![]() |
| AKLAMMANG. Prosesi aklammang ini merupakan wujud dari filosofi akbulo sibatang, yang menggambarkan persatuan, gotong royong, dan semangat bekerja sama. (Foto: Rusdin Tompo) |
------
PEDOMAN KARYA
Jumat, 08 Mei 2026
Pesta Adat Aklammang di Desa Lantang Takalar (2):
Filosofi Abbulo Sibatang dalam Pesta Adat
Aklammang di Takalar
Oleh: Rusdin Tompo
(Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
Pesta adat aklammang menggambarkan
kekayaan alam, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Desa Lantang.
Menurut situs Desa Lantang
(lantang.desa.id), desa ini berdiri sejak tahun 1988, merupakan pemekaran dari
Desa Moncongkomba. Sejarah desa mencatat, kala itu, desanya punya luas lebih
dari 17,22 km persegi, dengan penduduk sebanyak 2.023 jiwa.
Pada awal pemekaran, dusunnya terdiri atas
Dusun Toddosila, Dusun Kalumbangara, Dusun Lantang 1, Dusun Lantang 2, dan
Dusun Je’nemattallasa.
Dalam perkembangannya, di tahun 2002,
terbentuk dua dusun baru, yakni Dusun Bontomanai dan Bontoloe. Pada tahun 2016,
terbentuk lagi Dusun Lantang, dan di tahun 2019, terbentuk Dusun Kale Lantang.
Setelah bertambah menjadi 9 dusun,
tokoh-tokoh masyarakat setempat bersepakat untuk melakukan pemekaran desa.
Kini, desa dengan tradisi kuat itu sudah terbagi dua: Desa Lantang dan Desa
Kale Lantang.
Desa yang kami datangi ini adalah Desa
Lantang, terdiri atas Dusun Lantang 1, Dusun Lantang, Dusun Kalumbangara, Dusun
Borongunti, dan Dusun Toddosila. Luas Desa Lantang, saat ini, kurang lebih 9,12
km persegi, dengan penduduk sebanyak lebih dari 2.239 jiwa.
Saya ke sana pada Kamis, 30 April 2026.
Itu artinya, saya tidak menyaksikan prosesi aklammang sejak awal, yang dimulai
pada hari Rabu.
“Paling pertama dilakukan itu, ngerang
bungasa ke pinati, berupa beras 1 liter, 1 buah kelapa, dan 1 biji telur.
Terkadang juga dikasi uang Rp10 ribu, tetapi itu tidak wajib. Ini dibawa 1-2
hari sebelum hari H. Pada hari Rabu,” terang Daeng Ngerang.
Pinati adalah sebutan untuk tokoh adat,
yang memiliki peran penting dalam memimpin ritual, mengatur adat istiadat, dan
menjaga tradisi dalam komunitas tradisional, khususnya di Sulawesi Selatan.
Pinati aklammang di Desa Lantang adalah
Daeng Bau, yang khusus memimpin prosesi aklammang, sebab ada juga pinati untuk
prosesi adat lainnya.
Saya meminta ke Daeng Ngerang, apakah ia
bisa menunjukkan jenis pohon bambu yang digunakan? Ia lantas mengajak saya ke
belakang, melewati samping rumahnya, menuju rumpun bambu miliknya.
Jenis bambu yang dipakai membuat lammang
adalah bulo parring (bambu apus/tali), yang punya nama ilmiah Gigantochloa
apus.
Tumbuhan ini tumbuh subur di daerah
tropis. Biasanya digunakan untuk membuat bahan bangunan rumah, kerajinan
kurungan ayam, dan keperluan rumah tangga lainnya.
Daeng Ngerang lalu menunjuk batang-batang
bambu yang menjulang di depannya. Katanya, kalau mengambil bambu, ambil yang
usianya sudah 1 tahun.
Jangan terlalu tua, nanti pecah bambunya
saat pembakaran. Cirinya, bisa dilihat dari pucuk daun bambu yang mulai
mengering kecokelatan.
“Caranya potong bambu setelah ditebang,
ambil bagian bawah dari ruasnya, tetapi nanti dibalik saat mengisi songkolo,”
jelas Daeng Ngerang memberi petunjuk praktis.
Songkolo adalah sebutan untuk beras ketan
yang sudah dikukus. Beras ketan untuk lammang, bisa berupa ketan hitam ataupun
ketan putih.
Ayah dua anak yang pernah jadi manajer
koperasi di Makassar ini kemudian berbicara lebih serius. Disampaikan bahwa
prosesi aklammang ini merupakan wujud dari filosofi akbulo sibatang, yang
menggambarkan persatuan, gotong royong, dan semangat bekerja sama.
“Kitalah yang mesti terus merawat tradisi
ini secara bersama-sama. Kalau bukan kita sendiri sebagai orang Lantang yang
menjaganya, siapa lagi?” tandas Daeng Ngerang.
Cara Berbeda, Spirit Tetap Sama
Tiba waktu makan siang, kami diajak
menyantap menu yang disediakan tuan rumah. Kembali kami naik ke atas. Sayur
bening, ikan goreng, pallu cekla bolu, dan racak mangga, begitu mengundang
selera. Nasi hangat dari beras baru (ase beru) hasil sawah sendiri, bikin makan
siang kian lahap.
Sehabis makan, saya mengucapkan terima
kasih atas jamuan dan keramahan Daeng Ke'na dan Daeng Ngerang.
Kami lanjut bercerita. Sesekali mata saya
memperhatikan ibu-ibu yang sedang ammone lammang. Tahun ini, Daeng Kenna dan
Daeng Ngerang memasak 45 liter beras ketan hitam. Lebih sedikit dibanding tahun
lalu, yang mencapai 60 liter.
“Kalau masak 45 liter, bisa untuk 100
potong bambu, tergantung ukuran panjang dan lubang bambunya,” jelas Daeng
Kenna.
Beras ketannya dikukus di panci jawa
ukuran 10 liter, menggunakan kompor 1000 mata. Kompor berbahan bakar gas itu
ditaruh di bagian tengah rumah. Ruang ini juga berfungsi untuk menerima tamu.
Dahulu, tambah Daeng Kenna, beras mentah
yang dikasi masuk ke dalam bambu. Cara ini butuh waktu pembakaran lebih lama,
bisa 6-7 jam. Buluh bambu dipanggang hingga tampak hangus dan santannya
meleleh, karena mendidih.
Sekarang, mereka menggunakan cara sedikit
ringkas. Berasnya dikukus terlebih dahulu, lalu dimasukkan ke buluh bambu untuk
dipanggang. Cara ini hanya butuh waktu 4-5 jam. Memasak selama itu, bisa
menghabiskan 2 tabung gas 3 kg.
Kata Daeng Ngerang, dengan memasak beras
ketannya terlebih dahulu menggunakan kompor gas, bisa menghemat kayu bakar.
Saya perhatikan, saat ibu-ibu ammone
lammang, mereka membuat gulungan daun pisang menggunakan pelepah pisang. Lalu
perlahan memasukkannya ke dalam bilah bambu, sebagai wadah menaruh beras ketan
atau songkolonya.
Saya bertanya kepada Daeng Ngerang, “Apa
bedanya kakdok bulo dan lammang?”
“Kakdok bulo itu hasil masak dari lammang.
Kakdo dalam bahasa Makassar berarti nasi atau makan. Dilammang berarti dikasi
masuk ke dalam bambu. Jadi aklammang itu bisa berarti cara memasak. Selain
beras ketan, bisa juga memasukkan ikan atau ayam ke dalam bambu, dan namanya
aklammang,” papar Daeng Ngerang.
Saya manggut-manggut mendengar
penjelasannya.Kami pun bergeser, menuju tempat pembakaran lammang yang berada
di belakang rumah. Daeng Ngerang menyampaikan, tahun lalu tempat pembakarannya
di samping rumahnya.
Namun kali ini dipindahkan karena pohon
rambutan milik saudara istrinya sudah tumbuh besar. Halaman rumah mereka memang
tidak berbatas pagar, hanya berupa pohon sebagai penandanya.
Tempat pembakaran lammang ini dibuat
persegi empat dari patok-patok bambu, lalu dililitkan kawat berduri. Daeng
Ngerang memberi alasan, kawat berduri itu sebagai penahan, agar buluh bambu
lammang tidak roboh.
Daeng Ngerang menggunakan limbah kayu,
bekas tebangan pohon, sampah plastik, bahkan ban sepeda motor dan ban mobil
bekas untuk membuat apinya. Sebagai antisipasi, ia juga menaruh air di dekatnya
untuk menyiram manakala apinya membesar.
Ketika hari menjelang sore, saya dan istri
berjalan melihat-lihat warga setempat yang sibuk aklammang. Di teras-teras
rumah, tampak kelompok ibu-ibu memasukkan lammang ke dalam bilah bambu.
Setiap kali melihat ada pembakaran
lammang, kami singgah, berbincang sebentar dengan warga. Kami meminta izin
memotret dan memvideokan aktivitas mereka.
Saat melihat tempat pembakaran yang
bentuknya besar, kami pun kepo. Daeng Nai, 65 tahun, yang kami tanya, mengaku
memasak lammang sebanyak 100 liter, untuk 2 keluarga.
Banyak pula yang memasak lebih dari 100
liter. Namun rerata memasak lammang antara 50-100 liter.
Wadah pembakaran berbentuk segi empat, ada
yang dibuat permanen dari besi, yang bila diperlukan tinggal dipasang saja.
Terlihat kreativitas warga, baik berupa wadah pembakaran, sumber api, maupun
pilihan lokasinya.
Halaman depan, samping, atau belakang
rumah, semua dimanfaatkan untuk aklammang. Jangan heran bila melihat asap
mengepul di mana-mana, di antara rumah-rumah warga.
Dari interaksi dengan orang-orang yang
kami temui, banyak dari mereka yang berasal dari berbagai daerah.
Mereka antara lain datang dari Gowa,
Pangkep, Makassar, Bulukumba, Maros, bahkan Parepare. Mereka sengaja berkunjung
ke Lantang hanya untuk melihat pesta rakyat aklammang.
Saat tiba-tiba turun hujan deras, warga
sigap menutup tempat pembakaran lammangnya. Agar bilah-bilah bambu lammang
tidak basah terkena hujan, ada yang menutupnya dengan daun pisang yang disusun
di sekeliling tempat pembakaran.
Ada yang menutup dengan menggunakan atap
seng. Ada pula yang memakai terpal, yang biasa digunakan sebagai tenda pesta.
Hujan sore itu, baru reda menjelang
Magrib. Akibatnya, banyak warga yang membakar lammang hingga dini hari,
termasuk Daeng Ngerang. Lampu dari arah dapur, senter, dan sinar bulan purnama
jadi penerangnya.
Terdengar tetangga memutar lagu-lagu
penyanyi Ridwan Sau, sebagai hiburan menemani mereka aklammang.
Saya sempat memotret Daeng Ngerang ketika
membolak-balik kayu bakar untuk memastikan apinya terus menyala.
“Sudah begitu memang. Setiap kali aklammang ki’, selalu turun hujan. Kayu jadi basah semua. Na sessaki,” keluh Daeng Ngerang sambil senyum kecut. (bersambung)
.....
Tulisan Bagian 1: Pesta Adat Aklammang di Desa Lantang Takalar
