Kisah Pemimpin yang Minta Maaf kepada Rakyatnya


Umar segera pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum. Umar langsung mengangkut karung gandum tersebut di pundaknya. (int)



----
PEDOMAN KARYA
Ahad, 22 November 2020



Kisah Pemimpin yang Minta Maaf kepada Rakyatnya




Suatu sore, Khalifah Umar bin Khattab mengajak sahabatnya Aslam blusukan ke kampung terpencil di sekitar Madinah.

Di dekat sebuah gubuk reot, langkah Umar terhenti. Ia mendengar tangisan seorang gadis kecil.

Karena penasaran, Umar pun mengajak Aslam mendekati gubuk lusuh itu memastikan keberadaan penghuninya.

Khalifah Umar berpikir mungkin penghuni gubuk itu membutuhkan bantuan. Umar pun sampai.

Di dalam gubuk, seorang perempuan dewasa sedang duduk di depan perapian.

Perempuan itu terlihat sedang mengaduk-aduk bejana. Setelah mengucapkan salam, Umar meminta izin untuk mendekat.

Khalifah Umar bertanya, "Siapa yang menangis di dalam?"

"Anakku," jawab perempuan itu agak ketus

"Kenapa anak-anakmu menangis? Apa dia sakit?" tanya Umar.

"Tidak, mereka lapar," jawab perempuan itu.

Seketika Umar dan Aslam tertegun, sementara gadis di dalam gubuk masih saja menangis.

Dalam keadaan seperti itu, perempuan yang menjadi ibunya terus saja mengaduk bejana.

"Apa yang kau masak? Mengapa tidak juga matang masakanmu?" tanya Umar penasaran.

"Kau lihatlah sendiri!" jawab perempuan itu.

"Apakah kau memasak batu?" tanya Umar kaget.

"Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum," kata perempuan itu.

"Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan," ucap perempuan itu.

"Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya," lanjut perempuan itu.

Perempuan itu tidak tahu jika yang dihadapannya adalah Khalifah Umar. Mendengar semua itu, Aslam sempat hendak menegur tetapi dicegah oleh Umar.

Umar lantas menitikkan air mata. Ia segera bangkit lalu mengajak Aslam kembali ke Madinah.

Sampai di Madinah, Umar segera pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum. Umar langsung mengangkut karung gandum tersebut di pundaknya.

"Wahai amirul mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu," kata Aslam mencegah Umar.

Wajah Umar marah padam.

"Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau mau memikul beban di pundakku ini di Hari Pembalasan kelak?" kata Umar dengan nada tinggi.

Aslam tertunduk mendengar perkataan Khalifah Umar. Sembari terseok-seok, Khalifah Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke gubuk tempat tinggal perempuan itu.

Sesampai di sana, Umar meminta Aslam membantunya menyiapkan makanan. Umar sendiri yang memasak makanannya.

Setelah matang, Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan. Melihat mereka bisa makan, Umar pun merasa tenang.

Umar kemudian pamit. Ia meminta perempuan itu esoknya menemui Khalifah Umar di kediamannya.

"Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah amirul mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu," kata Umar sebelum pergi.

Keesokan harinya, perempuan itu pergi menemui khalifah. Dan alangkah terkejutnya ia, karena khalifah tersebut adalah pria yang kemarin telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya. 

"Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahimu dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum," kata perempuan itu.

"Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar. 

----

-- Kisah ini sudah sangat populer di kalangan umat Islam. Kami mengisahkannya kembali untuk pembaca sekalian. Mudah-mudahan bermanfaat. (Asnawin Aminuddin)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama