iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Larangan Mengambil Orang Kafir Menjadi Pemimpin


Pedoman Karya 11:47 PM 0


Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi auliya’ dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu). (QS An-Nisa/4: 144)




------
PEDOMAN KARYA
Minggu, 10 Mei 2020


Al-Qur’an Menyapa Orang-orang Beriman (27):


Larangan Mengambil Orang Kafir Menjadi Pemimpin


Oleh: Abdul Rakhim Nanda
(Wakil Rektor I Unismuh / Wakil Sekretaris Muhammadiyah Sulsel)


Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi auliya’ dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu). (QS An-Nisa/4: 144)

Dalam ayat ini, Allah SWT mengingatkan kepada orang-orang beriman dengan sapaan lembut-Nya. Sapaan dengan menyebut identitas keimanan yang menyadarkan bahwa di mata Allah SWT, mereka ini berbeda dengan orang kebanyakan yang belum punya identitas iman.

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi auliya’! Oleh Quraish Shihab, kata auliya’ dimaknai; ‘teman-teman akrab tempat menyimpan rahasia, pembela, dan pelindung’.

Ibnu Katsir memaknai kata auliya’ dengan;‘kawan dekat dan penasehat, serta tempat menyimpan rahasia’.

Sayyid Quthb  memaknai auliya’ sebagai; ‘wali, pelindung,kekasih dan kawan setia’, sedangkan Buya Hamka memaknai kata auliya’ dengan ‘pemimpin’.

Kalau makna-makna ini dirangkai ke dalam ayat tersebut, dapatlah dibangun suatu kalimat pernyataan bertingkat (superlatif) berikut ini: “Jangan kamu mengambil orang kafir sebagai teman-teman akrab tempat menyimpan rahasia, jangan pula jadikan mereka sebagai kawan setia, sebagai kekasih, sebagai pembela, sebagai pelindung, sebagai wali, apalagi sebagai pemimpin bagi kalian, jangan!, lalu kalian“meninggalkan orang-orang mu’min”.

Sayyid Quthb dalam tafsir Fie Zhilalil Qur’an memberikan keterangan terkait dengan kondisi orang-orang beriman di masa kepemimpinan Rasulullah di Madinah, bahwa seruan ini sangat diperlukan Islam pada masa itu.

Ketika itu, sebagian orang-orang beriman telah memutuskan secara total hubungan-hubungan terhadap kehidupan jahiliah walaupun terhadap orangtua, sanak-saudara dan anak-anak mereka dan benar-benar menjadikan aqidah saja sebagai unsur persatuan dan jalinan kekeluargaan sebagaimana yang diajarkan Allah SWT kepada mereka.

Namun masih ada di antara mereka yang menjalin hubungan dengan kaum Yahudi di Madinah dan juga hubungan kepada kerabat mereka dari kaum Quraisy. Mereka inilah yang masih memiliki kecenderungan menjadikan orang-orang kafir menjadi auliya’ bagi mereka.

Sebagian kaum mukminin itulah yang perlu diperingatkan bahwa jalan yang ditempuhnya itu adalah jalan nifak yang dijalani oleh kaum munafik. Demikian uraian Sayyid Quthb.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan tentang orang-orang munafik itu: “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS An-Nisa/4: 138-139)

Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah juga menegaskan bahwa ayat ini merupakan ancaman keras bagi -orang beriman yang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman akrab, tempat menyimpan rahasia.

Walaupun bukan berarti dilarang bergaul secara harmonis dan wajar atau bahkan memberi bantuan kemanusiaan kepada mereka.

Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar memberi makna lebih tegas terkait kepemimpinan, dengan uraiannya bahwa: “Jangan dipercayakan pimpinan kamu kepada orang yang tidak percaya Tuhan. Keingkaran mereka kepada Tuhan dan peratutan-peraturan-Nya akan menyebabkan rencana kepemimpinan mereka tidak tentu arah, kalau demikian niscaya kalian yang mereka pimpin akan celaka.

Kemudian Allah SWT menegur dengan firman-Nya dalam lanjutan ayat ini: “Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”atau menurut terjemahan Buya Hamka: “Apakah kamu ingin bahwa Allah menjadikan atas kamu sesuatu kekuasaan yang nyata?”

Oleh karena orang-orang beriman itu menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang kafir, tidak mengerti atau tidak mau mengerti tentang Islam, atau tidak berjiwa Islam, maka timbullah kekacauan dan kemunduran atau keruntuhan kaum muslimin itu sendiri.

Pada saat demikian maka AllahSWT akan memakai kekuasaan-Nya mendatangkan adzab dan siksa-Nya kepada kalian. Apakah kalian mau begitu? Demikian pertanyaan yang bernada ancaman dari Allah SWT.

Sayyid Quthb menyebutnya, sebuah pertanyaan yang sangat mengerikan bagi orang yang memahami. Karenanya, wahai orang-orang beriman!Janganlah kalian mengambil orang kafir menjadi pemimpin kalian dengan meninggalkan orang-orang mu’min. ***

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply