Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Kisah Bilal dan Abubakar


Asnawin Aminuddin 4:19 PM 0


Banyak budak yang segera memeluk agama Islam, meskipun mereka harus berhadapan dengan dua pilihan sulit, yaitu kembali menyembah berhala atau disiksa habis-habisan. Salah satu budak yang memeluk Islam yaitu Bilal bin Rabbah. Ia pun tak luput dari siksaan dan derita yang luar biasa. (int)







------
PEDOMAN KARYA
Sabtu, 05 September 2020


Kisah Bilal dan Abu Bakar



Pengikut Rasulullah Muhammad SAW pada awal-awal perjuangannya menyebar agama Islam, hanya isteri dan keluarga dekat, sahabatnya Abubakar, dan mereka yang berasal dari kalangan miskin dan lemah.

Mengapa banyak orang miskin dan lemah yang mengikuti Rasulullah, terutama pada budak? Itu karena ajaran Islam melarang penindasan.

Banyak budak yang segera memeluk agama Islam, meskipun mereka harus berhadapan dengan dua pilihan sulit, yaitu kembali menyembah berhala atau disiksa habis-habisan.

Salah satu budak yang memeluk Islam yaitu Bilal bin Rabbah. Ia pun tak luput dari siksaan dan derita yang luar biasa.

Bilah oleh majikannya Umayyah bin Khalaf Al Juhmi, disiksa dengan cara dibaringkan tubuhnya di atas pasir, dicambuk, kemudian bajunya dibuka dan badannya ditindis batu besar di siang bolong di bawah terik matahari.

"Budak jelek, engkau akan diperlakukan seperti ini hingga engkau mati atau engkau mengingkari Muhammad dan kembali menyembah Lata dan Uzza!".

Menghadapi ancaman itu, Bilal hanya berkata, "Ahad! Ahad!" ("Maha Esa Allah! Maha Esa Allah!")

Suara cambuk memerihkan telinga ketika Bilal disiksa, "Ahad! Ahad!"

"Letakkan batu besar di atas dadanya!" raung Umayyah.

Bilal merasa dadanya hampir remuk dan terasa sesak sekali, sehingga nyaris ia tidak dapat lagi bernapas atau pun bersuara, tetapi ia tetap melantunkan kalimat juangngya, "Ahad! Ahad! Ahad!"

Setelah melihat Umayyah menyiksa Bilal sedemikian kejam, para pemilik budak dan pembesar Quraisy yang lain ikut menyiksa para budak mereka yang ketahuan memeluk agama Islam. Beragam siksaan sangat kejam ditimpakan kepada para pemeluk Islam pertama itu.

"Hukuman apa yang harus kutimpakan kepada budak pembangkang ini, Tuan?" tanya algojo.

Sang tuan tersenyum sinis, "Cambuk dia sampai tanganmu tidak mampu lagi!"

Algojo melaksanakan tugasnya dengan patuh. Suara lecutan cambuk disertai erangan orang terdengar dari detik ke detik. Setiap lecutan membuat rasa sakit lebih perih dari lecutan sebelumnya. Sebagian orang yang kuat bertahan hingga pingsan. Sebagian yang lain gugur karena tidak kuat menahan derita.

Sabar, demikian sabda Rasulullah setiap kali para pengikutnya mengadukan penderitaan mereka. Saat itu memang tidak ada lagi yang dapat diperbuat selain sabar sampai mati. Sabar yang demikian membuat para pemeluk Islam pertama sanggup menanggung derita siksa di luar batas kemampuan fisik manusia.

Khabbab bin Al Arat pernah meminta agar Rasulullah berdo'a kepada Allah dalam menghadapi penindasan ini. Mendengar ini, Rasulullah duduk dengan wajah merah padam.

"Sungguh telah terjadi sebelum kamu, ada orang yang disisir badannya dengan sisir besi hingga dagingnya mengelupas dan terlihat tulang-tulangnya. Akan tetapi, ia tetap teguh memegang keyakinannya. Allah akan menyempurnakan urusan ini sampai seorang penunggang kuda berjalan dari Shan'a ke Hadramaut dan ia tidak takut kecuali kepada Allah. Ingatlah, serigala akan tetap ada di tengah-tengah gembalaan, hanya saja kalian lengah," kata Rasulullah.

Ditebus dengan Uang Emas

Melihat saudara-saudara baru mereka disiksa demikian kejam, Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan semua orang kaya yang beriman segera bertindak. Abu Bakar mendatangi Umayyah bin Khalaf yang sedang menyiksa Bilal.

"Bebaskan dia," pinta Abu Bakar.

"Tidak!" cibir Umayyah.

"Engkau dan temanmu telah meracuni pikirannya! Justru aku yang minta kamu menghentikan pengaruh jahatmu terhadap budakku ini!" kata Umayyah.

Abu Bakar merasa bahwa hati Umayyah tidak mungkin dibujuk lagi, maka dia segera mengajukan penawaran.

"Kubeli Bilal darimu! Lihat, ini lima uqiyah emas! Ambil uang itu, dan berikan Bilal kepadaku!" kata Abu Bakar.

Dengan seringai penuh kemenangan, Umayyah menyambar uang-uang emas itu.

"Wahai Abu Bakar! Andaikata engkau menawar satu uqiyah saja, sudah tentu aku menjualnya! Dia sudah tidak berharga lagi bagiku!" kata Umayyah sambil tertawa.

Wajah Abu Bakar memerah, bukan karena marah, melainkan karena dipenuhi rasa bahagia bisa menolong saudaranya yang tertindas.

"Jangankan hanya lima uqiyah, andaikan engkau menjual seratus uqiyah pun, aku akan tetap membelinya!" kata Abu Bakar.

Kini giliran wajah Umayyah yang memerah. Terbayang keuntungan yang akan didapatnya seandainya ia menawar lebih tinggi lagi.

Abu Bakar yang baik hati kemudian membebaskan Bilal. Tidak berhenti sampai di situ, beliau pun terus menggunakan hartanya untuk membebaskan lima kaum muslimin lain yang tengah disiksa. Budak terakhir yang dibebaskan adalah budak milik Umar bin Khattab.

Orang-orang Quraisy mengejek Abu Bakar.

"Alangkah sia-sianya Abu Bakar itu! Dia membuang-buang uang untuk membebaskan orang!" kata mereka.

Namun, semangat Abu Bakar justru membakar kaum muslimin lain untuk turut berusaha keras membebaskan saudara-saudara mereka.

----
Keterangan: Kisah ini sudah sangat mahsyur di kalangan muslim, dan kami memformulasi ulang kisah ini untuk pembaca sekalian. Redaksi: Asnawin Aminuddin)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply