Takalar Fokus pada Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat Desa

WISATA KULINER PANTAI. Pemerintah Kabupaten Takalar kini fokus pada pengembangan pariwisata berbasis masyarakat desa. Dengan panjang pantai 73 kilometer dan memiliki pelabuhan pendaratan ikan yang menghasilkan produk unggulan kuliner ikan segar, pemerintah setempat ingin masyarakat desa terlibat di dalam pengembangan kewisataan. (Foto-foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)

-------

Jumat, 30 April 2021

 

 

Takalar Fokus pada Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat Desa

 


TAKALAR, (PEDOMAN KARYA). Pemerintah Kabupaten Takalar kini fokus pada pengembangan pariwisata berbasis masyarakat desa. Dengan panjang pantai 73 kilometer dan memiliki pelabuhan pendaratan ikan yang menghasilkan produk unggulan kuliner ikan segar, pemerintah setempat ingin masyarakat desa terlibat di dalam pengembangan kewisataan.

“Kami sekarang fokus pada pengembangan pariwisata berbasis masyarakat desa,” kata Bupati Takalar, Syamsari Kitta, pada acara “Weekly Press Briefing” yang dilakukan secara hybrid dari Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Jakarta, Senin, 12 April 2021.

Syamsari mengatakan, wisata kuliner ikan segar dan wisata pantai di Takalar mendapat limpahan berkah karena berbatasan langsung dengan Kota Makassar, Gowa, Jeneponto dan Maros.

“Kami membutuhkan peran-peran masyarakat di desa dalam pengelolaan dan pengembangannya, sehingga tercipta kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah,” kata Syamsari.

Selain pantai, kehadiran dua Proyek Strategis Nasional (PSN) di Takalar, khususnya Bendungan Pamukkulu, juga diyakini mampu memberikan kontribusi besar dan memiliki nilai jual pariwisata di Takalar ke depannya, sehingga akan memperkaya daerah dan desa wisata dan meningkatkan animo masyarakat untuk berwisata ke Takalar.

“Olehnya itu, kami membutuhkan bantuan dari Pak Menteri dan jajarannya untuk mengembangkan wisata berbasis masyarakat. Mendidik kami dan membangun budaya masyarakat agar ramah terhadap wisatawan, serta sejumlah proyek dalam pengembangan wisata kami, khususnya wisata pantai,” kata Syamsari.

Dalam pertemuan yang bertajuk 'kolaborAksi Menteri' regional II tersebut, juga turut menghadirkan tujuh kepala daerah dari Sulawesi Selatan, dan satu kepala daerah dari Sulawesi Tengah.

Pertemuan itu bertujuan sebagai wadah Menparekraf dalam menyerap aspirasi sejumlah kepala daerah terkait pengembangan sektor Parekraf atau pariwisata dan ekonomi kreatif.

Sesuai RPJMN 2020-2024, Kemenparekraf/Baparekraf menargetkan sebanyak 244 desa wisata tersertifikasi menjadi desa wisata mandiri hingga 2024. Dari 224 desa wisata, sebanyak 150 desa wisata berada pada lima destinasi super prioritas dan akan diperluas. (Hasdar Sikki)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama