Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » Gedung Sekolah Roboh, Murid-murid Belajar di Kolong Rumah Penduduk


Pedoman Karya 12:11 AM 0

SEPEDA KUMBANG. Yang juga tidak bisa dilupakan dan sekaligus menjadi kenangan manis bagi Aminuddin ketika mengajar di SD 10 Ela-ela, yaitu selama 13 tahun lamanya ia hanya naik sepeda kumbang pergi mengajar, padahal sebelum menikah ia adalah seorang remaja dan pemuda yang cukup “berada”, serta kemana-mana naik sepeda motor HYS 500cc.


 


------

PEDOMAN KARYA

Senin, 14 Maret 2022

 

In Memoriam Aminuddin Gudang (2):

 

Gedung Sekolah Roboh, Murid-murid Belajar di Kolong Rumah Penduduk

 


Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wartawan)

 

Pada 1 Desember 1960, Aminuddin dipindahkan ke Sekolah Rakyat (SR) 12 Kalumeme, Kecamatan Ujungbulu. Di sekolah yang kemudian berganti nama menjadi SD Negeri 10 Ela-ela ini, ia mengajar sebagai guru biasa selama 17 tahun.

Ada beberapa peristiwa tak terlupakan selama 17 tahun mengajar di sekolah itu, antara lain ketika terjadi angin ribut, gedung sekolah SR 12 Kalumeme roboh. Akibatnya, murid-muris terpaksa belajar di kolong rumah-rumah penduduk yang ada di sekitar sekolah.

Ketika itu, rumah penduduk umumnya masih berupa rumah panggung, yaitu rumah kayu yang tinggi dan rata-rata memiliki kolong setinggi antara satu setengah meter sampai dua setengah meter. Di kolong rumah penduduk itulah murid-murid SR 12 Kalumeme bersekolah sambil menunggu dibangunnya gedung sekolah baru.

Gedung sekolah baru yang dibangun pemerintah sebagai pengganti gedung yang roboh, hanya bersifat sementara yang berdinding papan dan berlantaikan tanah.

Waktu itu, juga masih ada sisa-sisa buku tulis yang terbuat dari batu pipih seukuran buku tulis berwarna hitam. Buku hitam itu hanya bisa ditulisi dengan kapur putih, sehingga tangan murid-murid sekolah umumnya kotor oleh kapur dan harus dicuci setiap “keluar main” (sebutan untuk jam istirahat), serta ketika usai jam pelajaran.

Saat masih mengajar di sekolah itu, SR 12 Kalumeme kemudian berubah menjadi SD Negeri 10, karena terjadi penciutan jumlah sekolah dan perubahan nama dari Sekolah Rakyat (Sekolah Rakyat) menjadi Sekolah Dasar (SD).

“Waktu itu juga sempat terjadi perpanjangan tahun ajaran, jadi anak-anak belajar selama satu setengah tahun,” ungkap Aminuddin.

 

Naik Sepeda Kumbang

 

Yang juga tidak bisa dilupakan dan sekaligus menjadi kenangan manis bagi Aminuddin ketika mengajar di SD 10 Ela-ela, yaitu selama 13 tahun lamanya ia hanya naik sepeda kumbang pergi mengajar, padahal sebelum menikah ia adalah seorang remaja dan pemuda yang cukup “berada”, serta kemana-mana naik sepeda motor HYS 500cc.

“Hanya dihitung jari ketika itu anak muda yang memiliki sepeda motor, apalagi HYS 500cc,” ungkapnya.

Ia kehilangan sepeda motornya pada tahun 1960, setelah terjadi situasi yang kurang bagus. Sebagai guru sekolah dasar, gajinya tergolong kecil, padahal ia sudah punya seorang isteri dan seorang anak.

Sepeda motor kesayangannya yang dibeli seharga Rp4.000,- (empat ribu rupiah) terpaksa dijual seharga Rp2.000,- (dua ribu rupiah), tetapi yang membeli adalah mertuanya sendiri, Malakaji Daeng Bali.

Aminuddin kemudian membeli sepeda kumbang sebagai kendaraannya sehari-hari, termasuk untuk pergi mengajar di sekolah. Sejak tahun 1960 sampai tahun 1973 atau selama 13 tahun, ia hanya naik sepeda pergi mengajar.

“Tapi saya tidak pernah terlambat ke sekolah, kecuali kalau saya sakit atau ada halangan yang tidak bisa saya hindari. Saya selalu datang paling pagi sebelum guru-guru lain datang dan pulang paling belakangan. Saya memang selalu berupaya disiplin,” tandasnya.

Tahun 1973, barulah ia bisa membeli sepeda motor, yaitu motor Suzuki 50cc seharga Rp50.000,- (lima puluh ribu rupiah). (bersambung)


-----

Artikel Bagian 1: In Memoriam Aminuddin Gudang: Jadi Guru SD Selama 41 Tahun

Artikel Bagian 3: Mendatangi Tokoh Masyarakat Setelah Terangkat Jadi Kepala Sekolah 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply