Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » Cerpen: Akhirnya Dia Tumbang Juga (2)


Pedoman Karya 5:21 AM 1


Sebagai mantan pimpinan perusahaan, ia tentu saja bisa dengan mudah beradaptasi dengan banyak orang, termasuk dengan para driver ojek online. Selain itu, ia juga sangat disiplin, baik dari segi kendaraan, maupun dari segi pelayanan kepada para penumpang. (ist)

 
 

 

 

 

-------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 27 November 2020

 

CERPEN

 

 

Akhirnya Dia Tumbang Juga (2)

 

 

Karya: Asnawin Aminuddin

 

Puluhan tahun lalu, adik saya melamar bekerja pada sebuah perusahaan rokok. Surat lamaran yang dibuatnya sangat unik. Sangat berbeda dengan surat lamaran pekerjaan pada umumnya.

Surat lamarannya lebih mirip surat cinta. Selain karena menggunakan kertas surat cinta dan bukan kertas HVS sebagaimana lazimnya, isi suratnya juga menggunakan bahasa tutur. Sungguh tidak lazim.

Ironisnya, ia langsung diterima bekerja dan bahkan langsung ditempatkan pada level menengah, yakni manejer.

Entah karena perusahaan rokok itu memang butuh karyawan untuk posisi manejer, atau karena biodata adik saya yang cukup meyakinkan sebagai sarjana ekonomi lulusan salah satu perguruan tinggi negeri ternama di negara kita.

Maka ia pun bekerja di perusahaan rokok itu dengan menerima gaji lebih tinggi dari gaji pegawai negeri pada umumnya.

Ia hanya beberapa tahun bekerja di perusahaan rokok itu, dan setelah itu ia mengundurkan diri kemudian mendaftar bekerja pada sebuah perusahaan pembiayaan. Dan ia lagi-lagi langsung diterima.

Selama beberapa tahun bekerja pada perusahaan rokok itu, ia setiap tahun mendapat hadiah berupa jalan-jalan ke mancanegara, antara lain ke Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Ironisnya, adik saya bukan perokok dan ia sama sekali tak pernah merokok, termasuk saat bekerja selama beberapa tahun di perusahaan rokok itu.

“Saya tidak nyaman bekerja di perusahaan rokok, karena hati saya bertentangan,” katanya kepada saya saat akan mengajukan pengunduran dirinya.

“Jadi apa rencana selanjutnya?” tanya saya.

“Saya mau melamar ke perusahaan pembiayaan,” jawabnya.

Saat melamar bekerja di perusahaan pembiayaan itu, ia melampirkan pengalaman kerjanya di perusahaan sebelumnya, dan ia pun langsung diterima.

Hanya sekitar satu tahun bekerja di perusahaan pembiayaan itu, ia sudah langsung ditugaskan merintis pembukaan cabang perusahaan pada salah satu daerah.

Tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk membuka dan membesarkan perusahaan pembiayaan itu di daerah. Ia menjalin kemitraan dengan perusahaan lain seperti perusahaan penjualan kendaraan bermotor, dan juga kemitraan dengan kepolisian setempat.

Cabang perusahaan yang dipimpinnya berkembang cukup cepat dan eksis di tengah persaingan. Dan seperti pada perusahaan sebelumnya, perusahaannya yang sekarang pun setiap tahun memberinya hadiah jalan-jalan ke mancanegara, termasuk ke Hongkong.

Saat berada di puncak keberhasilannya membesarkan cabang perusahaan yang dipimpinnya, tiba-tiba ia mengundurkan diri.

“Saya mau mengundurkan diri,” katanya kepada saya.

“Kenapa?” tanya saya.

“Kayaknya pekerjaan saya ini tidak berkah. Saya mau pekerjaan yang berkah. Saya mau kerja mandiri,” jawabnya.

Maka ia pun mengundurkan diri. Saat mengundurkan diri, adik saya memiliki dua unit rumah, dan dua buah mobil pribadi, serta beberapa sepeda motor dan tabungan puluhan juta di bank.

Selama bekerja pada perusaan rokok dan perusahaan pembiayaan, adik saya ini termasuk paling sering membantu keluarga dan menyenangkan hati orangtua kami yang keduanya pensiunan PNS.

Saat bekerja mandiri, ternyata cobaan demi cobaan datang menerpanya. Ia akhirnya menjual salah satu rumahnya, namun cobaan masih terus menerpanya. Ia pun menjual rumahnya yang kedua, dan kemudian menetap di rumah orangtua kami di daerah, karena rumah orangtua kami sudah tidak ada yang menempati.

Ia bersama isterinya kemudian mencoba peruntungan dengan membuka usaha kuliner, sambil melakukan kerja serabutan lainnya. Namun cobaan masih terus menerpanya. Usahanya gagal, dan ia pun akhirnya memutuskan menjadi sopir ojek online (Ojol) di ibukota provinsi dengan menggunakan satu-satunya mobilnya yang tersisa. Karena tak punya rumah dan pindah ibukota provinsi, adik saya terpaksa pindah rumah dan menumpang di rumah mertuanya.

Sebagai mantan pimpinan perusahaan, ia tentu saja bisa dengan mudah beradaptasi dengan banyak orang, termasuk dengan para driver ojek online. Selain itu, ia juga sangat disiplin, baik dari segi kendaraan, maupun dari segi pelayanan kepada para penumpang.

Selama bekerja sebagai driver ojek online, adik saya juga semakin rajin beribadah, semakin sering shalat berjamaah lima waktu di masjid.

Penampilannya juga mengalami perubahan. Ia selalu memakai songkok, kerap memakai baju gamis, dan janggutnya pun dipanjangkan, sehingga penampilannya semakin Islami. Sangat berbeda dibandingkan saat ia masih menjabat pimpinan cabang perusahaan pembiyaan, yang selalu rapi dan tanpa janggut.

Dengan usia yang sudah memasuki setengah abad, wajar pula kalau ia dianggap sebagai kakak, atau orang tua dari teman-temannya sesama driver ojek online, sehingga wajar kalau ada yang memanggilnya kakak, ada yang memanggilnya Om, dan ada pula yang memanggilnya dengan sapaan ustadz. (bersambung)

-------

Akhirnya Dia Tumbang Juga (1)

Cerpen: Akhirnya Dia Tumbang Juga (3-habis) 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

1 comments Cerpen: Akhirnya Dia Tumbang Juga (2)

  1. Mantap sekali kisah kehidupanya..saya suka dengan sikap dan pendirian menghadapi hidup..

    ReplyDelete