iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » » » Mengenal dan Mengenang RA Kartini (1)


Pedoman Karya 6:32 AM 0


BERSAMA SAUDARA. RA Kartini (paling kiri) foto bersama dua saudara perempuannya, Kardinah (tengah), dan Roekmini. (int)






-----


PEDOMAN KARYA
Jumat, 24 April 2020


Mengenal dan Mengenang RA Kartini (1)


Dipingit, Belajar di Rumah, Berkorespondesi dengan Orang Eropa



Oleh: Asnawin Aminuddin
(Wartawan / Pengajar)


Pahlawan Nasional dan simbol perjuangan wanita Indonesia, Raden Adjeng (RA) Kartini, ternyata rajin membaca koran (surat kabar) dan majalah. Wanita kelahiran Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879, juga rajin membaca buku.

Surat kabar, majalah, dan buku-buku yang dibacanya pun bukan sembarangan, karena hampir semuanya berbahasa Belanda, dan sebagian buku yang dibacanya tergolong “bacaan berat”, seperti “Max Havelaar”, “De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib)” karya Louis Coperus, serta buku karya Van Eeden yang bermutu tinggi.

Selain itu, Kartini juga membaca buku “Surat-Surat Cinta” karya Multatuli (yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali), “Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata)” karya Berta Von Suttner yang merupakan sebuah roman anti-perang, serta buku-buku karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, dan roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek.

Koran atau surat kabar yang dibacanya antara lain “Semarang De Locomotief” yang diasuh oleh Pieter Brooshooft. Kartini juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan).

Di antara majalah-majalah tersebut, terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat. Juga ada majalah wanita Belanda, “De Hollandsche Lelie”. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di majalah “De Hollandsche Lelie.”

Koran, majalah, dan buku-buku berbahasa Belanda tersebut dibacanya sebelum berusia 20 tahun. Itu menunjukkan, betapa hebat dan majunya seorang RA Kartini, yang pada saat bersamaan, wanita Indonesia pada umumnya belum mengenal tulis menulis, belum mengenal bangku sekolah, dan sebagian besar masih buta huruf. Kondisi itu pulalah yang membuat RA Kartini merasa prihatin.

Ia pandai membaca dan menulis, karena dirinya diperbolehkan belajar dan bersekolah sampai usia 12 tahun di ELS (Europese Lagere School). Di sekolah itu, Kartini antara lain belajar bahasa Belanda. Sayangnya, setelah usianya menginjak 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Sahabat Pena

Meskipun dipingit, Kartini tidak berputus asa. Ia tetap belajar sendiri di rumah. Ia tetap rajin membaca, bahkan ia kemudian menulis surat dan berkorespondensi menggunakan Bahasa Belanda dengan beberapa sahabat penanya yang tinggal di Negeri Belanda.

Salah satu sahabat penanya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Maka timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Dari surat-suratnya, tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, melainkan juga masalah-masalah sosial kemasyarakatan.

Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum, sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Dari Kegelapan Menuju Cahaya

Hal itu terungkap setelah Rosa Abendanon, yang tidak lain isteri dari Mr JH Abendanon (Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda), mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan RA Kartini pada teman-temannya di Eropa.

Kumpulan surat-surat RA Kartini dijadikan buku yang diberi judul “Door Duisternis tot Licht” (Dari Kegelapan Menuju Cahaya) dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1911. (bersambung)

-------
Sumber referensi:
- https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini, dikutip pada 24 April 2020
- http://www.biografipedia.com/2016/04/biografi-ra-kartini-wanita-indonesia.html

-------
Artikel berikutnya:

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply