederhana, dan lugas, masih ada lagi beberapa ciri bahasa jurnalistik, antara lain menarik, jelas, demokratis, dan logis.

Bahasa jurnalistik juga menghindari kata tutur, menghindari kata atau istilah asing, menghindari kata atau istilah teknis, serta mengutamakan kalimat aktif.

Singkat

Singkat berarti langsung kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga.

Ruangan atau kapling yang tersedia pada kolom-kolom halaman surat kabar, tabloid, atau majalah sangat terbatas, sementara isinya banyak dan beraneka ragam. Begitu pun durasi yang disediakan untuk pembacaan berita di media televisi dan radio siaran.

Pada berita tulis untuk media cetak, kadang-kadang dijumpai penggunaan kata yang sebenarnya mubazir, misalnya: “…. pada hari Kamis, 16 April 2020.”

Kata “..pada hari ....” dalam penggalan kalimat itu seharusnya dibuang saja, karena mubazir. Tanpa dua kata itu pun, maknanya tidak berubah, sehingga cukup ditulis; “... Kamis, 16 April 2020.”

Contoh lain, di dalam kalimat tertulis: “… melakukan pencurian….”. Dua kata dalam penggalan kalimat ini dapat disingkat menjadi, “...mencuri...”

Padat

Patmono SK, redaktur senior surat kabar Sinar Harapan, dalam buku “Teknik Jurnalislik” (1996: 45), mengatakan, padat dalam bahasa jurnalistik berarti sarat informasi.

Setiap  kalimat dan paragrap yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca. Ini berarti terdapat perbedaan yang tegas antara kalimat singkat dan kalimat padat.

Kalimat yang singkat tidak berarti memuat banyak informasi, sedangkan kalimat yang padat, kecuali singkat juga mengandung lebih banyak informasi.

Dalam kalimat yang padat, semua informasi yang diperlukan (5W dan 1H) sudah tertampung. Peristiwa apa, siapa yang terlibat dalam peristiwan dimana, kapan, latar belakang kejadiannya, dan bagaimana kejadiannya tergambar jelas.

Sederhana

Sederhana berarti selalu mengutamakan / memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak yang sangat heterogen, baik dilihat dari tingkat intelektualitasnya, maupun karakteristik demografis dan psikografisnya.

Jelas

Jelas berarti mudah ditangkap maksudnya, tidak baur dan kabur. Jelas di sini mengandung tiga arti, yakni jelas artinya, jelas susunan kata atau kalimatnya, serta jelas sasaran atau maksudnya.

Lugas

Lugas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingungkan khalayak pembaca, sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi.

Kata yang lugas selalu menekankan pada satu arti serta menghindari kemungkinan adanya penafsiran lain terhadap arti dan makna kata tersebut.

Menarik

Menarik artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tertidur, terjaga seketika.

Bahasa jurnalistik berpijak pada prinsip menarik, benar, dan baku, sedangkan bahasa ilmiah merujuk pada pedoman benar dan baku saja. Inilah yang menyebabkan karya-karya ilmiah lebih cepat melahirkan rasa kantuk ketika dibaca.

Wartawan harus mampu menulis berita yang menarik dan enak dibaca, agar tidak menimbulkan kebosanan dan sebaliknya memunculkan semangat dan rasa penasaran untuk dibaca hingga bagian akhir berita. (bersambung)


-------
Referensi:
Asmadi, TD, 2006, “Bahasa Jurnalistik” dalam Kumpulan Makalah “Membangun Kapasitas Media”, Dewan Pers
Sarwoko, Tri Adi, 2007, Inilah Bahasa Indonesia Jurnalistik, Andi Yogyakarta
Ciri Utama Bahasa Jurnalistik, Diposting oleh Kang arul, pada 31 Juli 2009, https://kangarul.wordpress.com/2009/07/31/ciri-utama-bahasa-jurnalistik/, dan dikutip pada 15 April 2020

--------
Artikel sebelumnya:

Bahasa Indonesia Jurnalistik (2) 

Bahasa Indonesia Jurnalistik (1) 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply